iklan

loading...

Wednesday, October 10, 2012

PEMERIKSAAN PHOTO TORAKS



PEMERIKSAAN PHOTO TORAKS

I. Pendahuluan 
Pemeriksaan radiologik toraks merupakan pemeriksaan yang sangat penting. Kemajuan yang sangat pesat selama dasawarsa terakhir dalam teknik pemeriksaan radiologik toraks dan pengetahuan untuk menilai suatu roentgenogram toraks menyebabkan pemeriksaan toraks dengan sinar roentgen ini suatu keharusan rutin.
Pemeriksaan paru tanpa pemeriksaan roentgen saat ini dapat dianggap tidak lengkap. Suatu penyakit paru belum dapat disingkirkan dengan pasti sebelum dilakukan pemeriksaan radiologik. Selain itu,berbagai kelainan dini dalam paru juga sudah dapat dilihat dengan jelas pada foto roentgen sebelum timbul gejala-gejala klinis. Foto roentgen yang dibuat pada suatu saat tertentu dapat merupakan dokumen yang abadi dari penyakit seorang penderita, dan setiap waktu dapat dipergunakan dan diperbandingkan dengan foto yang dibuat pada saat- saat lain.
Photo Toraxs

II.  Macam – Macam Cara Pemeriksaan
v FLUOROSCOPY THORAX
Adalah cara pemeriksaan yang mempergunakan sifat tembus sinar roentgen dan suatu tabir yang bersifat fluoresensi bila terkena sinar tersebut. Umumnya cara ini tidak dipakai lagi,hanya pada keadaan tertentu,yaitu bila kita ingin menyelidiki pergerakan suatu organ/sistem tubuh seperti dinamika alat-alat peredaran darah, misalnya jantung dan pembuluh darah besar; serta pernapasan berupa pergerakan diafragma dan aerasi paru- paru.

v ROENTGENOGRAPHY
Adalah pembuatan  foto roentgen toraks. Agar distorsi dan magnifikasi yng diperoleh menjadi sekecil mungkin, maka jarak antara tabung dan film harus 1,80 meter dan foto dibuat sewaktu penderita sedang bernapas dalam (inspirasi).

v TOMOGRAPHY
Istilah lainnya : Planigrafi , Laminagrafi , atau Stratigrafi.
Pemeriksaan lapis demi lapis dari rongga dada, biasanya untuk evaluasi adanya tumor atau atelektase yang bersifat padat.

v COMPUTERIZED TOMOGRAPHY (CT SCAN)
Yaitu Tomography transversal, dengan X-ray dan komputer. Pemeriksaan ini terutama untuk daerah mediastinum.

v BRONCHOGRAPHY
Ialah pemeriksaan percabangan bronkus, dengan cara mengisi saluran bronkial dengan suatu bahan kontras yang bersifat  opaque (menghasilkan bayangan putih pada foto). Bahan kontras tersebut biasanya mengandung jodium (lipiodol, dionosil, dsb).
Indikasi pemeriksaan ini misalnya pada Bronkiektasis untuk meneliti letak, luas, dan sifat bagian-bagian bronkus yang melebar; dan pada tumor-tumor yang terletak dalam lumen bronkus (space occupying lesions), yang mungkin mempersempit bahkan menyumbat sama sekali bronkus bersangkutan.

v ARTERIOGRAPHY
Mengisi kontras pada pembuluh darah pulmonale, sehingga dapat diketahui vaskularisasi pada mediastinum atau pada paru.


v ANGIOCARDIOGRAPHY
Adalah pemeriksaan untuk melihat ruang-ruang jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar dengan sinar roentgen (fluoroskopi atau roentgenografi), dengan menggunakan suatu bahan kontras radioopaque, misalnya Hypaque 50%, dimasukkan kedalam salah satu ruang jantung melalui kateter secara intravena.

III. Indikasi Dilakukan Foto Thorax
        Indikasi dilakukannya foto toraks antara lain :
1.            Infeksi traktus respiratorius bawah
Misalnya : TBC Paru, bronkitis, Pneumonia
2.           Batuk kronis
3.           Batuk berdarah
4.           Trauma dada
5.           Tumor
6.           Nyeri dada
7.           Metastase neoplasma
8.           Penyakit paru akibat kerja
9.           Aspirasi benda asing

IV. Posisi Pada Foto Thorax
Ø Posisi PA (Postero Anterior)
Pada posisi ini film diletakkan di depan dada, siku ditarik kedepan supaya scapula tidak menutupi parenkim paru.

Ø Posisi AP (Antero Posterior)
Dilakukan pada anak-anak atau pada apsien yang tidak kooperatif. Film diletakkan dibawah punggung, biasanya scapula menutupi parenkim paru. Jantung juga terlihat lebih besar dari posisi PA.

Ø Posisi Lateral Dextra & Sinistra
Posisi ini hendaknya dibuat setelah posisi PA diperiksa. Buatlah proyeksi lateral kiri kecuali semua tanda dan gejala klinis terdapat di sebelah kanan, maka dibuat proyeksi lateral kanan,berarti sebelah kanan terletak pada film. Foto juga dibuat dalam posisi berdiri.

Ø Posisi Lateral Dekubitus
Foto ini hanya dibuat pada keadaan tertentu,yaitu bila klinis diduga ada cairan bebas dalam cavum pleura tetapi tidak terlihat pada foto PA atau lateral. Penderita berbaring pada satu sisi (kiri atau kanan). Film diletakkan di muka dada penderita dan diberikan sinar dari belakang arah horizontal.

Ø Posisi Apikal (Lordotik)
Hanya dibuat bila pada foto PA menunjukkan kemungkinan adanya kelainan pada daerah apex kedua paru. Proyeksi tambahan ini hendaknya hanya dibuat setelah foto rutin diperiksa dan bila ada kesulitan menginterpretasikan suatu lesi di apex.

Ø Posisi Oblique Iga
Hanya dibuat untuk kelainan-kelainan pada iga (misal pembengkakan lokal) atau bila terdapat nyeri lokal pada dada yang tidak bisa diterangkan sebabnya, dan hanya dibuat setelah foto rutin diperiksa. Bahkan dengan foto oblique yang bagus pun, fraktur iga bisa tidak terlihat.

Ø Posisi Ekspirasi
Adalah foto toraks PA atau AP yang diambil pada waktu penderita dalam keadaan ekspirasi penuh. Hanya dibuat bila foto rutin gagal menunjukkan adanya pneumothorax yang diduga secara klinis atau suatu benda asing yang terinhalasi.

V. INTERPRETASI FOTO THORAX
Cara sistematis untuk membaca foto thorax, sebagai berikut :
1.     Cek apakah sentrasi foto sudah benar dan foto dibuat pada waktu inspirasi penuh. Foto yang dibuat pada waktu ekspirasi bisa menimbulkan keraguan karena bisa menyerupai suatu penyakit misal kongesti paru, kardiomegali atau mediastinum yang lebar. Kesampingkan bayangan-bayangan yang terjadi karena rambut, pakaian atau lesi kulit.
2.    Cek apakah Exposure sudah benar ( bila sudah diperoleh densitas yang benar, maka jari yang diletakkan di belakang “daerah yang hitam” pada foto tepat dapat terlihat). Foto yang pucat karena “underexposed” harus diinterpretasikan dengan hati-hati, gambaran paru bisa memberi kesan adanya edema paru atau konsolidasi. Foto yang hitam karena “overexposed” bisa memberi kesan adanya emfisema.
3.    Cek apakah tulang-tulang (iga, clavicula, scapula,dll) Normal.
4.    Cek jaringan lunaknya, yaitu kulit, subcutan fat, musculus-musculus seperti pectoralis mayor, trapezius dan sternocleidomastoideus. Pada wanita dapat terlihat mammae serta nipplenya.
5.    Cek apakah posisi diafragma normal ; diafragma kanan biasanya 2,5 cm lebih tinggi daripada kiri. Normalnya pertengahan costae 6 depan memotong pada pertengahan hemidiafragma kanan.
6.    Cek sinus costophrenicus baik pada foto PA maupun lateral.
7.    Cek mediastinum superior apakah melebar, atau adakah massa abnormal, dan carilah trachea.


8.    Cek adakah kelainan pada jantung dan pembuluh darah besar. Diameter jantung pada orang dewasa (posisi berdiri) harus kurang dari separuh lebar dada. Atau dapat menentukan CTR (Cardio Thoracalis Ratio).
9.    Cek hilus dan bronkovaskular pattern. Hilus adalah bagian tengah pada paru dimana tempat masuknya pembuluh darah, bronkus, syaraf dan pembuluh limfe. Hilus kiri normal lebih tinggi daripada hilus kanan.


VI. SYARAT FOTO THORAX PA
Syarat- syarat foto thorax PA bila memungkinkan :
1.  Posisi penderita simetris. Hal ini dapat dievaluasi dengan melihat apakah proyeksi tulang corpus vertebra thoracal terletak di tengah sendi sternoclavikuler kanan dan kiri.
2.  Kondisi sinar X sesuai. mAs (jumlah sinar) cukup dan
kV (kualitas sinar) cukup.
3.  Film meliputi seluruh cavum thorax. Mulai dari puncak cavum thorax sampai sinus-sinus phrenicocostalis kanan kiri dapat terlihat pada film tersebut.

VII. KELAINAN RADIOLOGI THORAX
Berikut ini adalah kelainan – kelainan radiologi toraks :
1.  Kesalahan teknis saat pengambilan foto sehingga mirip suatu    penyakit, misal : - sendi sternoclavicula sama jauhnya dari
                               garis tengah
-    Diafragma letak tinggi
-    Corakan meningkat pada kedua lobus bawah
-    Diameter jantung bertambah
2.  Pada Jantung : Cardiomegali
     -   Apex cordis tergeser kebawah kiri pada pembesaran
         Ventrikel kiri
-       Apex cordis terangkat lepas dari diafragma pada pembesaran ventrikel kanan
3.  Pada Mediastinum : Massa mediastinum
4.  Pada Pulmo
a)   Oedema paru
-    Bayangan dengan garis tidak tegas
-    Terdapat suatu bronkogram udara
-    Tanda “silhouette” yaitu hilangnya visualisasi bentuk diafragma atau mediastinum berdekatan

b)  Pemadatan paru, seperti : TBC paru, Pneumonia
-    Terlihat pemadatan berbercak – bercak dengan bayangan berbatas tidak jelas
-    Terlihat kavitasi (pembentukan abses)

c)   Kolaps paru / ateletaksis
-    Terdapat bayangan lobus yang kolaps
-    Ditemukan tanda “silhouette”
-    Pergeseran struktur untuk mengisi ruangan yang normalnya ditempati lobus yang kolaps
-    Pada kolaps keseluruhan paru : keseluruhan hemithorax tampak opaque dan ada pergeseran hebat pada mediastinum dan trachea

d)  Massa paru, misal : abses paru, kista hydatid
-    Ditemukan lesi uang logam (coin lesion) / nodulus
-    Terdapat bayangan sferis

e)   Bayangan kecil tersebar luas
-    Bayangan cincin 1 cm bersifat diagnostic bagi bronkiektasis
-    Kalsifikasi paru yang kecil tersebar luas dapat timbul setelah infeksi paru oleh TB
-    Area pemadatan kecil berbatas tidak jelas menunjukkan adanya bronkiolitis

f)   Bayangan garis
-    Biasanya tidak lebih tebal dari garis pensil, yang terpenting adalah garis septal, dapat terlihat pada limfangitis Ca

g)   Sarkoidosis
-    Terlihat limfadenopati hilus dan paratrachealis
-    Bayangan retikulonodularis pada paru

h)  Fibrosis paru
-    Bayangan kabur pada basis paru yang menyebabkan kurang jelasnya garis bentuk pembuluh darah,kemudian terlihat nodulus berbatas tak jelas dengan garis penghubung.
-    Volume paru menurun, sering jelas, dan translusensi sirkular terlihat memberikan pola yang dikenal sebagai “paru sarang tawon”, kemudian jantung dan arteria pulmonalis membesar karena semakin parahnya hipertensi pulmonalis.

i)    Neoplasma
-    Bayangan bulat dengan tepi tak teratur berlobulasi dan tepi terinfiltrasi
-    Terdapat kavitasi dengan massa

5.  Pada Pleura
a)  Efusi Pleura
-    Terlihat cairan mengelilingi paru, lebih tinggi di lateral daripada medial, juga dapat berjalan ke dalam fissura terutama ke ujung bawah fissura obliqua

b)  Fibrosis Pleura
-    Penampilannya serupa dengan cairan pleura, tetapi selalu lebih kecil daripada bayangan asli. Sudut costophrenicus tetap terobliterasi.

c)  Kalsifikasi Pleura
-    Plak kalsium tak teratur, dapat terlihat dengan atau tanpa disertai penebalan pleura

d)  Pneumothorax
-    Garis pleura yang membentuk tepi paru yang terpisah dari dinding dada, mediastinum atau diafragma oeh udara
-    Tak adanya bayangan pembuluh darah diluar garis ini.

6.  Pada Diafragma
a)  Paralisis Diafragma
-    Akibat kelainan nervus phrenicus, misal invasi oleh karsinoma bronchus
-    Ditandai oleh elevasi 1 hemidiaphragma

b)  Eventrasi Diafragma
-     Merupakan keadaan kongenital, yang diafragmanya tanpa otot dan menjadi lembaran membranosa tipis.


DAFTAR PUSTAKA
1.      Rasad Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Edisi ke-2. Balai Penerbit FKUI. Jakarta,2005.
2.     Palmer P.E.S, Cockshott W.P, Hegedus V, Samuel E. Manual of Radiographic Interpretation for General Practitioners (Petunjuk Membaca Foto Untuk Dokter Umum). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta : EGC,1995.
3.     Armstrong Peter, L.Wastie Martin. Pembuatan Gambar Diagnostik. Jakarta : EGC,1989

3 comments:

  1. Nih saya kunjungi balik, mantep nih materi postingannya...

    ReplyDelete
  2. trik mengatasi Ejakulasi Dini – tidak hanya ukuran Penis yg ajaib mengobral pertanyaan yang kerap dihadapi pasangan suami wanita yakni perkara ejakulasi dini. pertanyaan ini cukup serius dikarenakan dialami lumayan tidak sedikit pria dan ikut mempengaruhi mutu pertalian seks mereka. tidak sedikit laki laki yang menyadari pentingnya menurunkan kepuasan bagi pasangannya.

    faktor ini dapat mempengaruhi keharmonisan sebuah hubungan dan memelihara hubungan supaya tetep kekal dan mesra. urusan ejakulasi dini muncul didasari alamat bukti bahwa sekitar udara memerlukan dikala yg jauh obsolet buat menggapai akhir klimaks saat satu buah pasangan tambah berhubungan intim, bahkan ada masih yg kesulitan mengalami orgasme kala berhubungan dgn pasangannya. cara mengalahkan Ejakulasi Dini

    era yg pass panjang diwaktu berhubungan intim dipercaya memberikan sensasi yang lebih untuk dirasakan saat berhubungan badan. Penetrasi yang dilakukan dekat ketika yg lebih bahari berpengaruh kembali dengan mungkin saja pencapaian orgasme yang lebih mengobral perihal – faktor inilah yang mendasari munculnya keluhan ejakulasi dini.

    Apabila pertanyaan masih belum sanggup terpecahkan serta-merta menghubungi dokter spesialis andrologi Klinik apollo pada wawancara lebih lanjut di Hotline No. (021)-62303060.


    Andrologi | bagaimana mengatasi kulup panjang

    Apakah sunat sakit | Metode sunat modern terkini

    hubungi Dokter | Chatting gratis

    ReplyDelete

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH