iklan

loading...

Friday, November 16, 2012

SP RPK

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien :
Data Subjektif :
· Klien mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan
· Klien mengatakan merasa orang lain mengancam
· Klien mengatakan orang lain jahat
Data objektif :
· Klien tampak tegang saat bercerita
· Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan marahnya
· Mata melotot, pandangan tajam
· Mengancam secara verbal dan fisik
· Nada suara tinggi
· Tangan mengepal
· Berteriak/menjerit
· Memukul jika marah
2. Diagnosa : Risiko tinggi perilaku kekerasan
3. Tujuan :
a. Tujuan umum
Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan baik secara fisik, sosial atau verbal, spiritual, dan terapi psikoformatika.
b. Tujuan khusus
· Klien dapat membina hubungan saling percaya
· Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan
· Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
· Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dapat dilakukan
· Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
· Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan
· Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan
· Klien dapat memasukkan latihan ke dalam jadwal kegiatan harian.
4. Tindakan :
· Bina hubungan saling percaya
· Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan marahnya
· Bantu klien mengungkapkan penyebab perilaku kekerasan
· Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya
· Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini
· Diskusikan dengan klien akibat negative (kerugian) cara yang dilakukan pada diri sendiri, orang lain/keluarga, dan lingkungan
· Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan secara fisik : teknik napas dalam
· Anjurkan klien untuk memasukkan kegiatan didalam jadwal kegiatan harian


B. STRATEGI PELAKSANAAN
1. Orientasi :
· Salam Teraupetik
“Selamat pagi Mas. Perkenalkan nama saya yudi, panggil saja Suster yudi.
Saya adalah mahasiswa keperawatan Kharisma. Nama Mas siapa dan suka dipanggil apa? Baiklah mulai sekarang saya akan pangil Mas Recki saja, ya”

· Evaluasi/validasi
“kalau boleh tahu, sudah berapa lama Mas Recki di sini ? Apakah Mas Recki masih ingat siapa yang membawa kesini ? bagaimana perasaan Mas saat ini? Saya lihat Mas sering tampak marah dan kesal, sekarang Mas masih merasa kesal atau marah ?”


· Kontrak
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang hal-hal yang membuat Mas Recki marah dan bagaimana cara mengontrolnya? Ok. Mas?”
“ Tidak lama kok, 15 menit saja”.
“Mas senangnya kita berbicaranya dimana?. Dimana saja boleh kok, asal Mas merasa nyaman. Baiklah, berarti kita berbicara disini saja ya, Mas”


2. Kerja :
“Nah, sekarang coba Mas ceritakan Apa yang membuat Mas Recki merasa marah? ”
Apakah sebelumnya bapak pernah marah? Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang?”
“Lalu saat Mas sedang marah apa yang akan Mas rasakan? Apakah Mas merasa sangat kesal, dada Mas berdebar-debar lebih kencang, mata melotot, rahang terkatup rapat dan ingin mengamuk? ”
“Setelah itu apa yang Mas Recki lakukan? ”
“Apakah dengnan cara itu marah/kesal Mas dapat terselesaikan? ” Ya tentu tidak, apa kerugian yang Mas Recki alami?”
“Menurut Mas adakah cara lain yang lebih baik? Maukah Mas belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?”
”Jadi, ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, Mas. Salah satunya adalah dengan cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik disalurkan rasa marah.”
”Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu? Namanya teknik napas dalam”
”Begini Mas, kalau tanda-tanda marah tadi sudah Mas rasakan, maka Mas berdiri atau duduk dengan rileks, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahan –lahan melalui mulut”
“Ayo Mas coba lakukan, tarik dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali. “
“Bagus sekali, Mas sudah bisa melakukannya”
“ Nah..Mas Recki tadi telah melakukan latiahan teknik relaksasi napas dalam, sebaiknya latihan ini Mas lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-waktu rasa marah itu muncul Massudah terbiasa melakukannya”

3. Terminasi :
· Evaluasi
Evaluasi subjektif:
“Bagaiman perasaan Mas setelah kita berbincang-bincang dan melakukan latihan teknik relaksasi napas dalam tadi? Ya...betul, dan kelihatannya Mas terlihat sudah lebih rileks”.

Evaluasi objektif
”Coba Mas sebutkan lagi apa yang membuat Mas marah, lalu apa yang Mas rasakan saat itu dan apa yang akan Mas lakukan. Kemudian apa akibatnya...”
“Wah...bagus, Mas masih ingat semua...”

· Tindak lanjut
“Bagaimana kalau latihan ini kita masukkan dalam jadwal kegiatan sehari-hari Mas?”
“Kapan waktu yang Mas inginkan untuk melakukan latihan ini? Bagaimana kalau setiap jam 11pagi?”

· Kontrak yang akan datang
“ Nah, Mas. Cara yang kita praktikkan tadi baru salah satu dari teknik saja. Masih adacara yang bisa digunakan untuk mengatasi marah Mas. Cara yang kedua yaitu denganteknik memukul bantal atau kasur.
“Bagaimana kalau kita latihan cara yang kedua ini besok, Mas maunya kita bertemu besok jam berapa?”“Kita latihannya dimana, Mas? Disini saja lagi , Mas” “ok, Mas. Kalau begitu saya pamit dulu ya, Mas.... Assalamualaikum”

Risiko Perilaku Kekerasan
 
Pasien

SP Ip
1. Mengidentifikasi penyebab PK
2. Mengidentifikasi tanda dan gejala PK
3. Mengidentifikasi PK yang dilakukan
4. Mengidentifikasi akibat PK
5. Mengajarkan cara mengontrol PK
6. Melatih pasien cara kontrol PK fisik I (nafas dalam).
7. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP IIp
1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.
2. Melatih pasien cara kontrol PK fisik II (memukul bantal / kasur / konversi energi).
3. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP IIIp
1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.
2. Melatih pasien cara kontrol PK secara verbal (meminta, menolak dan mengungkapkan marah secara baik).
3. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.


SP IVp
1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.
2. Melatih pasien cara kontrol PK secara spiritual (berdoa, berwudhu, sholat).
3. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.


SP Vp
1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.
2. Menjelaskan cara kontrol PK dengan minum obat (prinsip 5 benar minum obat).
3. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
 

Keluarga


SP I k
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
2. Menjelaskan pengertian PK, tanda dan gejala, serta proses terjadinya PK.
3. Menjelaskan cara merawat pasien dengan PK.


SP II k
1. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan PK.
2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien PK.


SP III k
1. Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning).
2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang.

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH