iklan

loading...

Sunday, February 17, 2013

ASKEP MORBILI

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Morbili merupakan penyakit endemis, terutama di negara sedang berkembang. Di Indonesia penyakit morbili sudah dikenal sejak lama. Di masa lampau morbili dianggap sebagai suatu hal yang harus di alami setiap anak, sehingga anak yang terkena campak tidak perlu diobati, mereka beranggapan bahwa penyakit morbili dapat sembuh sendiri bila ruam sudah keluar. Ada anggapan bahwa ruam yang keluar banyak semakin baik. Bahkan ada usaha dari masyarakat untuk mempercepat keluarnya ruam. Ada kepercayaan bahwa penyakit morbili akan berbahaya bila ruam tidak keluar pada kulit sebab ruam akan muncul didalam rongga tubuh lain seperti didalam tenggorokan, paru, perut, atau usus. Hal ini diyakini akan menyebabkan sesak nafas atau diare yang dapat menyebabkan kematian.

Di indonesia, menurut survei Kesehatan Rumah Tangga Morbili menduduki tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada bayi (0,7%) dan tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak umur 1-4 tahun (0,77%).

Bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu yang pernah menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif melalui plasenta samapi umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan berkurang sehingga bayi dapat menderita morbili. Bila ibu belum pernah menderita morbili maka bayi yang dilahirkan tidah mempunyai kekebalan terhadap morbili dan dapat menderita morbili setelah dilahirkan. Bila seorang wanita hamil menderita morbili ketika umur kehamilan 1 atau 2 bulan maka 50% kemungkinan akan mengalami keguguran. Bila menderita morbili pada trimester pertama ke 2 atau ke 3 maka kemungkinan bayi yang lahir menderita cacat atau bayi dengan berat lahir rendah atau kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum: Untuk mendapatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan dengan morbili dan mempraktekannya di dalam kehidupan sehari-hari.

2. Tujuan Khusus: Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan morbili, Penulis mampu:
a. Mengidentifikasi data yang menunjang masalah keperawatan pada morbili
b. Menentukan diagnosa keperawatan pada pasien dengan morbili
c. Menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan morbili
d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan morbili
e. Melaksanakan evaluasi keperawatan pada pasien dengan morbili

C. SISTEMATIKA PENULISAN


BAB I PENDAHULUAN meliputi Latar Belakang, Tujuan Penulisan dan Sistematika Penulisan.
BAB II KONSEP DASAR PENYAKIT meliputi Definisi, Etiologi, , Cara Penularan, Patofisiologi, Mnifestasi Klinis, Pemeriksaan Penunjang, Komplikasi dan Penatalaksanaan.
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN meliputi Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Intervesi, Implementasi Dan Evaluasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

Morbili adalah penyakit infeksi virus akut yang ditandai oleh tiga stadium yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi (Suriadi, 2001). Morbili adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. (Mansjoer, 2000).

Morbili atau disebut juga Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute udara dari seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer, 2001) Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi ( Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000)

Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa morbili merupakan suatu penyakit yang dialami oleh anak yang menular melalui droplet atau kontak langsung yang bersifat akut dan disebabkan oleh virus, ditandai dengan 3 stadium yaitu stadium kataralis, stadium erupsi dan stadium konvalensi

B. Etiologi
Morbili disebabkan oleh Virus yang tergolong famili Paramyxovirus, yaitu genus virus morbili. Virus ini sangat sensitif terhadap panas dan dingin dan sinar ultraviolet.
Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama masa prodormal sampai 24 jam setelah timbulnya bercak-bercak. Cara penularannya dengan droplet dan kontak (IKA,FKUI Volume 2, 1985). Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus yang tergolong dalam famili paramyxovirus yaitu genus virus morbili. Virus ini sangat sensitif terhadap panas dan dingin, dan dapat diinaktifkan pada suhu 30oC dan -20oC, sinar matahari, eter, tripsin, dan beta propiolakton. Sedang formalin dapat memusnahkan daya infeksinya tetapi tidak mengganggu aktivitas komplemen. (Rampengan, 1997) Penyebab morbili adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak, cara penularan dengan droplet dan kontak (Ngastiyah, 1997) Campak adalah suatu virus RNA, yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus. Dikenal hanya 1 tipe antigen saja; yang strukturnya mirip dengan virus penyebab parotitis epidemis dan parainfluenza. Virus tersebut ditemukan di dalam sekresi nasofaring, darah dan air kemih, paling tidak selama periode prodromal dan untuk waktu singkat setelah munculnya ruam kulit. Pada suhu ruangan, virus tersebut dapat tetap aktif selama 34 jam. (Nelson, 1992).

C. Manesfestasi Klinik
Masa tunasnya adalah 10-20 hari, dan penyakit ini dibagi menjadi dalam 3 stadium yaitu:
1. Stadium Kataral ( Prodormal) Berlangsung selama 4-5 hari dengan tanda gejala sebagai berikut:
· Panas
· Malaise
· Batuk
· Fotofobia
· Konjungtivitis
· Koriza

Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul eritema, timbul bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema tapi itu sangat jarang dijumpai. Diagnosa perkiraan yang besar dapat dibuat bila ada bercak koplik dan penderita pernah kotak dengan penderita morbili dalam waktu 2 minggu terakhir.

2. Stadium Erupsi
Gejala klinik yang muncul pada stadium ini adalah:
· Koriza dan Batuk bertambah
· Timbul enantema dipalatum durum dan palatum mole
· Kadang terlihat bercak koplik
· Adanya eritema, makula, papula yang disertai kenaikan suhu badan
· Terdapat pembesaran kelenjar getah bening
· Splenomegali
· Diare dan muntah
Variasi dari morbili disebut “Black Measles” yaitu morbili yang disertai pendarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.

3. Stadium konvalensensi

· Erupsi mulai berkurang dengan meninggalkan bekas (hiperpigmentasi)
· Suhu menurun sampai normal kecuali ada komplikasi (IKA,FKUI Volume 2,1985).

Menurut ahli lain manifestasi yang timbul adalah:
1. Stadium Kataral (prodromal) Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai panas, malaise, batuk, fotofobia, konjungtivis, dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema, lokasinya di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah.


2. Stadium erupsi, Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul eritema atau titik merah di palatum durum dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula bercak koplik. Terjadinya eritema yang berbentuk makula-popula disertai menaiknya suhu badan diantara macula terdapat kulit yang normal. Mula-mula eritema timbul di belakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah, kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit, rasa gatal, muka bengkak.


3. Stadium Konvalesensi, Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Suhu menurun sampai menjadi normal, kecuali bila ada komplikasi (Rusepno, 2002)

4. Gejala awal ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul pada bagian belakang telinga, dahi, dan menjalar ke wajah dan anggota badan. Selain itu, timbul gejala seperti flu disertai mata berair dan kemerahan (konjungtivis). Setelah 3-4 hari, kemerahan mulai hilang dan berubah menjadi kehitaman yang akan tampak bertambah dalam 1-2 minggu dan apabila sembuh, kulit akan tampak seperti bersisik. (Supartini, 2002)

D. Patofisiologi
Penularan terjadi secara droplet dan kontak virus ini melalui saluran pernafasan dan masuk ke system retikulo endothelial, berkembang biak dan selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh. Hal tersebut akan menimbulkan gejala pada saluran pernafasan, saluran cerna, konjungtiva dan disusul dengan gejala patoknomi berupa bercak koplik dan ruam kulit. Antibodi yang terbentuk berperan dalam timbulnya ruam pada kulit dan netralisasi virus dalam sirkulasi. Mekanisme imunologi seluler juga ikut berperan dalam eliminasi virus.

Patofisiologi Organisme (virus morbili) menular melalui rute udara, dalam waktu 24 jam, dari awal muncul reaksi terhadap virus morbili maka akan terjadi eksudat yang serous dan proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus di sekitar kapiler. Kelainan ini terdapat pada kulit, selaput lendir nasofaring, bronkus dan konjungtiva (Ngastiyah, 1997).

Sebagai reaksi terhadap virus maka terjadi eksudat yang serous dan proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus disekitar kapiler. Kelainan ini terdapat pada kulit, selaput lendir nasofaring, bronkus dan konjungtiva (IKA,FKUI Volume 2,1985).

A. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
a. Gambaran klinis yang khas
b. Pemeriksaan laboratorium
c. Pada pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan leukopeni
d. Dalam spuntum, sekresi nasal, sedimen urine dapat ditemukan adanya multinucleated giant cells yang khas
e. Pada pemeriksaan serologis dengan cara hemagglutination inhibition test dan complemen fixation test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai puncaknya pada 2-4 minggu kemudian. (Rampengan, 1997)
f. Dalam sputum, sekresi nasal, sediment urine dapat ditemukan adanya multinucleated giant sel yang khas.
g. Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglutination inhibition test dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1 – 3 hari setelah timbulnya ras dan mencapai puncaknya pada 2 – 4 minggu kemudian.

Komplikasi

1. Pneumonia
Oleh karena perluasan infeksi virus disertai dengan infeksi sekunder. Bakteri yang menimbulkan pneumoni pada mobili adalah streptokok, pneumokok, stafilokok, hemofilus influensae dan kadang-kadang dapat disebabkan oleh pseudomonas dan klebsiela.

2. Gastroenteritis
Komplikasi yang cukup banyak ditemukan dengan insiden berkisar 19,1 – 30,4%

3. Ensefalitis
Akibat invasi langsung virus morbili ke otak, aktivasi virus yang laten, atau ensefalomielitis tipe alergi.

4. Otitis media
Komplikasi yang sering ditemukan

5. Mastoiditis
Komplikasi dari otitis media

6. Gangguan gizi
Terjadi sebagai akibat intake yang kurang (Anorexia, muntah), menderita komplikasi. (Rampengan, 1998 : 95)
 
Penatalaksanaan
1. Medis
Pengobatan simptomatik dengan antipiretika bila suhu tinggi, sedativum, obat batuk dan memperbaiki keadaan umum. Tindakan lain ialah pengobatan segera terhadap komplikasi yang timbul.

2. Keperawatan
1) Kebutuhan nutrisi
a) Mengusahakan cairan masuk lebih banyak dengan memberikan banyak minum.
b) Pemberian buah-buahan atau buah yang banyak mengandung air seperti jeruk atau lainnya yang anak sukai.
c) Susu dibuat agak encer dan jangan terlalu manis, berikan dalam keadaan hangat, bila perlu ditawarkan apakah mau campur sirop atau coklat.
d) Berikan makanan lunak misalnya bubur pakai kuah, sup, dan lain-lain, usahakan sedikit tapi sering
e) Berikan makan TKTP jika suhu turun dan nafsu makan mulai timbul.

2) Gangguan suhu tubuh
a) berikan kompres air hangat.

3) Gangguan rasa aman dan nyaman
a) Beri bedak salisil 1% untuk mengurangi rasa gatal.
b) Usahakan agar anak tidak tidur di bawah lampu karena silau.
c) Di lap muka, tangan, dan kaki.

4) Risiko terjadi komplikasi
a) Diubah sikap baringnya beberapa kali sehari dan berikan bantal untuk meninggikan kepala. Dudukkan anak pada waktu minum atau dipangku.
b) Jangan membaringkan pasien di depan jendela atau membawa pasien ke luar rumah selama masih demam (bila anak terkena angin, batuk akan menjadi lebih parah).


5) Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
a) Penyuluhan pemberian gizi yang baik bagi anak agar mereka tidak mendapat infeksi dan tidak akan mudah timbul komplikasi yang berat. (Ngastiyah, 1997)

I. Fokus Pengkajian
1) Pengkajian Data Dasar
Biodata
Terdiri dari biodata pasien dan biodata penanggung jawab.

2) Proses keperawatan

a. Keluhan utama
Keluhan utama pada pasien dengan morbili yaitu demam terus-menerus berlangsung 2 – 4 hari. (Pusponegoro, 2004)

b. Riwayat keperawatan sekarang
Anamnesa adanya demam terus-menerus berlangsung 2 – 4 hari, batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah, silau bila kena cahaya (fotofobia), diare, ruam kulit. (Pusponegoro, 2004), Adanya nafsu makan menurun, lemah, lesu. (Suriadi, 2001)

c. Riwayat keperawatan dahulu Anamnesa pada pengkajian apakah klien pernah dirawat di Rumah Sakit atau pernah mengalami operasi (Potter, 2005).
Anamnesa riwayat penyakit yang pernah diderita pada masa lalu, riwayat imunisasi campak (Wong, 2003). Anamnesa riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi campak. (Suriadi, 2001)

d. Riwayat Keluarga
Dapatkan data tentang hubungan kekeluargaan dan hubungan darah, apakah klien beresiko terhadap penyakit yang bersifat genetik atau familial. (Potter, 2005)

3) Pemeriksaan Fisik
a) Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia
b) Kepala : sakit kepala
c) Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan hidung ( pada stad eripsi ).
d) Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
e) Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada leher,muka, lengan dan, eritema, panas (demam).
f) Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum
g) Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
h) Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare
i) Status Nutrisi : intake – output makanan, nafsu makanan
(Potter, 1996).

J. Diagnosa Keperawatan
1. Tidak efektif jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi secret
2. hipertermi berhubungan dengan proses peradangan skunder
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan atau absorpsi nutrien yang diperlukan.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penjamu dan agens infeksi.
5. Nyeri berhubungan dengan lesi kulit, malaise
7. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penggarukan pruritus

DAFTAR PUSTAKA

Rampengan T.H , Laurents I.R. 1997. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Edisi 1, Cetakan III. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Silalahi Levi, 2004. Campak. http://www.tempointeraktif.com
Depkes, R.I., 2004. Campak di Indonesia. http://www.penyakitmenular. info.
Hassan, et al. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Infomedika: Jakarta.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC: jakarta.
Hartanto, Huriawati, dr., dkk,. 2006. Kamus Kedokteran Dorland, Edisi Dua Sembilan. EGC: Jakarta.
Betz, Cecity L., Linda A. Sowden. 2002. Buku Saku Keperawan Pediatri. EGC: Jakarta.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1985. Ilmu Kesehatan Anak 2. Bagian Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta
John. 2005. Kamus Ringkas Kedokteran Stedman untuk Profesi Kesehatan Edisi Empat, EGC: Jakarta.
NANDA ( 2001 ). NANDA nursing diagnoses: Defi nitions and classifi cations 2001 – 2002 . Philadelphia : NANDA .

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH