BARANGKALI ANDA MEMBUTUHKAN :

JIKA MERASA KURANG LENGKAP SILAHKAN CARI

Senin, 22 April 2013

Gejala Klinis Kematian

Ketika manusia mati, pada dasarnya terjadi dua fase yaitu kematian somatis yaitu kematian sel-sel organ sehingga fungsi-fungsi jantung, pernafasan, pergerakan, dan aktivitas otak berhenti; dan kematian molekuler yaitu berlanjutnya kehancuran tubuh. Tanatologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari prubahan-perubahan pada tubuh seseorang yang telah meninggal.

Mati mempunyai 2 stadium :
  • Somatic death
  • Cellular death
Gejala Klinis Kematian dibagi dalam tiga tiga hal yang berubah pada mayat :
1. Argor mortis
2. Livor mortis
3. Rigor mortis

Argor mortis <> Penurunan suhu tubuh jenazah
Setelah seseorang meninggal maka produksi panas berhenti sedangkan pengeluaran panas berlangsung selama terus-menerus.Cara mengukur penurunan suhu tubuh jenazah adalah "thermo couple".Penurunan suhu jenazah dapat dipakai untuk memperkirakan saat kematian korban.

Livor mortis <> Lebam mayat.
Apabila seseorang meninggal,peredaran darahnya berhenti dan timbul stagnasi akibat gravitasi maka darah mencari tempat terendah.Dari luar terlihat bintik berwarna merah kebiruan.Inilah yang disebut Lebam mayat.
Pada umumnya lebam mayat sudah timbul dalam dalam waktu 15-20 menit setelah orang meninggal.Lebam mayat ini mirip dengan luka memar,oleh karena itu lebam mayat harus dibedakan dengan luka memar.

Lebam mayat
Lokasi di bagian tubuh terendah
Ditekan biasanya hilang
Pembengkakan tidak ada
Insisi ditemukan bintik-bintik darah intra vascular
Tanda intra vital tidak ada.

Luka memar
Lokasi sembarang tempat 
Ditekan tidak hilang
Pembengkakan sering ada
Insisi ditemukan bintik dara exrea vascular
Tanda intra vital : ada

Lokalisasi lebam mayat pada bagian tubuh yang rendah ,kecuali pada bagian tubuh yang tertekan dasar atau tertekan pakaian.Pada jenazah dengan posisi terlentang,lebam mayat ditemukan pada bagian kuduk,punggung,pantat dan bagian fleksor tungkai.Disamping itu kadang-kadang ditemukan juga lebam mayat pada bagian samping leher.Hal ini disebabkan oleh pengosongan yang tidak sempurna dari vena-vena superfisialis.Pada korban dengan posisi telungkup,lebam mayat ditemukan pada dahi,pipi,dagu,dada,perut dan bagian ekstensor tungkai.Kadang-kadang stagnasi darah sedemikian hebat sehingga pembuluh darah dalam lubang hidung pecah dan keluar darah dari hidung.Pada korban yang menggantung.lebam mayat terdapat pada ujung ekstremitas dan genitalia eksterna.

Empat jam setelah orang meninggal akan terjadi hemolisa sehingga pigmen darah keluar dan masuk ke jaringan sekitarnya.Akibatnya lebam mayat tidak akan hilang bila posisi jenazah diubah. Disamping ditemukan pada kulit,lebam mayat juga ditemukan pada bagian alat tubuh,seperti bagian belakang otak,bagian belakang paru,bagian belakang hati serta bagian belakang lambung.Keadaan ini perlu dibedakan dengan keadaan patologis seperti pneumonia atau lambung yang mengalami keracunan.

Umumnya lebam mayat berwarna merah kebiruan. Pada korban yang meninggal akibat keracunan gas CO dan keracunan HCN,lebam mayatnya berwarna cherry red.Pada korban yang meninggal karena keracunan nitro benzema atau potassium chlorat,maka lebam mayatnya berwarna chocolate brown. Pada korban yang meninggal akibat asfiksia,lebam mayatnya mendekati kebiruan. Pada jenazah yang disimpan dalam lemari pendingin,lebam mayatnya berwarna merah terang atau pink. Lebam mayat timbul cepat atau lambat bergantung pada volume darah yang beredar. Pada korban dengan perdarahan,timbulnya lebam mayat lebih lambat.Pada korban gagal jantung,lebam mayat lebih cepat timbul.

Rigor mortis <> Kaku mayat
Kaku mayat terjadi pada otot-otot bergaris maupun otot-otot polos. Rigor Mortis dapat dikenali dari adanya kekakuan yang terjadi secara bertahap sesuai dengan lamanya waktu pasca kematian hingga 24 jam setelahnya. Rigor Mortis terjadi akibat hilangnya ATP dari otot-otot tubuh manusia. ATP digunakan untuk memisahkan ikatan aktin dan myosin pada otot sehingga otot dapat berelaksasi, dan hanya akan beregenerasi bila proses metabolisme terjadi, sehingga bila seseorang mengalami kematian, proses metabolismenya akan berhenti dan suplai ATP tidak akan terbentuk, sehingga tubuh perlahan-lahan akan menjadi kaku seiring menipisnya jumlah ATP pada otot.

Rigor mortis dapat dibagi menjadi : 
  1. Cadaveric Spasmus, yaitu kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap sesudah kematian akibat hilangnya ATP lokal saat mati karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum mati.
  2. Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein karena panas sehingga serabut otot memendek dan terjadi flexi sendi. Misalnya pada mayat yang tersimpan dalam ruangan dengan pemanas ruangan dalam waktu yang lama.
  3. Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan yang dingin sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh dan pemadatan jaringan lemak pada lapisan subkutan sampai otot.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH

kemanGi

kemanGi
teRhalNg

Sahabat Blog