BARANGKALI ANDA MEMBUTUHKAN :

JIKA MERASA KURANG LENGKAP SILAHKAN CARI

Selasa, 12 Juni 2012

Proses Penyembuhan Luka

proses penyembuhan luka

BAB I
PENDAHULUAN

Proses penyembuhan luka adalah fenomena yang sangat menakjubkan. Proses tersebut melibatkan banyak faktor yang mempengaruhi termasuk kondisi fisik dan psikologis seseorang, dan ternyata faktor psikologis dapat menyebabkan proses penyembuhan kian lama. sebagai contoh: seorang yg mempunyai luka yg tidak terlalu besar namun mengalami proses penyembuhan yg lama, dan setelah dikaji lebih lanjut ternyata pasien tersebut mengalami gangguan secara psikologis dimana dia takut akan kematian, dan hal tersebutlah yg ternyata membuat proses penyembuhan luka menjadi lama. maka tak heran ketika orang tersebut memiliki waktu penyembuhan yang lebih lama di banding dengan yang lain
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan. Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel
Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ini ialah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi, proliferasi, dan penyudahan yang merupakan perupaan kembali (remodeling) jaringan. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)

I.II Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan
a) Untuk mengetahui bagaimana mekanisme penyembuhan luka
b) Untuk beberapa jenis luka dan klasifikasinya

2. Manfaat
a) Bisa mengetahui mekanisme penyembuhan luka
b) Menambah ilmu pengetahuan tentang luka dan merawatnya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.I Jenis Luka
Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan menunjukkan derajat luka.
1. Berdasarkan tingkat kontaminasi
a) Clean Wounds (Luka bersih)
Yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% – 5%.
b) Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi)
Merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% – 11%.
c) Contamined Wounds (Luka terkontaminasi)
Termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% – 17%.
d) Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi)
Yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka. (Reksoprodjo, S. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta)

2. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka
a) Stadium I
Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
b) Stadium II : Luka “Partial Thickness”
Yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
c) Stadium III : Luka “Full Thickness”
Yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
d) Stadium IV : Luka “Full Thickness”


Yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas. (Reksoprodjo, S. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah,Binarupa Aksara, Jakarta)

3. Berdasarkan waktu penyembuhan luka
a) Luka akut
Yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati.
Gambar 2. Luka Akut


b) Luka kronis
Yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen. (Reksoprodjo, S. 1995.Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta)

Gambar 3. Luka Kronis
II.II Mekanisme tejadinya luka
1. Luka insisi (Incised Wound), terjadi karena teriris oleh instrument yang tajam. Missal yang terjadi akibat pembedahan.
2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti pisau yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil.
5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat.
6. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
7. Luka bakar (Combustio), yaitu luka akibat terkena suhu panas seperti api, matahari, listrik, maupun bahan kimia. (Reksoprodjo, S. 1995.Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta)

Fase penyembuhan Luka
Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta)
1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira – kira hari kelima. pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi, pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi), dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket, dan bersama dengan jala fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah. Sementara itu terjadi reaksi inflamasi. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta)
Sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamine yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan, penyebukan sel radang, disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan udem dan pembengkakan. Tanda dan gejala klinik reaksi radang menjadi jelas berupa warna kemerahan karena kapiler melebar (rubor), suhu hangat (kalor), rasa nyeri (dolor), dan pembengkakan (tumor). (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta)
Aktifitas seluler yang terjadi adalah pergerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah (diapedesis) menuju luka karena daya kemotaksis. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. Limfosit dan monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka dan bakteri (fagositosis). Fase ini disebut juga fase lamban karena reaksi pembentukan kolagen baru sedikit dan luka hanya dipertautkan oleh fibrin yang amat lemah. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta)
Gambar 4. Fase Inflamasi

2. Fase Proliferasi
Fase proliferasi disebut juga fase fibroplasia karena yang menonjol adalah proses proliferasi fibroblast. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira – kira akhir minggu ketiga. Fibroblast berasal dari sel mesenkim yang belum berdiferensiasi, menghasilkan mukopolisakarida, asama aminoglisin, dan prolin yang merupakan bahan dasar kolagen serat yang akan mempertautkan tepi luka. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta)

Pada fase ini serat dibentuk dan dihancurkan kembali untuk penyesuaian diri dengan tegangan pada luka yang cenderung mengerut. Sifat ini, bersama dengan sifat kontraktil miofibroblast, menyebabkan tarikan pada tepi luka. Pada akhir fase ini kekuatan regangan luka mencapai 25% jaringan normal. Nantinya, dalam proses penyudahan kekuatan serat kolagen bertambah karena ikatan intramolekul dan antar molekul. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta)
Pada fase fibroplasia ini, luka dipenuhi sel radang, fibroblast, dan kolagen, membentuk jaringan berwarna kemerahan dengan permukaan yang berbenjol halus yang disebut jaringan granulasi. Epitel tepi luka yang terdiri dari sel basal terlepas dari dasarnya dan berpindah mengisi permukaan luka. Tempatnya kemudian diisi oleh sel baru yang terbentuk dari proses mitosis. Proses migrasi hanya bisa terjadi ke arah yang lebih rendah atau datar, sebab epitel tak dapat bermigrasi ke arah yang lebih tinggi. Proses ini baru berhenti setelah epitel saling menyentuh dan menutup seluruh permukaan luka. Dengan tertutupnya permukaan luka, proses fibroplasia dengan pembentukan jaringan granulasi juga akan berhenti dan mulailah proses pematangan dalam fase penyudahan. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta)

3. Fase Penyudahan (Remodelling)
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi, dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini dapat berlangsung berbulan – bulan dan dinyatakan berkahir kalau semua tanda radang sudah lenyap. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. Udem dan sel radang diserap, sel muda menjadi matang, kapiler baru menutup dan diserap kembali, kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, dan lemas serta mudah digerakkan dari dasar. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. Pada akhir fase ini, perupaan luka kulit mampu menahan regangan kira – kira 80% kemampuan kulit normal. Hal ini tercapai kira – kira 3-6 bulan setelah penyembuhan. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta)

II.IV Cara Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka kulit tanpa pertolongan dari luar, seperti yang telah diterangkan tadi, berjalan secara alami. Luka akan terisi jaringan granulasi dan kemudian ditutup jaringan epitel. Penyembuhan ini disebut penyembuhan sekunder atau sanatio per secundam intentionem (Latin: sanatio = penyembuhan,per = melalui, secundus = kedua, intendere = cara menuju kepada). Cara ini biasanya makan waktu cukup lama dan meninggalkan parut yang kurang baik, terutama kalau lukanya menganga lebar. Luka akan menutup dibarengi dengan kontraksi hebat. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Bila luka hanya mengenai epidermis dan sebagai atas dermis, terjadi penyembuhan melalui proses migrasi sel epitel dan kemudian terjadi replikasi/mitosis epitel. Sel epitel baru ini akan mengisi permukaan luka. Proses ini disebut epitelisasi, yang juga merupakan bagian dari proses penyembuhan luka. Pada penyembuhan jenis ini, kontraksi yang terjadi biasanya tidaklah dominan. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Cara penyembuhan lain adalah penyembuhan primer atau sanatio per primam intentionem, yang terjadi bila luka segera di upayakan tertaut, biasanya dengan bantuan jahitan. Sebaiknya dilakukan dalam beberapa jam setelah luka terjadi. Parut yang terjadi biasanya lebih halus dan kecil. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Namun, penjahitan luka tidak dapat langsung dilakukan pada luka yang terkontaminasi berat dan /atau tidak berbatas tegas. Luka yang compang-camping atau luka tembak, misalnya, sering meninggalkan jaringan yang tidak dapat hidup yang pada pemeriksaan pertama sukar dikenal. Keadaan ini diperkirakan akan menyebabkan infeksi bila luka langsung dijahit. Luka yang demikian akan dibersihkan dan dieksisi (debridement) dahulu dan kemudian dibiarkan selama 4-7 hari. Baru selanjutnya dijahit dan dibiarkan sembuh secara primer. Cara ini umumnya disebut penyembuhan primer tertunda. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)

Penyembuhan jaringan khusus
1. Tulang
Pada patah tulang panjang yang korteksnya cukup tebal, terjadi pendarahan yang berasal dari pembuluh darah di endostium, di kanal Haver pada korteks, dan di periostium. Hematon yang di bentuk segera diserbu oleh poliferasi fibroblast yang bersifat osteogenik yang berasal dari mesenkim periostium dan sedikit dari endomestium. Fibroblast esteogenik berubah menjadi osteoblast dan menghasilkan bahan organik antar sel yang disebut osteoid. Osteoblast yang terkurung dalam lakuna oleh osteoid disebut osteosit. Proses pembentukan tulang ini disebut osifikasi. Bekas hematom yang bereteoid disebut kalus yang tidak tampak secara radiologis. Kalus akan maki padat, seakan merekat patahan. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Di daerah yanng agak jauh dari patahan dan pendarahannya lebih bagus, mulai terbentuk jaringan tulang karena proses peletakan kalsium pada osteoid, sedangkan didaerah patahan sendiri, yang pendarahannya lebih sedikit, osteoblast berdiferensiasi menjadi kondroblast dan membentuk tulang rawan. Kalus eksterna dan interna yang berubah menjadi jaringan tulang dan tulang rawan makin keras dan setelah menjadi terisi kalsium menjadi jelas pada pemeriksaan radiologi. Bagian tulang rawan kemudian berubah menjadi tulang biasa melalui prosesn enkondral. Pada saat ini, patahan dikatakan telah menyambung dan menyembuh secara klinis. Selanjutnya, terjadi pembentukan tulang lamelar dan perupaan kembali selama berbulan-bulan. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Pada anak, perupaan kembali dari kalus primer ini disertai proses pengaturan kembali pertumbuhan epifisis sehingga sudit atahan akan pulih sampai derajat tertentu. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Penyembuhan patah tulang yang bukan tulang pipa (tulang pendek) berjalan lebih cepat karena pendarahan yang lebih kaya. Nekrosis yang terjadi di pinggir patahan tulang tidak bayak, dan kasus interna segara mengisi rongga patah tulang. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Penyembuha patah tulang terjadi pada tindakan reduksi dan setelah fiksasi metal yang kuat berjalan lebih cepat dan lebih baik. Ini dapat digolongkan penyembuhan per prema. Dengan fiksasi, daerah patahan terlindung dari stres dan tidak ada rangsang yang menimbulkan kalus sehingga, setelah bahan osteosintetis dikeluarkan, tulang kurang kuat dibandingkan dengan tulang yang sembuh per sekundam dengan kalus. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)

2. Tendo
Bila tendo yang merupakan ujung dari otot lurik luka akan putus, hematom yang tejadi akan mengalami proses penyembuhan alami dan menjadi jaringan ikat yang melekat pada jaringan sekitarnya. Bagian distal akan mengalami hipotrofi karena ada yang menggerakan. Dengan demikian, tendo yang putus sama sekali tigak akan berfungsii kembali, tendo harus dijahit dengan teknik khusus agar perlekatan dengan jaringan sekitarnya dikurangi dan tendo masih dapat bergerak dan meluncur bebas. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
3. Fasia
Luka pada fasia akan mengalami penyembuhan alami yang normal. Hematom dan eksudasi yang terjadi akan diganti dengan jaringan ikat. Bila otot tebal, kuat, dan luka robeknya tidak sembuh betul deengan atau tanpa dijahit, mungkin akan tertinggal defek yang dapat mengalami herniasi otot.(Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
4. Otot
Otot lurik dan otot polos diketahui mampu sembuh dengan membentuk jaringan ikat. Walaupun tidak mengalami regenerasi, faal otot umumnya tidak berkurang karena adanya hipertrofi sebagai kompensasi jaringan otot sisa. Sifat ini menyebabkan luka otot perlu dijahit dengan baik.(Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
5. Usus
Luka pada usus halus tentu harus dijahit, tidak dapat dibiarkan sembuh per sekundam intentionem karena kebocoran isi usus akan menyebabkan peritonitis umum. Penyembuhan biasanya cepat karena dinding usus kaya akan darah sehingga dalam 2-3 minggu kekuatannya dapat melebihi daerah yang normal. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
6. Serabut saraf
Trauma pada saraf dapat berupa trauma yang memutus saraf atau trauma tumpul yang menyebabkan tekanan atau tarikan pada saraf. Penekanan akan menimbulkan kontusio serabut saraf dengan kerangka yang umumnya masih utuh, sedangkan tarikan mungkin menyebabkan putusnya serabut dengan kedua ujung terpisah jauh. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Bila akson terputus, bagian distal akan mengalami degenerasi waller karena akson merupakan perpanjangan sel saraf di ganglion atau di tanduk depan sumsum tulang belakang. Akson yang putus meninggalkan selubung mielin kosong yang lama kelamaan kolaps atau terisi fibroblast. Sel saraf di pusat setelah 24-28 jam akan memumbuhkan akson baru ke distal dengan kecepatan 1mm per hari. Akson ini dapat tumbuh baik sampai ke ujungnya di organ akhir dila dalam pertumbuhannya menemukan selubung meilin yang utuh. Dalam selubung inilah akson tumbuh ke distal. Bila dalam pertumbuhnya akson tidak menemukan selubung yang kosong, pertumbuhannya tidak maju, dan akan membentuk tumor atau gumpalan yang terdiri atas akson yang tergulung. Ini di sebut neuroma. Tentu saja tidak semua akson akan menemukan selubung mielin yang masih kosong dan sesuai, terutama kalau saraf tersebut merupakan campuran sensoris dan motoris. Kalau selubung mielin sudah di masuki akson yang salah, akson yang benar tidak mungkin menemukan selubung lagi.(Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Mengingat syarat tumbuhnya akson ini, lesi tekan dengan kerangka yang relatif lebih utuh memberikan prognosis lebih baik dari pada lesi tarik yang merusak pembuluh darah nutrisi. Memulai bedah mikro, ujung setiap fasikulus yang terputus dipertemukan, kemudian saraf yang terputus itu disambung dengan menjahit epi- dan perineuriumnya. Upaya ini memberikan hasil yang lebih baik. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
7. Jaringan saraf
Bila jaringan saraf mengalami trauma, sel saraf yang rusak tidak akan pulih karena sel saraf tidak bermitosis sehingga tidak memiliki daya regenerasi. Tempat sel yanng rusak akan digantikan oleh jaringan ikat khusus yang terdiri atas sel glia membentuk jaringan yang disebut gliosis.(Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)



8. Pembuluh darah
Proses penyembuhan luka pada pembuluh darah bergantung pada besarnya luka, derasnya arus darah yang keluar, dan kemampuan tamponade jaringan sekitarnya.(Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Pada pembuluh yang luka, serat elastis pada dinding pembuluh kan mengerut dan otot polosnya berkontraksi. Bila kerutan ini kuat dari pada arus darah yang keluar, luka akan menutup dan pendarahan berhenti. Bila sempat terbentuk gumpalan darah yang menyumbat luka, permukaan dalam gumpalan perlahan-lahan akan dilapisi endotel dan mengalami organisasi menjadi jaringan ikat. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Bila hematom sangat besar karena arus darah yang keluar kuat, bagian tengah akan tetap cair karena turbulensi arus, sedangkan dinding dalamnya perlahan-lahan akan dilapisi endotel sehingga terjadi aneurisma palsu. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.)
Bila pembuluh sampai putus, ujung potongan akan mengalami retraksi dan kontraksi akibat adanya serat elastis dan otot dinding. (Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, EGC, Jakarta)

II.VI Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
Penyembuhan luka dapat tegantung oleh penyebab dari dalam tubuh sendiri (endogen) atau oleh penyebab dari dalam tubuh sendri (eksogen).
Penyebab endogen terpenting adalah ganguan koagulasi yang disebut koagulopati dan ganguan sistem imun. Berikut adalah faktor yang bisa menghambat penyembuah luka :
1 Usia
Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah.
2 Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada tubuh. Klien memerlukan diit kaya protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan A, dan mineral seperti Fe, Zn. Pasien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi mereka setelah pembedahan jika mungkin. Klien yang gemuk meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena supply darah jaringan adipose tidak adekuat.
3 Infeksi
Infeksi luka menghambat penyembuhan. Bakteri sumber penyebab infeksi.
4 Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi
Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan lama untuk sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes millitus. Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada perokok.
Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.

5. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar, hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
6. Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (pus).
7. Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
8. Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
9. Keadaan Luka
Keadaan khusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas penyembuhan luka. Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu.



10. Obat
Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka.
a. Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera.
b. Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular. (www.emedicine.com/plastic/TOPIC477.HTM di akses tanggal 12 september 2011.)

II.VII Faktor yang mempengaruhi penanganan luka
1. Lama luka
Golden priod (masa emas) merupakan saat kita menggap suatu luka dapat di tangangi dengan sempurna. Jadi luka masih dapat di jahit secara primer. Golden priod suatu luka ± 6 jam. Masa ini berlaku untuk luka kotor dan jelas terkontaminasi. Pada daerah dengan vaskularisasi sangat baik, misalkan kepala dan wajah golden priodnya ± 8 jam. Bila luka masih berada pada golden priod, maka dapat di peroleh Clean Surgical Wound (luka bedah yang bersih). (Balai kesehatan PMI kota Jaksel. Luka. 2011)
2. Bentuk anatomi luka
Luka-luka sederhana cukup dibersihkan dan diberi obat. Sedangkan luka- luka dengan bentuk tak teratur harus di debridement kemudian dilakukan tindakan selanjutnya. (Balai kesehatan PMI kota Jaksel. Luka.2011)
II.VIII Komplikasi
1. Komplikas Dini
a. Infeksi
Infeksi luka tetap merupakan komplikasi tersering dari tindakan operasi dan sering menikuti hematoma luka. Pada tahun 1867, Lister dalam penelitiannya tentang antiseptik mengatakan bahwa gangren rumah sakit ikut berperan pada julah kematian antara 20-100%. Dewasa ini, infeksi luka sering tidak fatal, tetapi dapat menimbulkan cacat. Dua fakyor penting yang jelas berperan pada patogenesis infeksi adalah (1) dosis kontaminasi bakteri, dan (2) ketahnan pasien. (David C, Sabiston, Jr., M.D. 1995. Buku Ajar Bedah. EGC. Jakarta)
b. Hematoma
Hematoma timbul dini akibat kegagalan pengendalian pembulus darah yang berdarah dan dapat timbul lanjut pada pasien hipertensi atau cacat koagulasi. Biasanya hematoma dapat dibiarkan hilang spontan, tetapi hematoma yang meluas membutuhkan operasi dab pengendalian perdarahan. (David C, Sabiston, Jr., M.D. 1995. Buku Ajar Bedah. EGC. Jakarta)
c. Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling serius. Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan. Sejumlah faktor meliputi, kegemukan, kurang nutrisi, ,multiple trauma, gagal untuk menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan dehidrasi, mempertinggi resiko klien mengalami dehiscence luka. Dehiscence luka dapat terjadi 4 – 5 hari setelah operasi sebelum kollagen meluas di daerah luka. Ketika dehiscence dan eviscerasi terjadi luka harus segera ditutup dengan balutan steril yang lebar, kompres dengan normal saline. Klien disiapkan untuk segera dilakukan perbaikan pada daerah luka. (Reksoprodjo, S. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah,Binarupa Aksara, Jakarta)
2. Komplikasi Lanjut
Keloid dan jaringan parut hipertrofik timbul karena reaksi serat kolagen yang berlebihan dalam proses penyembuhan luka. Serat kolagen disini teranyam teratur. Keloid yang tumbuh berlebihan melampaui batas luka, sebelumnya menimbulkan gatal dan cenderung kambuh bila dilakukan intervensi bedah. (Reksoprodjo, S. 1995.Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta)
Parut hipertrofik hanya berupa parut luka yang menonjol, nodular, dan kemerahan, yang menimbulkan rasa gatal dan kadang – kadang nyeri. Parut hipertrofik akan menyusut pada fase akhir penyembuhan luka setelah sekitar satu tahun, sedangkan keloid tidak. (Reksoprodjo, S. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta)
Keloid dapat ditemukan di seluruh permukaan tubuh. Tempat predileksi merupakan kulit, toraks terutama di muka sternum, pinggang, daerah rahang bawah, leher, wajah, telinga, dan dahi. Keloid agak jarang dilihat di bagian sentral wajah pada mata, cuping hidung, atau mulut. (Reksoprodjo, S. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah,Binarupa Aksara, Jakarta)
Pengobatan keloid pada umumnya tidak memuaskan. Biasanya dilakukan penyuntikan kortikosteroid intrakeloid, bebat tekan, radiasi ringan dan salep madekasol (2 kali sehari selama 3-6 bulan). Untuk mencegah terjadinya keloid, sebaiknya pembedahan dilakukan secara halus, diberikan bebat tekan dan dihindari kemungkinan timbulnya komplikasi pada proses penyembuhan luka. (Reksoprodjo, S. 1995.Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta)

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Koordinasi pembentukan parut dan regenerasi mungkin paling mudah dilukiskan pada penyembuhan di kulit. Jenis penyembuhan yang paling sedehana terlihat pada penanganan luka oleh tubuh seperti insisi pembedahan, yang tepi lukanya bisa saling didekatkan untuk dimulainya proses penyembuhan. Penyembuhan semacam itu disebut penyembuhan primer atau healing by frist intention. Segera setelah terjadi luka, tepi luka disatukan oleh bekuan darah yang fibrinya bekerja seperti lem. Segera setelah itu terjadilah reaksi peradangan akut pada tepi luka itu, dan sel-sel radang, khususnya makrofag, memasuki bekuan darah dan mulai menghancurkannya. (Sylvia A. Price & Lorraine M.Wilson. 2005. Patofisiologi, Edisi 6, EGC.)

Saran
Bila terjadi luka segeralah untuk di bersihkan agar terhindar dari infeksi untuk mempercepat penyembuhan luka. Apabila luka tersebut robek karena benda tajam segera di jahit untuk menhidari banyaknya darah yang keluar dan luka terhindar dari infeksi.
Jangan bertindak bodoh pada luka, seperti menyiram luka dengan minyak rem atau sejenis yang berbahaya, cuci dengan air hangat, balut dan langsung bawa ke pelayanan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

Reksoprodjo, S. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta
Balai kesehatan PMI kota Jaksel. Luka. 2011
David C, Sabiston, Jr., M.D. 1995. Buku Ajar Bedah. EGC. Jakarta
Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.
Sylvia A. Price & Lorraine M.Wilson. 2005. Patofisiologi, Edisi 6, EGC, Jakarta
www.emedicine.com/plastic/TOPIC477.HTM di akses tanggal 12 september 2011.
www.woundpedia.com di akses tanggal 26 Juni 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH

kemanGi

kemanGi
teRhalNg

Sahabat Blog