iklan

loading...

Saturday, December 8, 2012

LP ARDS DI ICU



LAPORAN PENDAHULUAN TENTANG
ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome)
POST SC
Definisi
ARDS adalah gagal napas yang terjadi tiba-tiba dan progresif yang ditandai dengan dispnea, hipoksemia, difusi bilateral infiltrat (Black, 2002). ARDS diawali dengan berbagai penyakit serius yang pada akhirnya mengakibatkan edema paru difus nonkardiogenik yang khas. Istilah ini diperkenalkan oleh Petty dan Ashbaugh pada tahun 1971 setelah mengamati gawat napas yang akut dan mengancam nyawa pasien-pasien yang tidak menderita penyakit paru sebelumnya.

Etiologi ARDS, antara lain:
1.      Syok (hemoragik, kardiogenik, anafilatik, sepsis)
2.      Trauma (luka, emboli lemak berkaitan dengan fraktur  tulang panjang, cedera kepala, cedera dada langsung)
3.      Infeksi (bacterial pneumonia, viral pneumonia, fungal pneumonia, sepsis gram negatif, tuberculosis)
4.      Inhalasi gas beracun (asap rokok, O2 konsentrasi tinggi (FiO2 > 50%) yang lama (>48 jam), NO2, NH2, Cl2)
5.      Penggunaan obat-obatan (heroin, methadone, barbiturate, dextran 40, Thiazides, Ethchlorvynol, Fluorescein, Salicylates)
6.      Metabolik (uremia, KAD)

Patofisiologi ARDS
Hal yang khas pada ARDS ini adalah terjadinya edema alveolar yang disebabkan oleh berbagai etiologi salah satunya adalah aspirasi bahan kimia atau inhalasi gas berbahaya langsung toksik terhadap epitel alveolar. Kondisi ini menyebabkan epitel rusak dan terjadi peningkatan permeabilitas membran kapiler alveolar dan akhirnya menyebabkan edema interstesial. Membran kapiler alveolar dalam keadaan normal tidak mudah ditembus partikel-partikel. Tetapi, dengan adanya cedera maka terjadi perubahan pada permeabilitasnya, sehingga dapat dilalui oleh cairan, sel darah merah, sel darah putih, dan protein darah. Mula-mula cairan akan berkumpul pada interstisium dan jika melebihi kapasitas dari interstisium cairan akan berkumpul di dalam alveolus, sehingga mengakibatkan atelektasis kongestif.
Tiga fase yang menggambarkan terjadinya ARDS, yaitu:
1.      Fase I (Exudative)
Fase I terjadi 24 jam setelah kerusakan endotel kapiler dan kebocoran cairan kedalam interstisium pulmonal. Respon inflamasi disertai kerusakan parenkim pulmonal, dan mengeluarkan mediator toksik, aktivasi komplemen, mobilisasi makrofag, dan pengeluaran substansi vasoaktif dari mast cells.
2.      Fase II (Proliferative)
Fase II dimulai pada hari ke 7-10. Sel alveolus tipe 1 dan 2 telah rusak menyebabkan penurunan produksi surfaktan, alveolus kolaps, dan atelektasis yang mengakibatkan kerusakan pertukaran gas.
3.      Fase III (Fibrotic)
Fase ini terjadi pada minggu ke2-3. Pada fase ini terjadi penurunan fibrin secara irreversible ke dalam paru yang menyebabkan fibrosis paru yang lama-kelamaan mengakibatkan penurunan kompliens paru dan memperburuk hipoksemia. Hasil akhirnya mengakibatkan rasio ventilasi dan perfusi (V/Q) tidak sebanding dan hipoksemia arteri yang sangat besar.
Patofisiologi
PENCETUS

Trauma endotelium paru          Kerusakan Jaringan Paru          Trauma type II
dan epitelium alveolar                                                                 Pneumocytes
                      
Peningkatan permeabilitas                                                      Penurunan surfactan

          Edema pulmonal           Penurunan pengembangan             Atelektasis
paru


 
Alveoli terendam                               Hipoksemia                             Abnormalitas
                                                                                                         ventilasi-perfusi
                  Proses penyembuhan                                      Fibrosis

                        Sembuh                                                    Kematian   
Penata Laksanaan Medis
Tujuan Terapi :
·         Support pernapasan
·         Mengobati penyebab jika mungkin
·         Mencegah komplikasi.

Terapi :
·         Pengobatan tergantung klien dan proses penyakitnya :
v  Inotropik agent (Dopamine ) untuk meningkatkan curah jantung & tekanan darah.
v  Antibiotik untuk mengatasi infeksi
v  Kortikosteroid dosis besar (kontroversial) untuk mengurangi respon inflamasi dan mempertahankan stabilitas membran paru.


Data Dasar Pengkajian
Pengajian primer
A : Airway
Apakah pernafasan pasien Adekuat?
Pola nafas?
Apakah pergerakan kedua dinding dada sama?

B : Breathing
Bagaimana saturasi oksigen pasien?
Bagaimana cara pemberian terapi oksigen?
Apakah adekuat?

C : Circulation
Bagaimana heart rate pasien ? irama?
Bagaimana tekanan darahnya?
Bagaimana warna tangan dan kaki?

D. DISABILITY, status neurologis

E. EXPOSURE/ENVIRONTMENTAL CONTROL, buka baju penderita, tetapi cegah hipotermia Selama primary survey, keadaan yang mengancam jiwa harus dikenali dan resusitasinya dilakukan pada saat itu juga. Prioritas pada anak pada dasarnya sama dengan orang dewasa. Walaupun jumlah darah, cairan, obat, ukuran anak, kehilangan panas, dan pola perlukaan dapat berbeda, namun prioritas penilaian dan resusitasi adalah sama. Prioritas pada orang hamil sama seperti tidak hamil, akan tetapi perubahan anatomis dan fisiologis dalam kehamilan dapat mengubah respon penderita hamil terhadap trauma.
Pada pemerikasaan Pernafasan.
Ø Lihat pergerakan dada, samakah?
Ø Auskultasi sura nafas.
Ø Cek mode pemberian oksigen.
Ø Cek saturasi oksigen dan analisa gas darah.
Pada pemeriksaan Kardiovaskuler
Ø Tanda-tanda vital seperti heart rate, tekanan darah, temperature, CVP.
Ø Auskultasi suara jantung.
Ø Kaji IV line.
Ø Cek sirkulasi perifer seperti warna jaringan perifer, kehangatan dan nadi.
Pada pemerikasaan Pencernaan
Ø Cek Naso Gastrik Tube (NGT) jika ada
Ø Cek jenis makanan, kecepatan dan tolernsi.
Ø Auskultasi peristaltik.
Ø Kapan terakhir BAB da BAK.
Pada pemerikasaan Ginjal
Ø Cek urine output
Ø Cek setatus cairan dan balance kumulatif.
Ø Cek kadar ureum dan kreatinin darah.
Pada pemerikasaan Endokrin
Ø Cek gadar gula darah. Apa perlu insulin?
Pada pemerikasaan Kulit
Ø Kaji resiko pasien terhadap terjadinya area yang tertekan dan apakah sudah menggunakan alat-alat bantu yang tepat.
Ø Inspeksi kulit adanya tanda-tanda area yang tertekan.
Ø Cek luka dan lakukan dressing.

pemeriksaan penunjang
-      Chest X-Ray
-      Analisa gas darah
-      Pulmonary Function Test
-      Shunt Measurement (Qs/Qt)
-      Alveolar-Arterial Gradient (A-a gradient)
-      Lactic Acid Level

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BANTUAN VENTILASI MEKANIK (VENTILATOR)
A.    Pengkajian keperawatan
Hal-hal yang perlu dikaji pada psien yang mendapat nafas buatan dengan ventilator adalah:
1.      Biodata
Meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, agama, alamt, dll. Pengkajian ini penting dilakukan untuk mengetahui latar belakang status sosial ekonomi, adat kebudayaan dan keyakinan spritual pasien, sehingga mempermudah dalam berkomunikasi dan menentukan tindakan keperawatan yang sesuai.

2.      Riwayat penyakit/riwayat keperawatan
Informasi mengenai latar belakang dan riwayat penyakit yang sekarang dapat diperoleh melalui oranglain (keluarga, tim medis lain) karena kondisi pasien yang dapat bentuan ventilator tidak mungkin untuk memberikan data secara detail. Pengkajian ini ditujukan untuk mengetahui kemungkinan penyebab atau faktor pencetus terjadinya gagal nafas/dipasangnya ventilator.

3.      Keluhan
Untuk mengkaji keluhan pasien dalam keadaan sadar baik, bisa dilakukan dengan cara pasien diberi alat tulis untuk menyampaikan keluhannya. Keluhan pasien yang perlu dikaji adalah rasa sesak nafas, nafas terasa berat, kelelahan dan ketidaknyamanan.

B.1  Sistem pernafasan
a. Setting ventilator meliputi:
 Mode ventilatorA
- CR/CMV/IPPV (Controlled Respiration/Controlled Mandatory Ventilation/Intermitten Positive Pressure Ventilation)
- SIMV (Syncronized Intermitten Mandatory Ventilation)
- ASB/PS (Assisted Spontaneus Breathing/Pressure Suport)
- CPAP (Continous Possitive Air Presure)
 FiO2: Prosentase oksigen yang diberikanA
 PEEP: Positive End Expiratory PressureA
 Frekwensi nafasA
b. Gerakan nafas apakah sesuai dengan irama ventilator
c. Expansi dada kanan dan kiri apakah simetris atau tidak
d. Suara nafas: adalah ronkhi, whezing, penurunan suara nafas
e. Adakah gerakan cuping hidung dan penggunaan otot bantu tambahan
f. Sekret: jumlah, konsistensi, warna dan bau
g. Humidifier: kehangatan dan batas aqua
h. Tubing/circuit ventilator: adakah kebocoran tertekuk atau terlepas
i. Hasil analisa gas darah terakhir/saturasi oksigen
j. Hasil foto thorax terakhir 

B. 2. Sistem kardiovaskuler
Penkajian kardiovaskuler dilakukan untuk mengetahui adanmya gangguan hemodinamik yang diakibatkan setting ventilator (PEEP terlalu tinggi) atau disebabkan karena hipoksia. Pengkajian meliputi tekanan darah, nadi, irama jantung, perfusi, adakah sianosis dan banyak mengeluarkan keringat.
B. 3. Sistem neurologi
Pengkajian meliputi tingkat kesadaran, adalah nyeri kepala, rasa ngantuk, gelisah dan kekacauan mental.
B. 4. Sistem urogenital
Adakah penurunan produksi urine (berkurangnya produksi urine menunjukkan adanya gangguan perfusi ginjal)
B. 5. Status cairan dan nutrisi
Status cairan dan nutrisi penting dikaji karena bila ada gangguan status nutrisi dn cairan akan memperberat keadaan. Seperti cairan yang berlebihan dan albumin yang rendah akan memperberat oedema paru.
4. Status psycososial
Pasien yang dirawat di ICU dan dipasang ventilator sering mengalami depresi mental lyang dimanifestasikan berupa kebingungan, gangguan orientasi, merasa terisolasi, kecemasan dan ketakutan akan kematian.

Dx.1 : Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan penyakit yang mendasari, atau penyesuaian pengaturan ventilator selama stabilisasi atau penyapihan (pengesetan ventilator tak tepat) .
Tujuan;  GDA / gas darah arteri dalam batas normal
Nilai normal dalam analisa gas darah pada arteri;
-         pH : 7,35 - 7,45 
-         TCO2 : 23-27 mmol/L
-         PaCO2 : 35-45 mmHg
-         BE : 0 ± 2 mEq/L
-         PaO2 : 80-100 mmHg
-         Saturasi O2 : 95 % atau lebih
Intervensi;
ü      Observasi warna kulit dan tanda-tanda sianosis lain pada akral, cuping telinga dan bibir.
ü      Ambil GDA 10-30 menit setelah perubahan ventilator terjadi
ü      Monitor GDA atau oksimetri (mengukur kadar oksigen di darah arteri) selama periode penyapihan
ü      Kaji Posisi yang dapat menyebabkan penurunan PaO2 atau menimbulkan ketidak nyamanan pernapasan klien
ü      Monitor tanda dan gejala hipoksia dan hiperkapnia

Dx.2 : Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan pembentukan secret/ lendir yang berkaitan dengan ventilasi mekanik tekanan positif .
Tujuan; Jalan napas klien dapat dipertahankan
Intervensi;
ü      Auskultasi bunyi napas tiap 2-4 jam
ü      Lakukan penghisapan secret dengan tekanan 100-200 mmHg jika di tandai dengan adanya ronki.
ü      Beri fisioterapi dada sesuai indikasi
ü      Bantu klien untuk melakukan perubahan posisi (diafragma yg lebih rendah akan membantu ekspansi dada dan ekspektorasi dari sekresi)
ü      Monitor humidifer dan suhu ventilator (35 – 37 0C). Humidifikasi dengan cara ventilator dipertahankan untuk membantu pengenceran sekresi sehingga sekresi lebih mudah dikeluarkan.
ü      Monitor status dehidrasi klien untuk mencegah sekresi kental
ü      Monitor ventilator tekanan dinamis untuk mencegah terjadinya perlengketan pada jalan napas
ü      Beri Bronkodilator baik intravena maupun inhalasi, diberikan sesuai dengan resep untuk mendilatasi bronkiolus.

Dx.3 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme tubuh berkaitan dengan penyakit kritis, kurang kemampuan untuk makan peroral.
Tujuan;  Berat badan klien dapat dipertahankan dan mendekati berat badan normal
Intervensi;
ü      Ukur berat badan klien tiap hari (dengan menimbang klien/ mengukur LLA)
ü      Pertahankan asupan nutrisi parenteral secara total dengan diit TKTP (tinggi kalori tinggi protein), hindari kelebihan karbohidrat tinggi yang dapat meningkatkan kadar PaCO2 selama penyapihan.
ü      Monitor dan evalusi keadaan trakeostomi bila terpasangasa nyaman.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito,Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.EGC. Jakarta.

Black, JM., Matassin E. (2002). Medical Surgical Nursing, Clinical Management for Continuity of Care. JB. Lipincott.co

Brunner, L.S, Doris Smith Suddarth. 2002. Buku ajar keperawatan medikal bedah. Vol. 3.E/8. Jakarta: EGC

Price, S A. (2005). Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: EGC

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH