iklan

loading...

Tuesday, November 20, 2012

proposal posyandu


BAB I
PENDAHULUAN


1.      LATAR BELAKANG
Dengan berkembangnya PKMD dan dalam implementasinya menggunakan pendekatan edukatif, munculah berbagai kegiatan swadaya masyarakat untuk pelayanan kesehatan antara lain: Pos Penimbangan Balita, Pos Imunisasi, Pos KB Desa, Pos Kesehatan, Dana Sehat. Selain itu juga muncul berbagai kegiatan lain, yang berada di luar kesehatan, meskipun tetap ada kaitannya dengan bidang kesehatan. Kegiatan-kegiatan tersebut murni muncul dari masyarakat sendiri, dan untuk pelayanan mereka sendiri, dibidang kesehatan. Secara teori, pada periode ini telah muncul perbedaan sudut pandang. Mulai terlihat bahwa salah satu kelemahan dari pendekatan edukatif adalah belum berhasil memunculkan “community real need”. Yang terjadi adalah bahwa melalui pendekatan edukatif ini telah muncul berbagai “community felt need”. Akibatnya muncul berbagai kegiatan masyarakat sesuai kebutuhan masyarakat tersebut. Dengan munculnya aneka ragam kegiatan masyarakat tersebut, sulit untuk memperhitungkan kontribusi kegiatan masyarakat tersebut terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Hal ini mendorong para pengambil keputusan di lingkungan Departemen Kesehatan untuk melakukan perubahan pada pendekatan edukatif sebagai strategi pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka pada tahun 1984, berbagai kelompok kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan (Pos Penimbangan Balita, Pos Imunisasi, Pos KB Desa, Pos Kesehatan), dilebur menjadi satu bentuk pelayanan kesehatan terpadu yang disebut Posyandu (pos pelayanan terpadu). Atau lengkapnya Pos Pelayanan Terpadu KB-Kesehatan. Peleburan menjadi Posyandu tersebut, selain dicoba dikembangkan di Jawa Timur, juga setelah melalui tahap kegiatan uji coba di tiga provinsi, yaitu: Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Dipadukannya pelayanan KB dan kesehatan ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat. Karena dengan keterpaduan pelayanan ini masyarakat dapat memperoleh pelayanan lengkap pada waktu dan tempat yang sama.
Kegiatan posyandu di desa Teluk Bango merupakan salah satu pelayanan kesehatan masyarakat. Tetapi masing-masing daerah (kampung) masih sangat minim dalam hal penyelenggaraan posyandu karena para kader kurang begitu memahami bagaimana kegiatan posyandu baik mengenai cara pelaksanaan maupun mengenai posyandu itu sendiri. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk mengetahui tingkat pengetahuan para kader kesehatan mengenai kegiatan posyandu.
Secara konsepstual, Posyandu merupakan bentuk modifikasi yang lebih maju dalam upaya pemberdayaan masyarakat untuk menunjang pembangunan kesehatan, khususnya dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui penurunan angka kematian bayi. Modifikasi tersebut adalah dengan tetap mempertahankan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat, gotong royong dan sukarela, namun bentuk kegiatan masyarakat dalam pembangunan kesehatan tidak lagi beragam, karena sudah diarahkan dan diseragamkan yaitu Posyandu. Melalui keseragaman kegiatan masyarakat dalam bentuk Posyandu, diharapkan dapat berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, khususnya penurunan angka kematian bayi dan balita.
Posyandu merupakan unit pelayanan kesehatan di lapangan yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk masyarakat dengan dukungan teknis Puskesmas, Departemen Agama, Departemen Pertanian, dan BKKBN. Posyandu melaksankan 5 program kesehatan dasar yakni: KB, kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi, dan penaggulangan diare. Adapun sasaran utama adalah menurunkan angka kematian bayi dan memperbaiki status kesehatan dan gizi balita, maupun ibu hamil dan menyusui.
Posyandu merupakan wadah partsipasi masyarakat, karena Posyandu paling banyak menggunakan tenaga kader. Kader ini merupakan tenaga relawan murni, tanpa dibayar, namun merupakan tenaga inti di Posyandu. Sebagian besar kader adalah wanita, anggota PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Maka dapat dikatakan bahwa PKK merupakan sumber penggerak Posyandu. Tokoh-tokoh di awal terbentuknya Posyandu ini adalah: Dr.  M. Adhyatma, Dr. Suyono Yahya, Ibu Soeparjo Rustam, dll. www.promosikesehatan.com/index.php
Jumlah kader kesehatan di desa Teluk Bango adalah 3 – 4 kader per posyandu dari 18 daerah (kampung) kira-kira 60 – 64 kader kesehatan baik laki-laki maupun perempuan dari keseluruhan posyandu yang terdapat di desa Teluk bango.
Kegiatan di posyandu merupakan kegiatan nyata yang melibatkan partisipasi mayarakat   dalam upaya pelayanan kesehatan dari masyarakat, oleh masyaakat dan untuk masyarakat, yang dilaksanakan oleh kader-kader kesehatan yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan dari puskesmas mengenai pelayanan dasar.

                        
2.      RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pandangan masalah diatas yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah ada tidak adanya hubungan antara pengetahuan para para kader kesehatan terhadap posyandu.

3.      TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa banyak pengetahuan para kader mengenai cara kerja posyandu dan aturan-aturan dari posyandu

4.      KEGUNAAN PENELITIAN
*      Untuk peneliti
Agar peneliti mengetahui tingkat pengetahuan para kader kesehatan mengenai kegiatan posyandu
*      Untuk kader kesehatan
Agar para kader kesehatan dapat mengetahui dan memahami cara kerja dan peraturan dari posyandu


BAB II
STUDI KEPUSTAKAAN

A.    Pengetahuan (Knowledge)
1.      Definisi
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). (Notoatmodjo,  2003)

Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif.
Pengetahuan yang tercantum dalam kognitif mempunyai enam tingkatan.
1)      Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembalisesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu 'tahu'  merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. Contoh: dapat menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita.

2)      Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang telah dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan makanan yang bergizi.


3)      Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemempuan untuk menggunakan meteri yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang kain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam penghitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

4)      Analisa (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, menelompokan dan sebgainya.

5)      Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dan meringkaskan,dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

6)      Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang sudah ada.misalnya dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi.


B.     KADER KESEHATAN
1.      Definisi
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat serta untuk bekerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan. (WHO. Kader Kesehatan Masyarakat. Dr. Adi Heru S. Msc.)
Para kader kesehatan massyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara sederhana.

2.      Kondisi Kerja
Para kader kesehatan masyarakat bertanggung jawab terhadap masyarakat setempat serta pimpinan-pimpinan yang ditunjuk oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan. Diharapkan mereka dapat melaksanakan petunjuk yang diberikan oleh para pembimbing dalam jaringan kerja dari sebuah tim kesehatan.
Para kader mungkin saja bekerja secara full-time atau part-time dibidang pelayanan kesehatan, mereka itu tidak dibayar dengan uang atau bentuk lainnya oleh masyarakat setempat atau oleh pusat kesehatan masyarakat.
Umumnya, masyarakat setempat menyediakan sebuah rumah atau kamarserta beberapa peralatan secukupnya yang dirasa sudah memenuhi persyaratan untuk dilakukannya sebuah pelayanan kesehatan.

3.      Tugas-tugas
Tugas-tugas kader kesehatan meliputi pelayanan kesehatan dan pembangunan kesehatan, tetapi yang mereka lakukan itu seyogyanya terbatas pada bidang-bidang atau tugas-tugas yang pernah diajarkan pada mereka.
Mereka benar-benar harus menyadari tentang keterbatasan yang mereka miliki. Mereka tidak diharapkan mampu mnyelesaikan semua masalah yang dihadapinya, namun benar-benar diharapkan bahwa mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah umum yang terjadi di masyarakat dan amat mendesak untuk diselesaikan.
Mereka harus mampu mengetahui tentang kapan dan dimana harus memperoleh petunjuk, mereka juga harus mampu merujuk dan mencari bntuan bagi seorang penderita yang benar-benar sedang menderita atau mencarikan pengobatan bagi seorang penderita yang cara penanganannya dan pengobatannya diluar kemampuannya.
Para kader harus mampu mengetahui apa yang disebut dengan posyandu seta kegiatan lima meja posyandu.

4.      Pelatihan kader
Bagi para kader kesehatan yang bertugas dipedesaan, mungkin saja lama pelaihan yang mereka butuhkan adalah selama 6 sampai 8 minggu, tetapi mungkin saja lebih lama lagi dari yang telah diperkirakan. Tentu saja pelatihan itu harus amat praktis dan seyogyanya juga dilakukan diwilayah pelayanan kesehatan itu diberikan serta tempat dimana mereka tinggal dan akan bekerja.
Selanjutnya program-program pengawasan atau pengamatan yang dilakukan harus meliputi pengadaan pendidikan lanjutan, latihan ditempat atau latihan ditengah-tengah masyarakat, latihan keterampilan di Puskesmas, atau di tempat lainnya.
§  (WHO. Kader Kesehatan Masyarakat. Dr. Adi Heru S. Msc.)

C.    POSYANDU
1.      Definisi
Posyandu adalah suatu forum komunikasi, alih teknologi, dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis dalam mengembangkan sumber daya kesehatan manusia sejak dini.
Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.
Posyandu adalah pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan oleh dan untuk masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapaian NKKBS.
Drs. Effendi Nasrul. Keperawatan kesehatan masyarakat edisi 2. Jakarta. EGC


2.      Tujuan
1.    Mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak
2.    Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk meningkatkan IMR
3.    Mempercepat penerimaan NKKBS
4.    Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat
5.    pendekatan dan pemerataan palayanan kesehatan kepada masyarakat dalam upaya meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografi
6.    Meningkatkan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi  untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat

3.      Sasaran
1.    Bayi berusia kurang dari 1 tahun
2.    Anak balita usia 1 – 5 tahun
3.    Ibu hamil, ibu menyusui dan ibu nifas
4.    Wanita usia subur

4.      Kegiatan
a)      Lima kegiatan posyandu (Panca Krida Posyandu)
1)      Kesehatan ibu dan anak
2)      Keluarga Berencana
3)      Immunisasi
4)      Peningkatan gizi
5)      Penanggulangan diare
b)      Tujuh kegiatan posyandu (Sapta Krida Posyandu)
1)      Kesehatan ibu dan anak
2)      Keluarga Berencana
3)      Immunisasi
4)      Peningkatan gizi
5)      Penanggulangan diare
6)      Sanitasi dasar
7)      Penyediaan obat esensial

5.      Pembentukan
  1. Pos penimbangan balita
  2. Pos immunisasi
  3. Pos keluarga berencana desa
  4. Pos kesehatan
  5. Pos lainnya yang di bentuk baru

6.      Persyaratan
1.      Penduduk Rw tersebut minimal 100 orang
2.      Terdiri dari 120 kepala keluarga
3.      Disesuaikan dengan kemampuan petugas (bidan desa)
4.      Jarak antara kelompok rumah, jumlah KK dalam satu tempat atau kelompok tidak terlalu jauh

7.      Alasan pendirian posyandu
1.      Posyandu dapat memberikan pelayanan kesehatan khususnya dalam upaya pencegahan penyakit dan P3K sekaligus dengan pelayanan KB
2.      Posyandu dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh masyarakat, sehingga menimbulkan rasa memiliki masyarakat terhadap upaya kesehatan dan keluarga berencana.

8.      Penyelenggara
1.      Pelaksana kegiatan
Adalah anggota masyarakat yang telah dilatih menjadi kader kesehatan setempat dibawah bimbingan pusksmas
2.      Pengelola posyandu
Adalah pengurus yang dibentuk oleh ketua Rw yang berasal dari kader PKK, tokoh masyarakat formal dan informasi serta kader kesehatan yang ada di wilayah tersebut
9.      Lokasi/letak
1.      Berada ditempat yang mudah didatangi oleh masyarakat
2.      Ditentukan oleh masyarakat itu sendiri
3.      Dapat merupakan lokal tesendiri
4.      Bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan di rumah penduduk, balai rakyat, pos Rt/Rw, atau pos lainnya

10.  Pelayanan kesehatan yang dijalankan
1.      Pemeliharaan kesehatan bayi dan balita
a.       Penimbangan bulanan
b.      Pemberian tambahan makanan bagi yang berat badannya kurang
c.       Immunisasi bayi 3 – 14 bulan
d.      Pemberian oralit untuk penanggulangan diare
e.       Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama

2.      Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia subur
a.       Pemeriksaan kesehatan umum
b.      Pemeriksaan kehamilan dan nifas
c.       Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah
d.      Immunisasi TT untuk ibu hamil
e.       Penyuluhan kesehatan dan KB
f.       Pemberian alat kontrasepsi KB
g.      Pemberian oralit pada ibu yang menderita KB
h.      Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama
i.        Pertolongan pertama pada kecelakaan

11.  Sistem lima meja
1.      Meja I
a.       Pendaftaran
b.      Pencatatan bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur

2.      Meja II
Penimbangan balita, ibu hamil
3.      Meja III
Pengisian KMS
4.      Meja IV
a.       Diketahui BB anak yang naik / tidak naik, ibu hamil dengan resiko tinggi, PUS yang belum mengikuti KB
b.      Penyuluhan kesehatan
c.       Pelayanan TMT, oralit, vit A, table zat besi, pil ulangan, kondom
5.      Meja V
a.       Pemberian immunisasi
b.      Pemeriksaan kehamilan
c.       Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan
d.      Pelayanan kontrasepsi IUD, suntikan
Untuk meja I – IV dilaksanakan oleh kader kesehatan dan untuk meja V dilaksanakan oleh petugas kesehatana ; dokter, bidan, perawat, juru immunisasi dan lainnya.

12.  Prinsip dasar
1.      Pos pelayanan terpadu merupakan usaha masyarakat dimana terdapat perpaduan antara pelayanan profesional dan non profesional
2.      Adanya kerja sama lintas program yang baik maupun lintas sektoral
3.      Kelembagaan masyarakat
4.      mempunyai sasarn penduduk yang sama
5.      pendekatan yang digunakan adalah pengembangan dan PKMD/PHC

13.  Pelaksanaan
Dari segi petugas puskesmas
  1. Pendekatan yang dipakai adalah pengembangan dan pembinaan PKMD
  2. Perencanaan terpadu tingkat puskesmas
  3. Pelaksanaan melalui sistem 5 meja dan alih teknologi

Dari segi masyarakat
  1. Kegiatan swadaya masyarakat diharapkan adanya kader kesehatan
  2. Perencanaanya melalui musyawarah masyarakat desa
  3. Pelaksanaannya melalui sistem 5 meja
14.  Langkah-langkah pembentukan
Persiapan sosial
1.      Persiapan masyarakat sebagai pengelola dan pelaksana posyandu
2.      Persiapan masyarakat umum sebagai pengguna posyandu
Perumusan masalah
1.      Survei mawas diri
2.      Penyajian hasil survei

15.  Perencanaan pemecahan masalah
1.      Kaderisasi sebagai pelaksana posyandu
2.      Pembentukan pengurus sebagai pebgelola posyandu
3.      Menyusun rencana kegiatan posyandu

16.  Pelaksanaan kegiatan
1.      Kegiatan diposyandu 1 x sebulan atau lebih
2.      Pengumpulan dana sehat
3.      pencatatan dan pelaporan kegiatan posyandu



BAB III
METODOLOGI


A.    TEMPAT PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di tiap-tiap RW di desa Teluk Bango Kab. Karawang terutama terhadap kader-kadernya.

B.     ETIKA PENELITIAN
Sebelum melakukan penelitian ini, penulis memohon perijinan kepada Direktur Akper Kharisma Karawang dan Kepada aparat desa setempat pada tanggal 28 Oktober 2008.
Dan apabila permohonan penelitian ini mendapat perijinan dari Direktur Akper Kharisma dan dari aparat desa setempat, maka penulis melakukan studi pendahuluan dengan memberikan pertanyaan berupa Quesioner sebanyak 20 pertanyaan kepada para kader kesehatan setiap RW di desa Teluk Bango  sebagai objek penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan para kader kesehatan mengenai posyandu.

C.    DESAIN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasi yang bertujuan untuk menentukan berapa besar variasi – variasi pada satu faktor berkaitan dengan variasi – variasi pada satu atau beberapa faktor lain berdasarkan koefisien korelasi

D.    HIPOTESIS
Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan kader kesehatan dengan posyandu

F.     VARIABLE PENELITIAN
Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel, variabel bebas yaitu pengetahuan kader kesehatan dan variabel terikat yaitu kegiatan posyandu

G.    POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
Populasi yang ditentukan adalah kader-kader yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang lebih di bidang posyandu. Kriteria dari sampel adalah kader-kader yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang lebih di bidang posyandu di desa Teluk bango. Metode yang digunakan adalah pengambilan sampel purposive sample yang didasarkan pada pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti berdasarkan sifat-sifat populasi yang telah diketahui sebelumnya.
Jumlah populasi para kader kesehatan yang ada di desa Teluk Bango yang terdiri dari 18 posyandu sebanyak 64 orang. Untuk mengetahui jumlah sampel yang akan dijadikan objek penelitian maka peneliti menggunakan rumus :

n =             N        
           1 + N (d²)

Keterangan :
n : Perkiraan sampel          d : Tingkat kepercayaan
N : Perkiraan populasi
            Notoatmodjo, 2005.

 n = =
-->

                          N        
           1 + N (d²)


 
64
64
64

= 55 0rang
 
64
1 + 64 (0.05²)
1 + 64 (0.0025)
1 + 0.16
1.16

H.    DEFINISI KONSEPTUAL DAN OPERASIONAL
§  Definisi Konseptual    : Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. (Notoatmodjo,  2003)
§  Definisi operasional : Pengetahuan adalah berbagai mcam ilmu yang dimiliki oleh seseorang setelah belajar yang disimpan di otak.
§  Definisi Konseptual    : Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. (Drs. Effendi Nasrul. KEPERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT EDISI 2.)
§  Definisi Operasional   : Posyandu adalah salah satu  pelayanan kesehatan yang berdiri dimasyarakat untuk meningkatkan kesehatan balita dan keluarga berencana
§  Definisi Konseptual    : Kader Kesehatan adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat serta untuk bekerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan (WHO. Kader Kesehatan Masyarakat. Dr. Adi Heru S. Msc.)
§  Definisi Operasional   : Seseorang yang dipercaya oleh masyarakat untuk menangani masalah kesehatan yang terjadi disekitar lingkungannya dan bekerja sama dengan puskesmas dan perangkat desa.

I.       INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen penelitian ini menggunakan teknik Quesioner Skala Likert yang  digunakan apabila aspek yang ditanyakan tidak diuraikan hanya ditulis pokok-pokoknya saja; pilihan atau option terdiri dari 5 skala atau tingkat; yang dinilai adalah tingkat persetujuan (Setuju sekali s.d Sama sekali tidak setuju). Hal-hal yang ditanyakan dalam kuesioner adalah :
1.      Definisi posyandu
2.      Sistem kerja posyandu
3.      Tujuan posyandu
4.      Sasaran posyandu
5.      Program kegiatan posyandu
6.      Pengertian kader kesehatan
7.      Pelatihan kader kesehatan
8.      Lama kerja kader kesehatan

J.      TEKNIK PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA
Metode pengumpulan data adalah langkah prosedur dan strattegi yang digunakan untuk mengumpulkan data dan menganalisa data dalam penelitian.(polit dan hunger, 1999).
Pengumpulan data dilakukan pada kader-kader sebagai responden di kelurahan Tanjung Pura dengan mengajukan pertanyaan dalam bentuk kuesioner, sebelum responden mengisi kuesioner peneliti menjelaskan terlebih dahulu cara mengisi kuesioner tersebut sampai responden mengerti dan dapat mengisi kuesioner itu dengan benar dan waktu yang disediakan dalam mengisi kuesioner yaitu 20 menit.selama responden mengisi kuesioner peneliti tetap berada di tempat untuk mengawasi dan mengantisipasi bila ada responden yang ingin bertanya.
Setelah data didapatkan, data tersebut dianalisa dan dibuat presentase. Data yang mempunyai presentase paling tinggi merupakan faktor yang paling dominan dan bila ada responden yang mengisi kuesioner tidak sesuai ketentuan maka data itu dianggap hilang.

2 comments:

  1. Teirma kasih atas infromasi yang sudah disampaikan sanat menarik !
    ditunggu aja kunjungan balinya
    Cara Mengobati Kanker Payudara

    ReplyDelete
    Replies
    1. oke gan, terimakasih telah berkunjung.

      Delete

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH