iklan

loading...

Friday, November 30, 2012

LP SC atas indikasi KPD


LAPORAN PENDAHULUAN

1.      Konsep Dasar Post Seksio Sesaria
A.    Pengertian
Seksio sesaria adalah suatu cara melahirkan dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut / vagina atau seksio sesaria adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam janin dari dalam rahim (Rustam. M, 1998). 
B.     Istilah
-   Seksio sesaria primer / efektif
Dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara seksio sesaria, tidak diharapkan lagi kehadiran biasa, misalnya pada panggul sempit (CV kecil dari 8 cm).
-   Seksio sesaria sekunder
Dalam hal ini kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa / partus perobaan bila tidak ada kemampuan persalinan / partus percobaan gagal, baru dilakukan seksio sesaria. 
-    Seksio sesaria ulang atau repeat caesarean section
Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami seksio sesaria (Previous Casarean Section) dan pada kehamilan selanjutnya akan dilakukan sesiao sesaria ulang.
-   Seksio sesaria histerektomi (Caesarean Section Hysterectomy)
Adalah suatu operasi dimana janin dilahirkan secara seksio sesaria langsung dilakukan histerekstomi oleh karena sesuatu indikasi.
-  Operasi porro (Porno Operation)
Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (tentunya janin yang sudah mati), dan langsung dilakukan histerektomi, misalnya pada keadaan infeksi rahim yang berat.
C.    Indikasi 
-          Placenta previa sentralils dan leteralis (prosterior)
-          Panggul sempit
-          Disproporsi sevalo-pelvik yaitu ketidakseimbangan ukuran kepala dengan panggul.
-          Ruptur uteri mengancam.
-          Partus lama (prolonged labor)
-          Partus tak maju (obstructed labor)
-          Distosia seviks.
-          Pre eklampsi dan hipertensi 
·         Letak lintang

Greenhill dan eastman sama-sama sependapat, bahwa :
- Bila ada kesempitan panggul, maka seksio sesaria adalah cara yang terbaik dalam segala letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa.
-  Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan seksio sesaria, walau tidak ada perkiraan panggul sempit. 
-   Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara-cara yang lain.
  
·         Letak bokong
Seksio sesaria dianjurkan pada letak bokong bila ada
-          Panggul sempit
-          Primigravida
-          Janin besar dan berharga 
·         Presentasi dahi dan muka (letak defleksi) bila reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil.  
·         Presentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil. 
·         Gemeli, menurut Eastman seksio sesaria dianjurkan :  
-          Bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu (shoulder presentations)
-          Bila terjadi interiok (locking of the twins)
-          Distosia oleh karena tumor
-          Gawat janin, dan sebagainya. 

D.    Komplikasi
1.      Pada ibu
·         Infeksi puerperal (nifas)
-          Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
-          Sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung.
-          Berat : dengan peritonitis, sepsis dan illeus paralitik, hal ini sering kita jumpai pada partus terlancar dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrafartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.

·         Perdarahan disebabkan karena :
-          Banyak pembuluh darah yang terputus pada terbuka.
-          Atonia uteri
-          Pendarahan pada placenta bed
·         Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonialis terlalu tinggi.
·         Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang
-->

2.      Pada anak
Seperti halnya ibunya, nasib anak yang dilahirkan dengan seksio sesaria banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan seksio sesaria, menurut statistik di negara-negara dengan pengawasan antenatal dan intranantal yang baik, kematian perinatal pada seksio sesaria berkisar 4 dan 7%. 

E.     Kelebihan
1.      Penjahitan luka lebih mudah.
2.      Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik.
3.      Tumpang lebih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum.
4.      Perdarahan kurang.
5.      Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang atau lebih kecil. 

F.     Kekurangan
1.      Luka dapat melebar ke kiri, kanan dan bawah, sehingga dapat menyebabkan arteri uterina putus dna mengakibatkan perdarahan yang banyak. 
2.      Keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi.

G.    Nasehat Pasca Operasi

1.      Dianjurkan jangan hamil selama kurang lebih 1 tahun dengan memakai kontrasepsi 
2.      Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan antenatal yang baik.  

H.    Tife Anastesi 

1.      Anastesi Umum
Berpengaruh depretif pada pusat pernapasan janin, tonus uterus, sehingga kadang-kadang timbul perdarahan post partum karena atonia uteri, bila kandung kemih tidak kosong ada kemungkinan isi lambung masuk ke jalan pernapasan.
2.      Anastesi Spinal
Aman untuk janin tetapi ada kemungkinan bahwa tekanan darah penderita menurun akibat yang buruk bagi ibu dan janin.
3.      Anastesi Lokal
Merupakan cara yang paling aman tetapi tidak selalu dapat dilakukan berhubungan dengan sikap mental penderita.

2.      Konsep Dasar Ketuban Pecah Dini

A.    Pengertian

Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput sebelum infartu yaitu pembukaan pada primipara kurang dari 3 cm, dan pada multipara kurang dari 5 cm (Manuaba, 1995). Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum ada tanda-tanda persalinan (Mansjoer, A.et.all, 1999).  

B.     Etiologi
Penyebab katuban pecah dini mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.      Serviks inkompeten
2.      Ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion
3.      Kelainan letak janin dalam rahim; letak sungsang, letak lintang.
4.      Kemungkinan kesempitan panggul; perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP, sefalpolveik disproporsi. 
5.      Kelainan bawaan dari selaput ketuban.  
6.      Infeksi yang menyebabkan terjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.  

C.    Patofisiologi
Infeksi yang berasal dari vagina dan serviks dapat menyebabkan jaringan ikat dan vaskularisasi berkurang, sehingga kekuatan membran berkurang dan bila terjadi dilatasi serviks akan mengakibatkan pecahnya ketuban. Atau apabila tekanan intra uterine meningkat akan terjadi peregangan-peregangan dinding rahim sehingga cairan keluar pervaginam. 

D.    Dasar-dasar Diagnosis Ketuban Pecah Dini
Diagnosis ketuban pecah dini tidak sulit ditegakan dengan keterangan terjadi pengeluaran cairan mendadak disertai bau yang khas, selain keterangan yang disampaikan dapat dilakukan pemeriksaan yang menetapkan bahwa cairan yang keluar adalah air, ketuban diantaranya Test Ferning, dan Nitrazine, Test.  
Langkah pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis ketuban pecah dini yang dilakukan adalah sebagai berikut :  
1.      Pemeriksaan spekulum, untuk mengambil sampel cairan diforniks posterior dan mengambil sampel cairan untuk kultur dan pemeriksaan bakteriologis.  
2.      Melakukan pemeriksaan dalam dengan hati-hati, sehingga tidak banyak manipulasi daerah pelvis untuk mengurangi kemungkinan infeksi asenden dan persalinan prematurius. 

E.     Komplikasi Ketuban Pecah Dini yang Mungkin Timbul
1.     Pada ibu
a.       Partus lama dan infeksi
b.      Atonia uteri
c.       Infeksi nifas
d.      Perdarahan post partum
2.     Pada anak atau bayi
a.       Asfiksia
b.      Prematurius
F.     Penatalaksanaan
Ketuban pecah dini merupakan sumber persalinan, infeksi terhadap ibu maupun yang cukup besar dan potensial. Oleh karena itu, penatalaksanaan ketuban pecah dini perlu tindakan yang rinci sehingga tatalaksana ketuban pecah dini menurunkan kejadian persalinan prematuritas dan infeksi memberikan profilasksis antibiotik dan membatasi pemeriksaan dalam merupakan tindakan yang perlu diperhatikan. Disamping itu makin kecil umur kehamilan makin besar peluang terjadi infeksi di dalam rahim, yang dapat memacu terjadinya persalinan prematuritus bahkan berat janin kurang dari 1 kg.

Sebagai gambaran umum untuk tatalaksana ketuban pecah dini dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.      Mempertahankan kehamilan sampai cukup matur khususnya maturitas paru sehingga kejadian kegagalan perkembangan paru yang sehat.
2.      Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu corioamniotis yang menjadi pemicu sepsis, meningitis janin sudah dan persalinan prematuriatas.
3.      Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan langsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid sehingga kematangan paru dapat terjamin.
4.      Pada umur kehamilan 24 sampai 32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi janin, dengan kemungkinan janin tidak bisa diselamatkan.
5.      Menghadapi ketuban pecah dini, diperlukan KIM terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan janinnya.
6.      Pemeriksaan yang penting dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan perlu dilakukan aspirasi air ketubanuntuk melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui perbandingan L/S penyelesaian persalinan dapat dilakukan dengan tindakan :
1.      Partus spontan
2.      Vakum ekstraksi
3.      Porsef ekstraksi
4.      Embriotomi bila anak sudah meninggal
5.      Seksio sesaria adalah induksi obstetri.

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH