iklan

loading...

Sunday, January 13, 2013

Contoh Laporan Kelompok Gerontik


KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkah dan rahmatNya kami dapat melakukan praktek Mata Ajaran Keperawatan Gerontik di Panti Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang sejak tanggal 10-15 Januari 2011 dengan baik. Sebagai akhir dari praktek keperawatan lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang, kami telah menyusun laporan akhir asuhan keperawatan kelompok lanjut usia di wisma Mawar dalam bentuk makalah.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada :
1.      Ibu Ns. Nita Puspita selaku Koordinator Mata Ajaran Keperawatan Gerontik yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama kami berada di Panti Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang.
2.      Bapak Ade, S.Sos selaku Kepala Panti Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang yang telah memberikan kesempatan untuk memberikan asuhan keperawatan lansia di wisma-wisma Panti Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang.
3.      Para dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingannya selama kami di Panti Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang.
4.      Para petugas panti yang telah membantu kami selama di Panti Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Telukjambe Karawang.
5.      Orang tua dan teman-teman yang telah memberikan semangat, kasih sayang dan dukungan morilnya yang sangat berarti bagi kami.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.



Karawang, 14 Januari 2011

Kelompok Wisma Melati

BAB I
PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang
        Lansia adalah seseorang yang berumur 60 tahun keatas (UU No. 13 Tahun 1998). Sejalan dengan program keluarga berencana yang telah dicanangkan dan dilaksanakan oleh pemerintah, pada tahun 2000 jumlah lansia berdasarkan sensus penduduk adalah sekitar 7,5% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 15,9 juta orang berusia diatas 60 tahun (BPS dan SUPAS 1995 dan 2000). Didalam kehidupan nasional, usia lanjut dapat merupakan sumber daya yang bernilai karena pengetahuan, pengalaman hidup serta kasrifan yang dimiliki yang dapat dimanfaatkan unutk upaya peningkatan mutu kehidupan keluarga dan masyarakat.
        Seorang yang menua akan mengalami perubahan-perubahan baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Perubahan ini akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan termasuk kesehatan yang memerlukan perhatian khusus dimana lansia merupakan salah satu kelompok rawan dalam keluarga karena kepekaan dan kerentanannya yang tinggi terhadap gangguan kesehatan. Oleh karena itu asuhan keperawatan yang komprehensif perlu dilakukan untuk mempertahankan dan maninggikan derajat kesehatan lansia sehinngga tetap mejadi produktif sesuai kemampuan.
        Berdasarkan hasil pengkajian kelompok khususnya di Wisma Melati didapatkan data yang berhubungan dengan masalah kesehatan lansia, yaitu sebanyak 50% lansia dengan masalah kesehatan rematik, 12,5% lansia dengan DM, dan 27,5% lansia mengalami penglihatan kabur.

B.   Tujuan
1.     Tujuan Umum
Memberikan pengkayaan tentang perubahan-peruabahan yang terjadi pada lansia yang dapat menyebabkan masalah kesehatan.


2.     Tujuan Khusus
a.       Mampu mengidentifikasi perubahan-peruabahan fisik, mental, dan spiritual yang terjadi pada lansia khususnya di Wisma Melati Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Karawang.
b.      Mampu mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan yang terjadi akibat perubahan-perubahan pada lansia di Wisma Melati Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Karawang.
c.       Mampu melakukan asuhan keperawatan terkait dengan masalah kesehatan yang telah teridentifikasi.
d.      Mampu melaporkan keberhasilan asuhan keperawatan yang telah dilakukan selama praktek di Wisma Melati Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Karawang.

C.   Metode Telaahan
Penulisan laporan asuhan keperawatan kelompok gerontik ini menggunakan metode deskriktif yaitu  metode yang menggambarkan keadaan yang lebih nyata, menganalisa dan menguraikannya dengan pendekatan studi kasus, dimana kelompok mengambil satu kasus kelolaan kemudian kelompok memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan permasalahan yang ada. Adapaun tehnik-tehnik yang dipergunakan dalam mengumpulkan data diantaranya :
1.         Observasi / Pengamatan
2.         Wawancara
3.         Studi Kepustakaan
4.         Pemeriksaan Fisik
5.         Dokumentasi Keperawatan, dan
6.         Asuhan Keperawatan Langsung





D.   Sistematika Penulisan
Studi analisa situasi ini terdiri dari empat BAB yang tersusun dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I    Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan
BAB II    Tinjauan teoritis meliputi konsep penuaan
BAB III  Tinjauan kasus dan pembahasan
BAB IV  Penutup meliputi kesimpulan dan saran


 BAB II
TINJAUAN TEORITIS


A.Tinjauan Teoritis
            Teori biologis tentang penuaan menyatakan bahwa proses penuaan secara biologi adalah alami, tidak dapat dihindari, irreversible, dan berkembang sesuai waktu. Proses penuaan ini membawa perubahan-perubahan yang bervariasi pada setiap individu. Teori wear and tear menyatakan bahwa setiap individu mengalami proses penuaan dan kematian karena jaringan-jaringan tubuh tidak selamanya dapat memperbaiki diri. Perubahan fisik yang terjadi ditandai dengan terjadinya penurunan sel-sel otak, penurunan rasa dan penciuman, kulit keriput, rambut memutih, penglihatan kabur, pendengaran berkurang, tulang menjadi rapuh, gigi ompong, mudah lelah, kelancaran aliran darah menurun, gerakan menjadi lamban, serta fungsi ginjal, hati dan jantung bekerja lebih keras. Perubahan pada pikiran dan mental lansia diantaranya penurunan daya ingat, mudah sedih dan tersinggung, mudah frustasi, merasa kesepian serta takut kehilangan kemandirian. Sedangkan perubahan sosial pada lansia meliputi kehilangan pekerjaan, pasangan dan anak serta menerima kehadiran cucu. Proses tersebut dapat dipercepat oleh faktor-faktor seperti stress, merokok serta diet yang buruk.
            Terkait dengan perubahan fisik pada lansia khususnya sistem pencernaan dimana lansia mengalami penurunan dalam produksi air liurnya, penurunan dalam produksi cairan lambung dan gerak peristaltik lambung serta saluran pencernaan lainnya yang juga menurun, didukung oleh adanya penurunan pada kepekaan terhadap rangsang terutama penciuman dan rasa maka lansia beresiko tinggi untuk mengalami gangguan pemenuhan nutrisi.
            Nutrisi atau disebut juga zat gizi makanan adalah zat-zat yang terkandung di dalam makanan yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. Terdapat tiga manfaat gizi yaitu sebagai zat tenaga yang terdapat pada makanan-makanan pokok seperti nasi, jagung dan kentang; sebagai zat pengatur yang terdapat pada sayuran dan buah-buahan; serta zat pembangun yang terdapat pada lauk pauk seperti daging, ikan, tahu dan tempe. Komposisi yang diperlukan adalah karbohidrat sebanyak 60-70 %, protein 10-15 % dan lemak 20-25 %. Komposisi tersebut diperlukan untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang ideal pada lansia.

            Seseorang dikatakan mengalami perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yaitu jika seseorang dalam keadaan tidak mengalami puasa atau yang beresiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan makanan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik (Carpenito, 1995 hal 252). Tolak ukur yang dapat dipakai sebagai pedoman bahwa seseorang memiliki masalah perubahan nutrisi adalah dengan mengetahui berat badan yang ideal. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan rumus Brocca yang dimodifikasi yaitu BB ideal = 90% x (TB dalam cm – 100) x 1 kg. Sedangkan penghitungan kebutuhan kalori bagi lansia adalah lansia dengan usia 60-69 tahun adalah 25-30 kalori/kg BB ideal dikurangi 10 %; sedangkan lansia dengan usia 70 tahun, dikurangi 20 %.
            Faktor-faktor risiko untuk masalah nutrisi yaitu riwayat diet termasuk didalamnya adalah kesulitan menelan/mengunyah, pemasukan makanan yang tidak adekuat, pembatasan diet, tidak ada pemasukan 10 hari/ lebih, seseorang dengan terapi intra vena, anggaran makanan yang tidak adekuat, fasilitas “penyiapan” makanan yang tidak adekuat, fasilitas “penyimpanan” makanan yang tidak adekuat, ketidakmampuan fisik dan lansia yang makan sendiri.
            Akibat yang dapat terjadi dimana seseorang mengalami gangguan nutrisi diantaranya adalah mudah terserang penyakit, mudah lelah, proses penuaan lebih cepat, menambah biaya berobat dan daya pikir yang semakin berkurang. Dengan memperhatikan akibat dari gangguan nutrisi tersebut maka perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan yang diantaranya adalah dalam penyusunan menu. Terdapat lima prinsip dalam menyusun menu pada lansia yaitu mengurangi makanan berlemak, mengurangi garam, mengurangi gula, menu bervariasi, banyak vitamin dan serat serta makanan yang mudah dicerna.
           
B.OBAT TRADISIONAL
·         Reumatik:
 Cara 1
            Bahan: Cengkeh
                        Merica
                        Daun Belimbing wuluh
                        Cuka
            Alat:    mangkuk
Cara pembuatan : daun belimbing wuluh, merica, cengkeh di tumbuk halus sehingga menjadi lembut seperti bubur, ditambah cuka secukupny. Lalu tumbuk kembali bahan. Setelah itu bahan yang sudah dihaluskan di oleskan pada lutut da n persendian yang lain.

Cara 2
Alat dan Bahan : Jahe
                            Minyak kelapa
                            Parutan
                            Mangkuk
Cara pembuatan : Jahe di cuci barsih lalu diparut, dan hasil parutan ditambah minyak kelapa secukupnya. Kemudian di poleskan/dibalurkan pada daerah yang sakit.

Cara 3
Alat dan Bahan : 5 butir cengkah
                            200 gr ubi jalar merah
                            5 biji pala
                            1 gr kayu manis
                            10 butir merica
                            5 kapulaga
Cara pembuatan : rebus semua bahan dengan 1500cc  air hingga tersisa 500cc, kemudian minum air rebusan tadi dan ubi jalarnya dimakan.
           
·         Katarak :
Alat dan Bahan: 5 lembar kembang teleng
                           Air hangat
Alat : mangkuk
Cara pembuatan : simpan air hangat pada mangkuk, masukan kembang teleng pada mangkuk yang berisi air hangat. Tunggu sampai warna memudar menjadi kebiruan, kemudian tempelkan kedua mata pada air rebusan kembang teleng.


·         Gastritis
Cara 1
Alat dan Bahan: Kencur
  air hangat
  madu
  pisang raja
                          Parutan
                          Saringan
                          Gelas
Cara Pembuatan: Kencur di parut secukupnya kemudian setelah itu hasil parutan tadi diperas dengan air hangat hingga mencapai setengah gelas.
Diminum 3 kali sehari, jika terasa mual saat meminum bisa ditambahkan madu atau pisang raja
           
Cara 2
Alat dan Bahan: Kacang hijau ¼  kg
   Kompor
   Katel
   tumbukan, dan
   gelas
 Cara pembuatan: Kacang hjau dicuci bersih, kemudian dijemue hingga kering setelah itu di goring tanpa menggunakan minyak/sangria sehingga terlihat matang.
Setelah matang angkat dan tumbuk kacang hingga halus. Hasil tumbukan/bubuk kacang hijau tadi yang akan dijadikan sebagai ramuan.
Setiap hari gunakan satu sendok makan bubuk kacang hijau tadi dan dicampur dengan air putih /disedu dalam satu gelas minum hingga sakit hilang.





·         hipertensi
Cara 1
Alat dan Bahan:          Mengkudu
Air hangat
Bleder
Saringan
Cara pembuatan: Mengkudu diblender dengan air hangat kemudian di saring dalam satu gelas dan diminum tiga kali dalam satu hari.

                Cara 2
            Alat dan Bahan: 5 Lembar Daun salam
Cara Pembuatan : 5 lembar daun salam direbus hingga mendidih kemudian air nya di minum 3 kali sehari.


BAB III
PEMBAHASAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELOMPOK
DI WISMA ANGGREK PANTI SOSIAL TERSNA WREDA
BUDHI DAYA TELUK JAMBE KARAWANG.

Nama  Kelompok                    : Kelompok III
Tingkat                                    : III                             
Lahan Praktik                          : Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda  Budhi Daya
  Teluk Jambe  Karawang
Tanggal Pengkajian                 : 10 Januari 2011
Nama Wisma                           : Melati
Pimpinan Panti                        : Drs. Sirro Judin, M.M.
Dikelola Oleh                          : Departemen Sosial RI
A.    PENGKAJIAN
1. Karakteristik Penghuni
a.       Berdasarkan umur
Karakteristik umur
Perempuan
Laki-laki
Jumlah
Prosentase
< 60
60 – 70
71 – 90
> 90
-
3
2
-
-
2
1
-
-
5
3
-
0 %
62,5 %
37,5 %
-
Jumlah
9
-
9
100 %

b.      Berdasarkan pendidikan
 Tingkat  Pendidikan
Jumlah
Prosentase
Tidak sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD/sederajat
Tamat SMP/sederajat
Tamat SMA
4
3
-
-
1
50 %
37,5 %
-
-
12,5 %
Jumlah
8
100

c.       Berdasarkan agama
Agama
Jumlah
Prosentase
Muslim
Non Muslim
8
-
100
-
Jumlah
8


2. Data khusus
a.       Biologis
1)          Keadaan kesehatan
5 Besar Keluhan Lansia
Jumlah
Prosentase
Nyeri persendian
Gangguan fungsi pendengaran
Penglihatan kabur
Tidak senang berinteraksi
Lain - lain




6
3
4
1
1




40 %
20 %
26,6 %
5,65 %
5,65 %
Jumlah
15
100 %

        Dari hasil pengkajian didapatkan beberapa lansia yaitu sekitar 6 orang mengeluh pegal dan nyeri pada daerah pinggang, tangan dan kaki. Biasanya mereka merasa pegal dan nyeri pada saat  istirahat (tidur), sebagian lansia mengatakan pegal dan nyeri tersebut saat atau setelah melakukan aktivitas.


2)      Pola makan dan minum
Frekuensi makan 3 x sehari. Para lansia biasa makan berkumpul di ruang TV, tetapi ada sebagian lansia yang makan di kamar masing-masing. Sekitar 5- 6 orang lansia yang makan dikamar mereka masing-masing dengan alasan lebih nyaman makan dikamar. Menu makanan pagi hari nasi, sayur, tempe. Makan siang terdiri dari nasi, sayur, tempe dan telur. Menu makan sore sama dengan dengan menu makan siang. Para lansia kadang-kadang membeli makanan sendiri di luar seperti roti, dan lain-lain setiap sore atau pagi, kadang-kadang para lansia mendapat makanan tambahan (snack) seperti bubur kacang, roti, gorengan, buah-buahan.
Sebagian lansia minum sebanyak 4 – 6 mug kecil dalam sehari (1 mug kecil = 200 ml). Sekitar  2 – 3 lansia yang memakai mug besar dan dalam sehari mereka minum 1 – 2 mug (1 mug besar = 600 ml). Hasil observasi kelompok di dapat mukosa bibir dan kulit lansia lembab.
3)      Pola tidur
Para lansia masuk kamar tidur sekitar pukul 21.00 WIB setelah menonton acara TV. Namun ada sebagian lasia ada yang langsung masuk kamar setelah melaksanakan sholat Isya sekitar pukul 20.00 WIB. Kegiatan yang dilakukan sebelum tidur diantaranya menonton TV dan mengaji. Sebagian besar lansia bangun jam 04.00 WIB pagi untuk bersiap-siap melaksanakan sholat shubuh berjama’ah. Tetapi ada  1 – 2  orang yang tidak melaksanakan sholat berjamaah karena kondisi lansia yang tidak memungkinkan.
Jika dijumlahkan, jumlah jam tidur lansia adalah 7 – 8 jam dalam sehari.
4)      Kebersihan diri
Penampilan sebagian besar penghuni wisma Melati tampak bersih dan rapih. Setiap lansia mandi dan gosok gigi 2 – 3 kali dalam satu hari dilakukan terutama jika mereka akan melaksanakan sholat. Tercium bau mulut saat berkomunikasi dengan beberapa lansia terdapat kotoran pada rangkaian gigi dan warna gigi yang menguning. Lansia keramas 2 -3 kali setiap minggu dengan menggunakan shampo, baju klien ganti 2 hari sekali.


b.      Psikologis dan sosial
1)      Kebiasaan buruk kelompok
Satu lansia mempunyai kebiasaan merokok di Wisma dan biasa menghabiskan dua sampai tiga batang setiap hari terutama setelah selesai makan.
2)      Keadaan emosi
Ada satu lansia yang bila di ajak bicara jawabannya tidak sesuai tema yang sedang dibicarakan, sehingga sering kali jadi bahan tertawaan sesama lansia.
3)      Pengambilan keputusan
Di wisma Melati tidak ada lansia yang berperan sebagai pengambil keputusan. Masing – masing berhak menentukan yang terbaik bagi dirinya. Bila ada anggota wisma yang sakit, maka lansia yang lain hanya melaporkan kepada petugas wisma.
4)      Rekreasi
Kegiatan rekreasi yang dilakukan anggota wisma Melati antara lain menonton TV, mendengarkan Radio atau bercakap – cakap di ruang tengah. Pengurus panti mengadakan program rekreasi dalam setahun sekali dan diikuti oleh seluruh lansia di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wredha Budhi Daya Karawang.
5)      Perilaku mencari pelayanan kesehatan
Lansia yang sakit hanya minum obat yang di berikan oleh petugas puskesmas yang datang ke panti setiap hari kamis pagi. Jika obatnya habis para lansia tidak mencari obat warung karena keadaan ekonomi para lansia yang kurang, kecuali ada lansia yang sakit parah biasanya para lansia lapor ke petugas wisma.
6)      Ketergantungan obat
Sebagian lansia yang sering menggunakan obat warung atau jamu saat mempunyai keluhan kesehatan. Mereka merasa keluhannya berkurang tetapi tidak mengetahui akibat kebiasaan ini pada kesehatannya. Pengaturan minum obat selanjutnya diserahkan kepada pengurus wisma.
7)      Kecacatan
Di wisma Melati tidak ada lansia yang mengalami kecacatan.



8)      Keadaan ekonomi
Semua lansia di wisma Melati tidak ada yang mempunyai tunjangan pensiun, mereka hanya mendapatkan uang santunan dari panti sebesar Rp 2.500.- / minggu. Uang itu kebanyakan di simpan atau digunakan untuk membeli kebutuhan sehari – hari.
9)      Kegiatan organisasi sosial
Sebagian besar lansia mengikuti pengajian dan senam lansia yang diadakan di panti. Pengajian setiap hari Senin dan Rabu serta senam setiap hari Selasa dan Jum’at.
10)  Hubungan antara anggota kelompok
Sebagian besar lansia di dalam kelompok mementingkan kepentingan pribadi masing – masing dan cenderung membiarkan dan tidak perduli satu sama lain. Lansia – lansia sering berkomunikasi dan terlibat dalam interaksi kelompok.
11)  Hubungan di luar kelompok
Sebagian besar lansia menyatakan jarang berkunjung dan berhubungan dengan lansia yang tinggal di wisma yang lain, hubungan dengan lansia di wisma lain dilakukan melalui kegiatan pengajian dan olah raga.
12)  Hubungan dengan anggota keluarga
Tidak ada waktu khusus untuk kunjungan keluarga. Keluarga bisa mengunjungi lansia kapan saja sesuai kebutuhan keluarga. Tetapi sebagian lansia tidak pernah lagi di kunjungi oleh keluarga karena sanak keluarganya sudah tidak ada.

c.       Spiritual
1)      Ketaatan beribadah
Semua lansia di wisma Melati beragama Islam dan saat menjalankan ibadah ( shalat lima waktu ) dan selalu mengikuti pengajian yang diadakan oleh panti. Semua lansia percaya akan tibanya kematian dan lansia pasrah bila kematian menjemput mereka.
2)      Keyakinan tentang kesehatan
Lansia percaya bahwa sakit dan sehat adalah hal yang wajar terjadi pada manusia. Beberapa lansia sering mengeluh pegal dan nyeri, biasanya jika hal itu terjadi mereka biasanya menggunakan minyak kayu putih atau balsem pada daerah yang terasa sakit. Cara tersebut cukup mengurangi rasa sakit.

d.      Kultural
1)      Adat yang mempengaruhi kesehatan
Lansia di wisma semuanya berasal dari pulau jawa dan tidak ada adat istiadat yang mempengaruhi kesehatan.
2)      Tabu – tabu
Tidak ada pantrangan budaya yang dianut oleh lansia di wisma

e.       Keadaan lingkungan dalam
1)      Penerangan
Semua kamar umumnya mendapatkan penerangan yang cukup baik masing – masing kamar diberi lampu lima watt. Penerangan di ruang tengah dan di pintu menuju kamar mandi menggunakan neon 40 watt pada malam hari sebagian lampu dimatikan.
2)      Kebersihan dan kerapihan
Secara umum kondisi kamar – kamar cukup bersih dan rapi, juga ruang tamu, kamar mandi dan wc. Setiap hari wisma dibersihkan oleh para lansia dan kamar – kamar lansia di bersihkan oleh para lansia yang menempati kamar tersebut. Namun lantai di wisma agak licin, terutama di depan kamar mandi. Di kamar mandi tidak terdapat pegangan pengaman.
3)      Sirkulasi udara
Sirkulasi udara secara umum cukup baik karena di wisma terdapat cukup jendela termasuk disetiap kamar lansia yang selalu dibuka setiap pagi selain itu dikamar – kamar lansia terdapat cukup ventilasi.

f.   Keadaan lingkungan dan halaman
1)      Pemanfaatan halaman
Halaman wisma dimanfaatkan untuk penghijauan, para lansia merawatnya dengan menyiramnya dan menyiangi rumput.
2)      Pembuangan air limbah
Semua limbah dari kamar mandi dan WC dialirkan melalui saluran tertutup dan di teruskan ke sungai Citarum.
3)      Pembuangan sampah
Kebanyakan sampah di wisma adalah sampah organik, sampah tersebut ditampung menggunakan tempat sampah dan setiap pagi diangkut ke penampungan sampah.
4)      Sumber pencemaran
Letak wisma yang berdekatan dengan jalan raya utama merupakan penyebab pencemaran udara dan sumber kebisingan.



B.        Analisa Data

Data
Diagnosa Keperawatan
Data Subjektif
§  Beberapa lansia mengeluh pegal dan nyeri pada pinggang, tangan dan kaki.
§  Mereka mengatakan belum tahu cara yang tepat untuk mengatasi pegal dan nyeri.
§  Mereka mengatakan pegal dan nyeri yang dirasakan muncul pada saat istirahat (tidur) sebagian lansia mengatakan pegal dan nyeri tersebut saat atau setelah melakukan aktivitas.
§  Jika timbul nyeri mereka menggunakan minyak kayu putih atau balsem pada daerah yang pegal atau nyeri. Cara tersebut cukup mengurangi rasa sakit atau pegal yang dialami.
Data Objektif
§  6 orang dari 8 orang lansia di Wisma Melati RPSTW Budhi Daya menderita rematik atau 40%.


Gangguan rasa nyaman : nyeri sendi di wisma Melati RPSTW Budhi Daya b.d kurangnya motivasi : proses degenerasi/penurunan fungsi muskuluskeletal dimanifestasikan dengan 36% lansia mengeluh nyeri dan pegal pada daerah pinggang dan ekstremitas
Data Subjektif
§  Sekitar 3 orang lansia mengeluh penglihatannya kabur atau sekitar 20%, 2 orang menggunakan kaca mata.

Data Objektif
§  Di kamar mandi tidak terdapat pegangan pengaman.
§  Lantai di wisma agak licin.

Resiko cedera pada lansia di wisma Melati RPSTW Budhi Daya Telukjambe Karawang b.d kurang pengetahuan tentang gangguan penglihatan (penglihatan kabur) dan cara perawatannya dengan dimanifestasikan 21,4% lansia mengalami penglihatan kabur.

Data Subjektif
§  4 orang lansia di wisma anggrek RPSTW Budhi Daya mengeluh penglihatannya berkurang, sekitar  26,6 %.

Data Objektif
§  Pada pemeriksaan fisik didapatkan data adanya lingkaran putih pada lensa mata.

Perubahan sensori perseptual Visual pada lansia di wisama Melati RPSTW Budhi Daya Telukjambe Karawang b.d kekeruhan pada lensa mata dimanifestasikan 26,6% lansia mengalami masalah katarak

C.  DAFTAR MASALAH
Dari keluhan – keluhan diatas didapatkan maslah keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman : Nyeri sendi
2.      Risiko cedera
3.      Perubahan sensori perseptual ( visual )















BAB IV

     PENUTUP

A.   Kesimpulan
Lansia adalah seseorang yang berumur 60 tahun keatas (UU No. 13 Tahun 1998). Sejalan dengan program keluarga berencana yang telah dicanangkan dan dilaksanakan oleh pemerintah, pada tahun 2000 jumlah lansia berdasarkan sensus penduduk adalah sekitar 7,5% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 15,9 juta orang berusia diatas 60 tahun (BPS dan SUPAS 1995 dan 2000). Didalam kehidupan nasional, usia lanjut dapat merupakan sumber daya yang bernilai karena pengetahuan, pengalaman hidup serta kasrifan yang dimiliki yang dapat dimanfaatkan unutk upaya peningkatan mutu kehidupan keluarga dan masyarakat.
Seorang yang menua akan mengalami perubahan-perubahan baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Perubahan ini akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan termasuk kesehatan yang memerlukan perhatian khusus dimana lansia merupakan salah satu kelompok rawan dalam keluarga karena kepekaan dan kerentanannya yang tinggi terhadap gangguan kesehatan. Oleh karena itu asuhan keperawatan yang komprehensif perlu dilakukan untuk mempertahankan dan maninggikan derajat kesehatan lansia sehinngga tetap mejadi produktif sesuai kemampuan.
Hasil pengamatan kami selama praktek keperawatan gerontik di RPSTW Budhi Daya Karawang, masalah keperawatan yang sering timbul pada penghuni wisma (lansia) adalah gangguan rasa nyaman; nyeri berhubungan dengan proses degenerasi (rheumatik) dan resiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan (katarak). Dan untuk mengobati masalah tersebut di usahakan tidak dengan pengobatan medis tapi dengan pengobatan tradisional karena masalah tersebut hubungannya dengan proses penuaan (kecuali parah).

B.   Rekomendasi
Dalam penanganan masalah pada lansia di panti umumnya sudah baik, namun demi tercapainya kesehatan dan kesejahteraan para penghuni kelompok ingin menyampaikan beberapa masukan, antara lain :
1.      Agar pihak panti memfasilitasi para lansia untuk menanam bahan-bahan pengobatan alternatif.
2.      Memperhatikan keselamatan para lansia, terutama di dalam wisma. Membuan pegangan lansia untuk berjalan, terutama menuju dan dalam kamar mandi.
3.      Tidak membiarkan para lansia keluar sendiri, karena posisi panti dekat dengan jalan raya.
4.      Tidak mencampurkan penghuni lansia laki-laki dan perempuan dalam satu wisma
Demikian masukan yang dapat kelompok berikan yang sekiranya dapat dijadikan pertimbangan bagi panti untuk terus meningkatkan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan para lansia penghuni panti.

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH