BARANGKALI ANDA MEMBUTUHKAN :

JIKA MERASA KURANG LENGKAP SILAHKAN CARI

Minggu, 28 Oktober 2012

Dualisme Pembangunan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang.
Pertama-tama, perhatikanlah sebuah ekonomi yang terdiri dua bagian. Interaksi di dalam sebuah ekonomi dengan dua sektor dapat rumit, meskipun tanpa pemisahan lebih jauh. Pembagian antara kedua bagian itu ditandai dengan sejumlah cara, yang masing-masing mempunyai keuntungan, disamping kemungkinan yang menyebabkan timbulnya kesalahan. Hampir semua Negara menghadapi system dualisme ini. Dikota-kota atu di dekatnya, perekonomian sudah bersifat industry dan uang digunakan secara luas. Sedangkan di luar kota yaitu di desa-desa, perekonomian masih tingakat rendah (subsistem). Lagi pula di beberapa Negara terdapat daerah kantong bagi industri asing (foreign enclave industry) yang dapat menciptakan triplisme di daerah itu. 
    Sebelum kita melihat lebih jauh apa yang menjadi permasalahan ekonomi Indonesia yang berhubungan dengan dualismenya, kita perlu mengerti lebih dahulu apa pengertian dualisme tersebut. Dualisme adalah suatu keadaan di mana “sang superior” hidup berdampingan dengan
“sang inferior” namun tidak memiliki hubungan yang erat, tidak akan mati dengan sendirinya
oleh karena alasan waktu, bahkan jurang pemisah antara “sang superior” dan “sang inferior” makin terbuka lebar seiring perkembangan zaman. Dualisme dapat dipandang dari berbagai kasanah, seperti sosial, teknologi, geografi (kawasan), dan ekonomi. Dalam hal ini yang akan dibahas adalah dari sudut pandang ekonomi.
Teori dualisme pertama kalinya dikemukakan oleh seorang ekonom Belanda, J.H. Boeke. Teorinya berasal dari suatu fenomena di mana konsep ekonomi Barat yang dibawa dan diterapkan oleh para penjajah ternyata tidak mampu untuk mensejahterakan rakyat jajahannya (dalam hal ini rakyat Indonesia). Dalam artian mengalami kegagalan.
Negara eks jajahan (sekarang bisa disebut negara sedang berkembang) memiliki pola dan sistem sosial yang berbeda dengan negara Barat. Pada awalnya pola dan sistem sosial Barat memiliki daya penetrasi yang cukup kuat untuk masuk ke dalam sistem sosial negara jajahannya. Keduanya hidup berdampingan antara sistem sosial liberal Barat dengan sistem sosial lokal negara jajahan (dalam hal ini Indonesia). Tetapi memang pada dasarnya adalah berbeda, tidak mungkin untuk disama- samakan Penetrasi yang dilakukan ternyata tidak (bisa dibaca: kurang) bermakna dan menyokong satu dengan lainnya. Semuanya kelihatan semu, cantik di luar namun ada borok di dalamnya. Tidak menyembuhkan penyakit yang sesungguhnya.
Sang superior dan inferior yang dimaksud dalam dualisme ekonomi Indonesia adalah industri dan pertanian. Industri diagung-agungkan oleh kebanyakan pihak, dipandang sebagai penggerak utama perekonomian bangsa, sementara sektor pertanian (kerakyatan), sang soko guru ekonomi, hanya dipandang sebelah mata atau mungkin tidak dipandang sama sekali. Keduanya memang berjalan beriringan, namun tidak terintegrasi sama sekali dan ternganga jurang yang besar di antaranya. . Ini lah dualisme ekonomi bangsa Indonesia.
1.    Dualisme Regional,Dibicarakan Para Ahli (1960) : Yaitu adanya ketidakseimbangan pembangunan di berbagai daerah dalam suatu wilayah negara.Dualisme Regional dibedakan 2 jenis, yaitu :
    1. Dualisme antara daerah perkotaan dan pedesaan
    2. Dualisme antara pusat negara, pusat industri dan perdagangan dengan daerah-daerah lain dalam negara tersebut.
1.2    Masalah Pokok
Hampir semua Negara menghadapi sistem dualisme terutama di Indonesia. Indonesia menurut J.H. Boeke mengalami dualisme ekonomi atau dua sistem ekonomi yang berbeda dan berdampingan kuat. Dua sistem tersebut bukan sistem ekonomi transisi dimana sifat dan ciri-ciri yang lama makin melemah dan yang baru makin menguat melainkan kedua-duanya sama kuat dan jauh berbeda. Perbedaan tersebut karena sebagai akibat penjajahan orang-orang Barat.
Apabila tidak terjadi kedatangan orang-orang Barat mungkin sistem pra-kapitalisme Indonesia dan dunia Timur pada umunya pada suatu waktu akan berkembang menuju sisitem atau tahap kapitalisme. Akan tetapi sebelum perkembangan kelembagaan-kelembagaan ekonomi dan sosial menuju ke arah sama, penjajah dengan sisitem kapitalismenya (dan sosialismenya serta komunisme) telah masuk ke dunia Timur. Inilah yang menimbulkan sistem dualisme atau masyarakat dualisme.
1.3.     Tujuan
    pembanding dan sumber untuk mahasiswa secara khusunya dan masyarakat luas pada umumnya, bahwa Indonesia menganut dualism ekonomi atau mempunyai dua system ekonomi.
    Telah kita ketahui bersama bahwa dualisme ekonomi mempunyai dua ( 2 ) aspek penting yaitu :
a.    Perekonomian pasar ( The Market Economy )
b.    Perekonomian sub sistem
c.    Daerah kantong asing ( The Foreign Enclaves )
Dari ke tiga aspek di atas konsep dualisme ekonomi adalah perbedaan antara bangsa kaya dan miskin, perbedaan antara berbagai golongan masyarakat yang semakin meningkat.
Konsep dualisme mempunyai 4 ( empat ) unsure pokok yaitu :
a.    Dua keadaan yang bersifat superior dan keadaan bersifat inferior yang bisa hidup berdampingan pada ruang dan waktu yang sama.
b.    Kenyataan hidup berdampingan dua keadaan yang berbeda bersifat kronis dan bukan tradisional.
c.    Derajat superioritas dan inferioritas tidak menunjukan kecenderungan yang menurut, bahkan terus meningkat.
d.    Keterkaitan antar unsure berpengaruh kecil.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
    J.H.Boeke (Ekonomi Belanda)
menurut J.H. Boeke mengalami dualisme ekonomi atau dua sistem ekonomi yang berbeda dan berdampingan kuat. Dua sistem tersebut bukan sistem ekonomi transisi dimana sifat dan ciri-ciri yang lama makin melemah dan yang baru makin menguat melainkan kedua-duanya sama kuat dan jauh berbeda. Perbedaan tersebut karena sebagai akibat penjajahan orang-orang Barat.
Menurut J.H Boeke (1953), perkembangan masyarakat didukung oleh tiga unsur,  yaitu dasar jiwa sosial, bentuk organisasi, dan teknik yang mendukunganya. Ketiga unsur tersebut saling berkait, bentuk-bentuk organisasi, dan teknik yang unggul akan akan menentukan warna masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu, ketiga unsur tersebut sering disebut sebagai system sosial. Dalam suatu masyarakat yang sedang mengalami perkembangan tidak selalu dikuasai oleh suatu system sosial saja.
Dualisme ini berarti dalam waktu yang sama di dalam masyarakat terdapat dua gaya sosial yang jelas berbeda satu sama lain, dan masing-masing berkembang secara penuh serta saling mempengaruhi. 
Dualisme Ekologis, CLIFFORD GEERTZ (1963)
 Perbedaan dalam sistim ekologis. Menggambarkan pola-pola sosial ekonomi menyatu dalam keseimbangan internal.
Bachirawi Sanusi (2004)
Dualisme merupakan himpunan masyarakat yang berbeda yang memungkinkan pihak yang termasuk superior dan yang inferior hidup berdampingan di suatu tempat yang sama.
Pengertian mengenai dualisme memeberikan kejelasan
Drs. Irawan M.B.A (2002)
Dualisme ekonomi yaitu kegiatan ekonomi dan keadaan ekonomi serta keadaan yang lain dalam suatu masa tertentu, atau dalam suatu sektor ekonomi tertentu yang memiliki sifat tidak seragam. Dualisme ekonomi  ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ekonomi tradisional dan ekonomi modern.
Pakar ekonomi Myint (1967) dan Higgins (1968)
Bahwa dualisme teknologi adalah suatu keadaan dimana didalam suatu bidang kegiatan ekonomi digunakan teknologi dan organisasi produksi yang mengkutup. Artinya pada sektor ekonomi yang lebih maju dan modern diginakan teknologi canggih, dan organisasi produksi yang efisien. Ini dapat dapat kita temukan pada bidang-bidang kegiatan ekonomi seperti: industri tambang  dan minyak, industri pengolahan, industri jasa angkut modern, dunia perbankan dan jasa lembaga keuangan lain, dan sebagainya. Sedangkan pada bidang kegiatan ekonomi seperti : kegiatan ekonomi sub sektor bahan makanan, dan pertanian tradisional secara umum, dan jasa pelayanan tradisional, menggunakan teknologi dan organisasi produksi yang konfensional, atau lebih rendah dari pada kelomp[ok pertama.
Arthur Lewis (1970) kemudian John fei dan Gustaf Ranis (1975)
Mengemukakan dualitas sosial ekonomi dalam pembangunan dan pertumbuhan di Negara-negara yang kelebihan tenaga kerja. Menurut konsep ini, kelebihan tenaga kerja bisa dialihkan dari sektor tradisional yang subsisten untuk untuk meningkatkan produksi non pertanian. Mereka memandang kota dengan industri moderennya sebagai pusat dinamika yang secara lambat laun mengubah sifat status tatanan pedesaan dengan cirri pertanian yang lamban dan produktivitas tenaga kerjanya yang sangat rendah .
Todarto (1978)
Mengatakan bahwa konsepsi dualisme semacam ini telah menjadi bahan pembicaraan secara luas dalam ekonomika pembangunan menunjukan adanya empat elemen dalam ekonomika pembangunan, yaitu sampaii berikut.
    Pertama,bahwa kendatipun ada perbedaan dari yang merasa lebih dalam banyak hal, ternyata dalam waktu-waktu tertentu dapat melakukan kerja sama.
    Kedua, bahwa kerja sama (ko-eksistensi) bukanlah semata-mata transisi.
    Ketiga, bahwa  tingkat superioritas dan inferioritas antar kelompok daalm suatu Negara dalam antarnegara, bukannya makin meyempit, tetapi ada tendensi meningkat.
    Keempat,interrelasi antara elemen superior dan inferior sedemikian rupa sehinggaa dapat dikatakan elemen-elemen kelompok superior tidak menarik keatas elemen-elemen pada kelompok inferior.

 Bruce herrick /Charles P.
Bahwa hampir semua Negara menghadapi sistem dualisme ini. Di kota-kota atau di dekatnya, perekonomian sudah bersifat industri dan uang digunakan secara luas. Sedangkan diluar kota yaitu di desa-desa,perekonomian masi pada tingakat rendah (subsisten).
A.    Pengertian Pembangunan
 Pengertian pembangunan mungkin menjadi hal yang paling menarik untuk diperdebatkan. Mungkin saja tidak ada satu disiplin ilmu yang paling tepat mengartikan kata pembangunan. Sejauh ini serangkaian pemikiran tentang pembangunan telah ber¬kembang, mulai dari perspektif sosiologi klasik (Durkheim, Weber, dan Marx), pandangan Marxis, modernisasi oleh Rostow, strukturalisme bersama modernisasi memperkaya ulasan pen¬dahuluan pembangunan sosial, hingga pembangunan berkelan¬jutan. Namun, ada tema-tema pokok yang menjadi pesan di dalamnya. Dalam hal ini, pembangunan dapat diartikan sebagai `suatu upaya terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak secara sah kepada setiap warga negara untuk me¬menuhi dan mencapai aspirasinya yang paling manusiawi (Nugroho dan Rochmin Dahuri, 2004). Tema pertama adalah koordinasi, yang berimplikasi pada perlunya suatu kegiatan perencanaan seperti yang telah dibahas sebelumnya. Tema kedua adalah terciptanya alternatif yang lebih banyak secara sah. Hal ini dapat diartikan bahwa pembangunan hendaknya berorientasi kepada keberagaman dalam seluruh aspek kehi¬dupan. Ada pun mekanismenya menuntut kepada terciptanya kelembagaan dan hukum yang terpercaya yang mampu berperan secara efisien, transparan, dan adil. Tema ketiga mencapai aspirasi yang paling manusiawi, yang berarti pembangunan harus berorientasi kepada pemecahan masalah dan pembinaan nilai-nilai moral dan etika umat.

BAB III
PEMBAHASAN
    Dualisme yakni merupakan suatu konsep yang didiskusikan secara luas dalam ilmu ekonomi pembangunan. Hal ini berarti keberadaan dan kesinambungan pemisahan yang semakin meningkat diantara Negara-negara kaya dan miskin serta diantara orang-orang kaya dan miskin diberbagai tingkatan.
A.    Ada 3 (tiga) Aspek Dualisme dalam Ekonomi yaitu :
1.    Perekonomian pasar (The Market Economy)
    Seperti telah di bicarakan bahawa dipusat-pusat kota, perekonomian sudah bersifat ekonomi pasar dan banyak menggunakan uang. Kota-kota itu sendiri biasanya atau kadang-kadang berupa kota pelabuhan yang mempunyai hubungan udara, laut, radio atau pun telepon. Perdagangan dengan luar negeri bagi daerah-daerah  pedalaman melewati kota-kota ini. Kota-kota ini menjadi  pusat perdagangan.
    Kantor-kantor pemerintah, sekolah-sekolah, gedung-gedung bioskop dan lain-lain, semuanya terpusat di dalam kota. Sedangkan yang tinggal di kota-kotasebagian besar terdiri dari pedagang-pedagang, pegawai-pegawai, guru-guru, dokter-dokter dan lain sebagainya yang  dikenal dengan pekerja kantor (white collar workers). Mata pencaharian mereka masih pada tingkat yang sederhana akan tetapi sudah berspesialisasi. Karena itu apa yang hendak dikonsumsi harus dibeli dengan uang, sebab mereka tak dapat membuat sendiri semua barang-barang dibutuhkannya.
    Upah di kota biasanya lebih tinggi dari pada desa. Hal ini sering disebabkan oleh upah minimum di kota. Bagi industry milik bangsa asing upah lebih tinggi lagi, selainitu biaya hidup di kota lebih tinggi daripada di desa dan biasanya di kota di butuhkan tenaga-tenaga yang punya kepandaian atau pendidikan tertentu. Pekerja di sector industry minimum harus berpendidikan sekolah dasar atau dapat membaca. Karena kondisi inilah maka upahnya juga lebih tunggu.
    Kehidupan penduduk kota terutama kebutuhan makanan tergantung pada dearah-daerah sekitarnya, sehingga transaksi-transaksi pembelian ini menyebabkan daerah-daerah sekitar kota itu mulai banyak menggunakan uang. Para petani di sekitar kota lalu menanam tanaman untuk dijual dan tidak untuk kepentingan konsumsi sendiri. Tetapi karena perhubungan atau prngangkuatan biasanya masih cukup sukar maka harga makanan menjadi mahal. Sehingga meluasnya pasar ke daerah terpencil menemui kesulitan yang berarti.

2.    Perekonomian Subsisite
        Aspek kedua dari dualisme ekonomi ialah ekonomi subsistem. Masih ada beberapa daerah terpencil yang hingga sekarang belum pernah mengadakan kontrak dengan dunia luar artinya belum mengadakan pertukaran dengan daerah luar. Dalam keadaan-keadaan normal, perekonomian subsistem tidak saja bertindak untuk memenuhi kebutuhan sendiri (self sufficient) dalam hal makanan, akan tatapi juga dapat mengadakan/menyediakan bahan makanan, barang-barang tenunan, kerajinan, barang-barang ruma tangga, alat-alat dapur dari tanah dan lain sebagainya. Dalam masyarakat ini biasanya perdagangan dilakukan tidak dengan uang, tetapi tukar-menukar dengan cara barter, misalnya untuk pelunasan utang orang-orang desa menerima beras yang lalu dijual di kota-kota. Merekalah yang menghubungkan antara ekonomi subsistem dengan ekonomi pasar. Mereka merupakan klas menengah.
        Biasanya anak-anak muda desa mencoba mencari pekerjaan di kota-kota sedangkan yang tinggal di desa hanyalah yang kekuatan produksinya sudah berkurang atau umurnya relatif tua.
        Tersaingnya mereka dari dunia luar lainnya dapat bersifat fisik dan psikologi. Fasilitas trasnpor kurang sekali, sehingga berita-berita disiarkan lewat mulut. Mereka buta huruf dan tak ada hasrat untuk mengubah cara hidup.
3.    Daerah Kantong Asing (The foreign Enclaves)
    Di daerah-daerah yang masih terbelakang kadang-kadang terdapat perusahaan-perusahaan asing yang sudah menggunakan teknologi pada modal yang tinggi, misalnya: tambang minyak di Timur Tengah, Vanezuela, Libia, Indonesia (di Pakan Baru, Dumai misalnya) dan lain-lainnya. Ada pendapat yang menyatakan bahwa ini merupakan ekonomi colonial. Apa yang dihasilkan oleh mereka melulu untuk ekspor dan hubungannya dengan dalam negeri  sendiri hanya dalam untuk pembayaran upah-upah buruh. Foreign enclave ini mempunyai pengaruh cultural terhadap masyarakat disitu yaitu dapat mendidik orang-orang setempat dan lain sebagainya.
    Alat-alat trasportasi mereka mengangkut barang- barang hasil produksi konsumsi seperti radio dan sebagainya, sehingga daerah itu mengenal barang-barang baru. Cara mereka bekerja dalam industry itu sudah menggunakan tingkat teknik /alat-alat modern.
    Dari keterangan di atas, ada kesimpulan Negara sedang berkembang banyak yang mempunyai ekonomi rangkap tiga (triple economies) ini yaitu:
a.    Perekonomian subsistem diluar kota atau di daerah pedesaan.
b.    Peekonomian pasar di daerah dekat kota dan di kota.
c.    Daerah kantong “asing” di sekitar kota yang terpisah.
B.    Konsep Dualisme terdiri dari 4 unsur yakni.
1.    Dualisme merupakan himpunan masyarakat yang berbeda yang memungkinkan pihak termasuk dan yang inperior ydan yang inferior hidup berdampingan di suatu tempat yang sama. Unsure dualisme termasuk pemikiran Arthur Lewis mengenai koeksistensi kelompok elit yang kaya dan terdidik baik dengan masa orang-orang miskin yang buta huruf dan dugaan mengenai koeksistensi ketergantungan antara Negara-negara industri yang makmur dan berkuasa dengan masyarakat petani kecil yang melarat dan lemah di dalam perekonomian dunia.
2.    Koeksistensi ini bukan sebagai hal yang bersifat tradisional tetapi sebagai suatu yang kronis. Ini bukan sebagai fenomena temporer yang dengan berjalannya waktu dapat menghilangkan kesenjangan antara unsur-unsur yang superior dan yang inferior. Dengan kata lain, koeksisitensi internasional antara kaya dan miskin bukan hanya merupakan suatu fenomena sejarah yang akan diperbaiki pada waktunya. Walawpun teori tahapan pertumbuhan ekonomi dan model perubahan structural secara implisit membuat asumsi demikian, pada kenyataannya ketidakmerataannya internasional yang semakin membesar membuktikan kekeliruan asumsi tersebut.
3.    Tidak hanya kadar superioritas dan inferioritas yang gagal memperlihatkan tanda-tanda penurunan, bahkan keduanya memiliki sifat cenderung untuk meningkat yang tetep meleket. Misalnya, kesenjangan produktivitas antara para pekerja di Negara-negara maju dengan kawan-kawan mereka di Negara-negara berkembang tampaknya semakin membesar dari waktu ke waktu.
4.    Sifat saling keterkaitan antara unsure sperioritas dalam unsur nferioritas adalah sedemikian rupa sehingga keberadaan unsur suferioritas sedikit atau sama sekali tidak bekerja meningkatkan unsur inferioritas. Dalam kenyataannya, bahkan hal itu mungkin menekan ke bawa untuk memajukan keterbelakangan.
1.    Dualism Internasional
    Empat komponen utama dualisme tersebut memeberikan suatau gambaran yang tepat berkenaan dengan situasi akhir-akhir ini dalam system perekonomian internasional. Pertama, yang berkenaan dengan terjadinya perbedaan yang besar di dalam pendapatan perkapita dan taraf hidup yang pada saat ini berkoeksistensi 

 
    
Menurut J.H Boeke (1953), perkembangan masyarakat didukung oleh tiga unsur, yaitu dasar jiwa sosial, bentuk organisasi, dan teknik yang mendukunganya. Ketiga unsur tersebut saling berkait, dalam arti bahwa jiwa sosial, bentuk-bentuk organisasi, dan teknik yang unggul akan menentukan warna masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu, ketiga unsur tersebut sering disebut sebagai sistem sosial. Dalam suatu masyarakat yang sedang mengalami perkembangan tidak selalu di kuasai oleh satu sistem sosial saja. Terutama masyarakat sedang berkembang,pada masyarakat ini terdapat dua atau lebih sistem yang masing-masing menguasai bagian tertentu dari masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat dengan corak demikian disebut masyarakat ganda (dual) atau jamak (plural). Masyarakat ganda merupakan yang sering kita jumpai.
  Dualisme ini berarti dalam waktu yang sama di dalam masyarakat terdapat dua gaya sosial yang jelas berbeda satu sama lain, dan masing-masing berkembang secara penuh serta saling mempengaruhi. Dalam dualisme masyarakat ini, salah satu dari sistem sosial yang menonjol biasanya termaju, diimpor dari luar negeri dan hidup dalam lingkungan baru tanpa berhasil menyisihkan atau menyerap sistem sosial lain yang telah lama tumbuh di situ. Akibatnya, dari kedua sistem sosial ini tidak ada yang meluas, dan malahan keduanya menjadi cirri khas masyarakat yang bersangkutan.
Tak perlu disangsikan lagi, bahwa sifat ganda paling sering kita dijumpai apabila kapitalisme barat yang diimpor tadi menyusupi masyarakat tani pra kapitalis, dan bila sistem sosial asli behasil mempertahankan diri, atau sebaliknya tidak berhasil merima dan menetapkan azas-azas kapitalisme barat tersebut. Masalah demikian ini tidak saja terjadi pada sistem kemasyarakatan secara umum, tetapi juga menyentuh pilar-pilar ekonomi. Lalu, bagaimana logika jalannya perekonomian didalam arti atradisisonal? Pola ekonomi kapitalisme barat  berpijak pada ekonomi dan ekonomi  pasar dan ekonomi uang. Produksi pertanian, misalnya, juga harus di tunjukan untuk pasar. Produksi umumnya diatur dalam bentuk perdagangan dan bidang-bidang kerja untuk pasar. Uang menjadi landasan produksi, dan dengan demikian memperoleh fungsi, dan kedudukan yang lebih penting.
Pada segi lainnya kebutuhan manusia yang beraneka ragam menambah penting kegiatan ekonomi. Tiap- tiap oang selalu berusaha untuk meperoleh alat-alat pemuas kebutuhannya. Dengan demikian, kewaspadaan ekonomi makin diransan; proses produksi dari sudut teknik dan organisasi berkembang menjadi hubungan sosial yang rumit. Semua hubungan ekonomi adalah hubungan usaha, dan oleh karenanya ekonomi menduduki tempat teratas dalam masyarakat.
Banyak segi dari ilmu ekonomi ganda yang berbeda dari ilmu ekonomi barat. Banyak dalil ekonomi barat tidak, atau sebagian saja berlaku ditimur. Uang, pasar,  harga, pembagian kerja, persaingan, perdagangan, dan sebagainya ditedalam masyarakat mukan sedikit saja dalam masyarakat timur. Untuk membuktikan hal tersebut memang sulit, apalagi pembuktian ilmiah. Tetapi yang pasti, perbedaan itu hanya dapat dibuktikan menggali fakta-fakta. Disanalah, perlunya mengunakan keunggulan antropologi budaya perbandingan, ilmu ekonomi primitif, dan sosiologi kalau kita ingin menggali bukti dan fakta dalam dalam mempelajari masyarakat ganda. Disanalah makna dualisme ekonomi bakal kita temukan dengan dengan aneka  ragamnya, bahwa sejak akhir abad yang lalu di daerah-daerah tertentu dan pada sektor ekonomi tertentu pula, telah mengalami perkembangan ekonomi yang pesat,dan beraneka ragam.
      Dualisme ekonomi yaitu kegiatan ekonomi dan keadaan ekonomi serta keadaan yang lain dalam suatu masa tertentu, atau dalam suatu sektor ekonomi tertentu yang memiliki sifat tidak seragam. Dualisme ekonomi ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ekonomi tradisionanl dan ekonomi moderen. Kelompok pertama berarti kegiartan ataupun keadaan ekonomi yang ada masi dikuasai oleh unsur ketradisionalan. Kelompok yang kedua berarti berbagai kegiatan dan keadaan ekonomi yang sedang berlangsung dikuasai oleh unsur-unsur yang bersifat modern. Dalam konteks pengertian ini, kita dapat menunjukan adanya beberapa dualisme, yaitu dualisme sisial, dualisme teknologi, dualisme financial, dan dualisme regional.
C.    Faktor-faktor Penyebab Dualisme
 Ada empat faktor yang melatar belakangi atau menjadi sebab lahirnya dualisme ekonomi, yaitu :
1.    mempertahankan agar surplus disektor pertanian tetap berada di dalam negeri dari pada dibawah keluar negeri seperti pada  masa penjajahan, dan kedua, kebijakan untuk untuk mengalihkan surplus  sektor pertanian ini kesektor industri (manufacturing), dan ekspor seperti semula.
2.    Adanya dari pola pola pertumbuhan ekonomi terutama yang terjadi di Negara-negara Asia. Pertumbuhan penduduk yang cepat untuk Philipina, Taiwwan dan korea selatan (2-3 pesen pertahun) berdampingan dengan dengan miskinnya sumber-sumber alam. Ekspor hasil bumi dapat dikatakan kecil, dan tidak dapat mengimbangi angka pertumbuhan penduduk. Sementara pada daerah lainnya kita akan temukan tekanan penduduk yang rendah, tetapi cukup memiliki sumber-sumber alam, dan potentensial untuk mengadakan ekspor hasil bumi. Malahan ekspor hasil bumi memainkan peranan penting dalam ekonomi nasional. Ini dapat kita temukan, di antaranya di negara Thailand dan Malaysia.
3.    Hal ini menyangkut ratio antara manusia dan tanah. Dinegara-negara sedang berkembang kebanyakan dari masyarakat tingkat pemilikan tanahnya kecil. Ratio antara manusia dan tanahnya dapat mencapai 1.000-1.500 orang per  kilometer persegi dengan 80% lebih hidup di daerah pedesaan, dan bekerja pada sektor pertanian tradisional.
4.    Lemahnya perekonomian nasional. Perekenomian nasional dari Negara yang memiliki dualisme untuk pertumbuhan ekonominya,pada sebagian besar Negara sedang berkembang, biasanya tergantung kepada perdagangan luar negeri, bantuan luar negeri dan investasi-investasi asing. Dilihat dari segi struktur pasar dunia, mereka ini merupakan daerah pasaran industri, dan ekspor produk modern yang semula mengalir dari sektor pertanian komersial ke sektor luar negeri. Hasil yang diperoleh oleh sektor pertanian dimanfaatkan untuk pembentukan capital sehingga akhirnya sektor pertanian tradisional tetap terisolasi dan tetap pada kesubsistensiannya

BAB  IV
PENUTUP
1.1    KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dualisme ekonomi yaitu kegiatan ekonomi dan keadaan ekonomi serta keadaan  yang dalam suatu masa tertentu, atau dalam suatu sektor ekonomi tertentu yang memiliki sifat tidak seragam.
Dari keterangan diatas, ada kesimpulan Negara sedang berkembang banyak yang mempunyai ekonomi rangkap tiga (triple economies) seperti itu yaitu:
a.    Perekonomian subsistem diluar kota atau di daerah pedesaan.
b.    Perekonomian pasar di daerah dekat kota dan di kota.
c.    Daerah kantong “Asing” di sekitar kota yang terpisah.  
Tak perlu disangsikan lagi, bahwa sifat ganda paling sering kita dijumpai apabila kapitalisme barat yang diimpor tadi menyusupi masyarakat tani pra kapitalis, dan bila sistem sosial asli behasil mempertahankan diri, atau sebaliknya tidak berhasil merima dan menetapkan azas-azas kapitalisme barat tersebut. Masalah demikian ini tidak saja terjadi pada sistem kemasyarakatan secara umum, tetapi juga menyentuh pilar-pilar ekonomi. Lalu, bagaimana logika jalannya perekonomian didalam arti atradisisonal? Pola ekonomi kapitalisme barat  berpijak pada ekonomi dan ekonomi  pasar dan ekonomi uang. Produksi pertanian, misalnya, juga harus di tunjukan untuk pasar. Produksi umumnya diatur dalam bentuk perdagangan dan bidang-bidang kerja untuk pasar. Uang menjadi landasan produksi, dan dengan demikian memperoleh fungsi, dan kedudukan yang lebih penting.

1.2.    Saran
    Dualisme ekonomi saat ini menjadi hak oleh semua Negara di seluruh dunia yang sedang berkembang dalam suatu masyarakat. Dengan adanya dualisme mengakibatkan ketidakmampuan shg sumber daya yang ada di NYSB tidak digunakan secara efesien. Jadi saya menyarankan bahwa sumber daya yang ada di Indonesia kita harus manfaatkan dengan baik, yaitu dengan adanya dualisme ekonomi ini kita lakukan pengembangan sumber daya manusia yang ada dan kita harus manfaatkan dengan baik. Keadaan ekonomi sekarang ini masih dikuasai oleh unsur ketradisionalan.
   
    Dalam dualisme sekarang ini atau dalam masyarakat sekarang ini, salah satu sistem sosial yang menonjol biasanya termaju, diimpor dari luar negeri dan hidup dalam lingkungan baru tanpa berhasil menyisihkan atau menyerap sistem sosial lain yang telah lama tumbuh disitu. Akibatnya dari kedua sistem sosial ini tidak ada yang berhasil  meluas, dan malahan keduanya mencari cirri khas masyarakat yang bersangkutan. 

Daftar Pustaka
Herick, Bruce, Pengantar Ekonomi Pembangunan 2003, kludeberger, Jakarta
Drs. Irawan M.B.A. 2002. Pengantar Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: BPEE-YOGYAKARTA.
Putong, Iskandar, Economics, 2007. Pengantar Mikro dan Makro. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Prayitno, Hadi and Budi Santosa.1998. Ekonomi Pembangunan. Jakarta: Balai Aksara.
Prayitno Hadi, Ekonomi Pembangunan. Cetakan Pertama,
Thee Kian Wie (Penyunting), Pembangunan Ekonomi Dan Pemerataan, LP3ES, Jakarta, Desenber 1981.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH

kemanGi

kemanGi
teRhalNg

Sahabat Blog