iklan

loading...

Saturday, December 1, 2012

ASKEP PEB

PREEKLAMPSIA BERAT

A. Pengertian
preeklamsi adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Sedangkan eklamsi adalah preeklamsi yang disertai kejang dan atau koma yang timbul bukan akibat kelainan neurology. (Wiknjosastro, 2002)
Preeklamsi adalah penyakit kehamilan yang ditandai dengan adanya trias preeklamsi yaitu adanya edema, hipertensi, dan protein uri (Mansjoer, et al, 2008).
Preeklampsia adalah penyakit hipertensi yang khas dalam kehamilan biasanya timbul sesudah minggu ke-20 dengan gejala utama hipertensi yang akut pada wanita hamil dan wanita dalam nifas sedangkan gejala lainnya antara lain proteinuria dan edema. Kadang-kadang hanya hipertensi dengan proteinuria atau hipertensi dengan edema.

B. Gejala-gejala
-->

1. Hipertensi
Gejala yang timbul pertama kali adalah hipertensi yang terjadi tiba-tiba. Wanita hamil dikatakan hipertensi apabila tekanan sistolik 140 mmHg atau kenaikan 30 mmHg diatas tekanan biasanya. Tekanan diastolik 90 mmHg atau kenaikan 15 mmHg di atas tekanan biasanya.

2. Edema
Gejala edema timbul dengan didahului penambahan berat badan yang berlebihan. Penambahan berat ½ kg seminggu pada ibu hamil dianggap normal, tetapi jika mencapai 1 kg seminggu atau 3 kg dalam sebulan, kemungkinan timbulnya preeklampsia perlu diwaspadai. Penambahan berat badan secara tiba-tiba ini disebabkan oleh retensi air dalam jaringan dan kemudian terjadilah edema. Edema ini tidak hilang dengan istirahat.

3. Proteinuria
Sering ditemukan pada preeklampsia yang dikarenakan adanya vasospasme pembuluh-pembuluh darah ginjal. Konsentrasi protein dalam urine > 0,3 gr dalam spesimen 24 jam.

4. Gejala-gejala subjektif
Gejala-gejala subjektif yang umum ditemukan pada preeklampsia, diantaranya :
a. sakit kepala yang hebat karena vasospasme atau edema otak.
b. sakit di ulu hati karena regangan selaput hati oleh haemorhagia atau edema, atau sakit karena perubahan pada lambung.
c. gangguan penglihatan seperti penglihatan menjadi kabur bahkan bisa menjadi buta. Disebabkan oleh vasospasme, edema atau ablatio retina.

Dikatakan preeklampsia berat jika :

1. hiperfleksia
2. sakit kepala (bagian frontal)
3. gangguan visual, seperti pandangan kabur, silau terhadap cahaya, bintik-bintik pada mata.
4. nyeri epigastrik
5. oliguria, kurang dari 500 cc/24 jam.
6. tekanan darah meningkat, 160/110 mmHg atau lebih.
7. proteinuria meningkat tajam, +3 atau lebih.
8. edema seluruh tubuh

C. Etiologi
Penyebab timbulnya preeklampsia pada ibu hamil belum diketahui secara pasti, tetapi pada umumnya disebabkan oleh vasospasme arteriola.
Walaupun vasospasme mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini, akan tetapi vasospasme ini yang menimbulkan berbagai gejala yang menyertai eklampsia.
Vasospasme menyebabkan :
1. hipertensi
2. pada otak : sakit kepala, kejang
3. pada plasenta : solusio plasenta, kematian janin
4. pada ginjal : oliguri
5. pada hati : ikterus

D. Patofisiologi
Pada preeklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus.

E. Diagnosa
Jika pada seorang wanita hamil dengan umur kehamilan 20 minggu atau lebih timbul hipertensi, proteinuria (+) dan edema maka diagnosa preeklampsia dibuat.
Faktor risiko yang berkaitan dengan perkembangan preeklampsia, yaitu riwayat keluarga yang pernah mengalami preeklampsia atau eklampsia, penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil dan obesitas. Preeklampsia dan eklampsia lebih banyak terjadi pada primigravida, hamil ganda dan mola hidatidosa. Kejadiannya semakin meningkat dengan semakin tuanya umur kehamilan dan gejala-gejala penyakit berkurang bila terjadi kematian janin.

F. Penyulit Pada Preeklampsia
Penyulit pada preeklampsia meliputi penyulit pada ibu dan penyulit pada janin.
1. Penyulit pada ibu antara lain:
a. sistem syaraf pusat (perdarahan intrakranial, hipertensi ensefalopati, edema serebri, edema retina dan kebutaan).
b. gastrointestinal-hepatik (pecahnya kapsul hepar).
c. ginjal (gagal ginjal akut, nekrosis tubular akut)
d. kardiopulmonar (edema paru, iskemia miokardium).

2. Penyulit yang dapat terjadi pada janin ialah intrauterine fetal growth restriction (IUGR), solusio plasenta dan kematian janin.

G. Klasifikasi

Dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :
Pre – eklampsi ringan
Tekanan darah 140 / 90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisis berabaring telentang atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih atau kenaikan siastolik 30 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang – kurangnya 2x pemeriksaan dengan periksa 1 jam
Oedema umum, kaki, jari tangan dan muka atau kenaikan berat badan 1 kg atau lebih per minggu
Protein uri kuantitatif 0,3 gram atau lebih per liter, kualitatif 1+ atau 2+ pada urin cateter atau midsteam
Pre – eklampsi berat
Tekanan darah ≥ 160 / 110 mmHg
Protein urin ≥5 gr / l
Oliguria, yaitu jumlah urin < 500 cc / 24 jam
Adanya gangguan serebral, gangguan visus dan rasa nyeri di epigastrium
Terdapat oedema paru & cyanosis

H. Penanganan Preeklampsia

Tujuan pengobatan preeklampsia ialah :
1. mencegah terjadinya eklampsia
2. anak harus lahir dengan kemungkinan hidup yang besar
3. persalinan harus dengan trauma yang sedikit-dikitnya dan jangan sampai menyebabkan penyakit pada kehamilan dan persalinan berikutnya.
4. mencegah hipertensi yang menetap

Dasar pengobatannya ialah :
1. tirah baring
2. diet
3. obat-obat antihipertensif
4. sedatif
5. induksi persalinan

a. Pengobatan jalan
Pengobatan jalan hanya bisa dilakukan jika preeklampsia ringan sekali, misalnya jika tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg dan edema dan proteinuria tidak ada atau ringan sekali.
Anjuran yang diberikan pada pasien rawat jalan, diantaranya :

1) istirahat sebanyak mungkin di rumah
2) penggunaan garam dikurangi
3) pemeriksaan kehamilan harus 2x seminggu
4) dapat juga diberikan sedativa dan obat-obatan antihipertensi
Catatan : tanda-tanda bahayanya harus diketahui oleh penderita

b. Pengobatan di rumah sakit
Indikasi untuk perawatan di rumah sakit ialah :

1) tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih
2) proteinuria positif kuat (++)
3) terjadi penambahan berat badan 1 ½ kg atau lebih dalam seminggu
Di rumah sakit harus dilakukan pemeriksaan dan observasi yang teliti, meliputi :
1) sakit kepala, gangguan penglihatan dan edema jaringan dan kelopak mata harus ditanyakan dan dicari.
2) berat badan ditimbang 2 hari sekali.
3) tekanan darah diukur 4 jam sekali kecuali pada malam hari jika pasien tidur.
4) cairan yang masuk diukur dan dicatat.
5) pemeriksaan urin rutin
6) pemeriksaan retina
7) pemeriksaan darah

Selanjutnya perawatan dan pengobatan dilakukan sebagai berikut :

1) tirah baring dalam kamar yang tenang dan tidak silau.
2) makanan rendah garam (3 gr sehari), protein harus cukup.
3) cairan yang diberikan kurang lebih 3000 cc, pada preeklampsi sering diberikan diet air selama 24-48 jam.
4) sebagai pengobatan diberikan luminal 4 x 30 gr, jika ada edema dapat diberikan NH4Cl 4 gr sehari tetapi jangan lebih lama dari 3 hari.

Preeklampsia progresif dapat mengakibatkan sindrom HELLP, yaitu hemolisis, peningkatan enzim hati (Elevated Liver Enzim) dan trombosit rendah (Low Platelet).
Wanita dengan sindrom HELLP mungkin tidak mengalami hipertensi atau gangguan ginjal seperti yang biasa terkait dengan preeklampsia.
Manajemen kolaboratif di rumah sakit dapat mencakup :
1. tirah baring
2. penurunan stimulasi lingkungan
3. skrining diabetes
4. penanganan kehamilan multipel
5. mencatat asupan dan keluaran urine tiap 24 jam
6. diet tinggi kalori dan protein
7. pemantauan fungsi hati dan ginjal
8. evaluasi insufisiensi uteroplasenta dan pengkajian kemungkinan adanya IUGR dengan USG jika usia kehamilan belum mencapai 36 minggu.
9. evaluasi kesejahteraan janin
10. infus magnesium sulfat
11. evaluasi waktu bersalin
Pada umur kehamilan <37 minggu bila tanda dan gejala tidak memburuk, kehamilan dapat dipertahankan sampai aterm tapi jika umur kehamilan >37 minggu persalinan ditunggu sampai timbul onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan dan tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan persalinan secara spontan.

Pengelolaan pada preeklampsia berat mencakup pencegahan kejang, pengobatan hipertensi, pengelolaan cairan, pelayanan suportif terhadap penyulit organ yang terlibat dan saat yang tepat untuk persalinan. Penderita preeklampsia berat harus segera masuk rumah sakit untuk rawat inap dan dianjurkan tidur miring ke kiri. Pengelolaan cairan pada preeklampsia bertujuan untuk mencegah terjadinya edema paru dan oliguria. Diuretikumdiberikan jika terjadi edema paru dan payah jantung.

Diuretikum yang dipakai adalah furosemid. Pemberian diuretikum secara rutin dapat memperberat hipovolemi, memperburuk perfusi utero-plasenta, menimbulkan dehidrasi pada janin, dan menurunkan berat janin.Antasida digunakan untuk menetralisir asam lambung sehingga bila mendadak kejang dapat menghindari risiko aspirasi asam lambung.

Pemberian obat antikejang pada preeklampsia bertujuan untuk mencegah terjadinya kejang (eklampsia). Obat yang digunakan sebagai antikejang antara lain diazepam, fenitoin, MgSO4. Saat ini magnesium sulfat tetap menjadi pilihan pertama untuk antikejang pada preeklampsia atau eklampsia. Pemberian magnesium sulfat dapat menurunkan risiko kematian ibu dan didapatkan 50% dari pemberiannya menimbulkan efek flusher (rasa panas). Syarat pemberian MgSO4 yaitu reflekspatella normal, frekuensi pernapasan >16 kali per menit, harus tersedia antidotum yaitu Kalsium Glukonat 10% (1 gram dalam 10 cc) diberikan intravena 3 menit. Pemberian dosis awal MgSO4 yaitu 8 gram IM (4 gram bokong kanan dan 4 gram bokong kiri) dengan dosis lanjutan setiap 6 jam diberikan 4 gram. Pemberian MgSO4 harus dihentikan jika terjadi intoksikasi maka diberikan injeksi Kalsium Glukonat 10% (1 gram dalam 10 cc) dan setelah 24 jam pasca persalinan. Bila terjadi refrakter terhadap pemberian MgSO4 maka bisa diberikan tiopental sodium, sodium amobarbital, diazepam atau fenitoin.

Antihipertensi pada preeklampsia berat diberikan jika tekanan darah 160/110 mmHg. Jenis antihipertensi yang diberikan adalah nifedipin, jika tekanan darah 140/90 mmHg sd <160/110 mmHg diberikan antihipertensi methyldopa jika pasien mengalami edema paru, payah jantung kongesif, edema anasarka diberikan obat golongan diuretikum.

Jenis antihipertensi lain yang dapat diberikan adalah:
1. Hidralazin
Dimulai dengan 5 mg intravena atau 10 mg intramuskuler, jika tekanan darah tidak terkontrol diulangi tiap 20 menit, jika tidak berhasil dengan 20 mg dosis 1 kali pakai secara intravena atau 30 mg intramuskuler dipertimbangkan penggunaan obat lain. Mekanisme kerjanya dengan merelaksasi otot pada arteriol sehingga terjadi penurunan tahanan perifer. Jika diberikan secara intravena efeknya terlihat dalam 5-15 menit. Efek sampingnya adalah sakit kepala, denyut jantung cepat dan perasaan gelisah.

2. Labetalol
Termasuk dalam beta bloker, mekanismenya menurunkan tahanan perifer dan tidak menurunkan aliran darah ke otak, jantung dan ginjal. Obat ini dapat diberikan secara peroral maupun intravena yang dimulai dengan 20 mg secara intravena, jika efek kurang optimal diberikan 40 mg 10 menit kemudian, penggunaan maksimal 220 mg, jika level penurunan tekanan darah belum dicapai obat dihentikan dan dipertimbangkan penggunaan obat lain, “dihindari pemberian Labetalol untuk wanita dengan asma atau gagal jantung kongestif”, jika diberikan secara intravena efeknya terlihat dalam 2-5 menit dan mencapai puncaknya setelah 15 menit, obat ini bekerja selama 4 jam.

3. Beta-bloker (Atenolol, Metoprolol, Nadolol, Pindolol, Propranolol)
Obat-obat tersebut berhubungan dengan peningkatan insiden dari kemunduran intrauterine fetalgrowth dan tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang pada kehamilan, dosis propranolol biasa digunakan >160 mg/hari.

Daftar pustaka

Prawirohardjo, S (2009). Ilmu Kebidanan Edisi Keempat. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.
Varney, H, dkk (2002). Buku Saku Bidan. EGC. Jakarta.
Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W. S., & Setiowulan, W., 2008, Kapita selekta kedokteran, Media Aesculapius, Jakarta.
Wiknjosastro, H. 2002, Ilmu kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH