iklan

loading...

Wednesday, June 20, 2012

KTI HALISINASI

BAB I
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang.
Gangguan jiwa
Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat secara langsung, seperti pada masalah kesehatan fisik yang memperlihatkan bermacam gejala disebabkan berbagai hal. Kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian saat ini, tetapi mungkin muncul gejala yang berbeda. Banyak klien dengan masalah kesehatan jiwa tidak dapat menceritakan hal yang berbeda dan kontradiksi. Kemampuan mereka untuk berperan dalam menyelesaikan masalah juga bervariasi (Keliat, 2005).

Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupa meningkatkan dan mempertahankan perilaku klien yang berperan pada fungsi yang terintegrasi. (Stuart, 2006)
Penyakit mental, disebut juga gangguan mental, penyakit jiwa, atau gangguan jiwa adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi mental. Penyakit mental adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berfikir, dan persepsi (penangkapan panca indera). Penyakit mental ini menimbulkan stres dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya.
Keperawatan jiwa komunitas adalah pelayanan keperawatan yang komprehensif, holistik, dan paripurna yang berfokus pada masyarakat yang sehat jiwa, rentan terhadap stres (resiko gangguan jiwa) dan dalam tahap pemulihan serta pencegahan kekambuhan (gangguan jiwa), (keliat, 2011)
Pelayanan kesehatan jiwa berbasis komunitas merupakan strategi yang terbaik untuk dapat mencapai masyarakat yang tetap sehat, yang beresiko dapat dicegah agar tidak terjadi gangguan, dan yang mengalami gangguan menjadi sembuh dan produktif kembali.
Salah satu masalah keperawatan jiwa adalah gangguan sensori persepsi halusinasi adalah hilagnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (duni luar). (Farida Kusumawati, 2010)

Menurut Varcolis, halusinasi dapat didefinisikan sebagai terganggunya persepsi sensori seseorang, dimana tidak terdapat stimulus. (Iyus Yosep, 2010)

Menurut UU No. 3 tahun 1966 yang dimaksud dengan gangguan jiwa yaitu kondisi terganggunya fungsi mental, emosi, pikiran,kemauan, perilaku psikomotorik dan verbal yang menjelma dalam kelompok gejala klinis, yang disertai oleh penderitaan dan mengakibatkan terganggunya fungsi humanistik individual. Menurut (Rasmun, 2001), salah satu yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan mental atau psikiatri (gangguan jiwa) yaitu krisis multi dimensi yang terjadi pada masyarakat. Masyarakat yang mengalami krisis diberbagai bidang seperti bidang ekonomi tidak hanya mengalami gangguan kesehatan fisik berupa gangguan gizi, terserang infeksi, tetapi juga dapat mengalami gangguan mental (jiwa). Bila individu tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi, maka akan menimbulkan gangguan untuk berkonsentrasi dan berorientasi pada realita.

Jumlah pendududuk yang mengalami gangguan jiwa di indonesia diperkirakan terus meningkat. Bahkan,khusus untuk gangguan jiwa berat, jumlahnya bisa mencapai 6 juta orang. Data tersebut berdasar riset kesehatan dasar. Menurut riset itu, jumlah populasi penduduk indonesia yang terkena gangguan jiwa berat mencapai 1-3% diantara total penduduk. Jika penduduk indonesia diasumsikan 200 juta, 3% dari jumlah itu adalah 6 juta orang. “ ini bukan angka prediktif”. Tapi, ini adalah angka prevalensi (angka kejadian) berdasarkan risat kesehatan dasar.

Menurut catatan WHO, depresi menempati empat besar penyakit dengan beban kesehatan tertinggi. “Diprediksikan pada tahun 2020, penyakit itu menempati dua terbesar dengan beban tertinggi, “ ujarnya. Itu disebabkan mereka yang terkena penyakit tersebut kehilangan hari-hari aktifnya. “Kualitas hidupnya turun, demikian juga produktivitasnya. Sehingga, menjadi beban orang lain.
Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang jumlah pasien gangguan jiwa di Kabupaten Karawang di 46 Puskesmas di Karawang sebanyak 4134 jiwa menderita Psikosis, 15.841 jiwa menderita Neurosa, 99 jiwa menderita Penyalahgunaan obat-obatan, 254 jiwa menderita Retradasi Mental, 362 jiwa menderita Epilepsi, 23.007 jiwa menderita gangguan jiwa lain.Di daerah Tanjung Pura, sebanyak 121 jiwa menderita Psikosis, 160 jiwa menderita Neurosa, 4 jiwa menderita Retradasi Mental, 4 jiwa menderita Epilepsi, dan sebanyak 130 jiwa menderita Gangguan Jiwa Lain.

Adapun peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa diantaranya, preventif, promotif, kuratif, rehabilitatif. Upaya preventi yaitu dengan mencegah perilaku yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain. Upaya promotif yaitu memberikan pendidikan kesehatan bagi keluarga tentang merawat klien gangguan sensori persepsi halusinasi. Upaya kuratif yaitu kolaborasi dengan tim kesehatin untuk memberikan pengobatan, dan upaya rehabilitatif  yaitu membantu klien dalam kegiatan sehari-hari dan dapt kembali menjadi kehidupan normal.

Berdasarkan data diatas penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dengan pembuatan karya tulis ilmiah dengan judul : “Asuhan Keperawatan pada Tn. R dengan Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Pendengaran akibat Skizoprenia paranoid”.
A.    Tujuan Penulisan.
1.      Tujuan Umum.
Mampu menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan secara langsung dan komprehensif meliputi aspek bio-psiko-sosial-spiritual dengan pendekatan proses keperawatan kepada klien dengan perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran pada Skizofrenia Paranoid.
2.      Tujuan Khusus.
a.       Mampu melakukan hasil pengkajian klien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran.
b.      Mampu menentukan diagnosa keperawatan serta memprioritaskan masalah yang timbul pada klien dengan  gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran.
c.       Mampu membuat rencana tindakan keperawatan pada klien dengan gangguann persepsi sensori: halusinasi pendengaran.
d.      Mampu melakukan pelaksanaan tindakan  keperawatan dan hasil asuhan keperawatan yang telah diberikan kepada klien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran.
e.       Mampu mengevaluasi hasil asuhan keperawatan yang telah diberikan kepada klien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran..
f.       Mampu membandingkan antara konsep dengan kenyataan pelaksanaan asuhan keperawatan klien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran.
B.     Metode Telaahan.
Metode yang digunakan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode deskriptif  dalam bentuk studi kasus yaitu pemaparan kasus sesuai bentuk dan kenyataan yang ada, berupa laporan asuhan keperawatan

Adapun teknik pengumpulan data  yang penulis gunakan adalah :
1.      Observasi, yaitu dengan partisifasi aktif ( pemberian asuhan keperawatan langsung kepada klien ) dan nonpartisifasi ( melakukan pengamatan kepada klien untuk melihat keadaan dan respon klien ).

2.      Wawancara, yaitu komunikasi yang di lakukan dengan tanya jawab dengan klien dan keluarga.
3.      Pemeriksaan fisik, adalah salah satu teknik pengumpulan data dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi untuk mengetahui keadaan fisik dan kesehatan klien.
4.      Studi dokumentasi, yaitu  mengumpulkan data-data klien dari klien dan keluarga klien, dengan cara mempelajari dan mencatat kejadian yang ada hubungannya dengan kasus yang di terangkan dalam catatan medis.
5.      Studi kepustakaan, yaitu mempelajari dan menganalisa buku-buku sebagai referensi sesuai dengan masalah yang dibahas.
6.      Asuhan Keperawatan Langsung, yaitu penulis memberikan asuhan keperawatan langsung kepada klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
C.    Sistimatika Penulisan.
Karya tulis ini, penulis susun dalam 4 (empat)  bab yang terdiri atas:
BAB I       : Mencakup pendahuluan, yang berisi tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan, metode telaahan dan sistimatika penulisan.

BAB II     :    TINJAUAN TEORITIS, pengertian, etiologi, tanda dan gejala, faktor predisposisi, faktor presipitasi, pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, rencana tindakan keperawatan, implementasi, evaluasi.

BAB III : TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,intervensi, implementasi, dan evaluasi. Serta untuk pembahasan meliputi kesenjangan antara teori dengan asuhan keperawatan.

BAB IV    :    PENUTUP, terdiri dari kesimpulan, rekomdasi dan saran.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Konsep Dasar Skizofrenia
1.  Pengretian
Skizofrenia adalah suatu penyakit otak persisten dan serius yang mengakibatkan prilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan interpersonal. Skizofrenia adalah kekacauan jiwa yang serius ditandai dengan kehilangan nalar pada kenyataan  ( Psikosis ), halusinasi, khayalan
( Kepercayaan yang salah ) yang abnormal dan mengganggu kerja dan fungsi sosial”. (Stuart & medicastore.com,2007 ).

Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi area fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterprestasikan realitas, merasakan dan menunjukan emosi  dan berprilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial. Kesimpulan dari pengertian di atas, Skizofrenia adalah gangguan jiwa yang disertai kekacauan jiwa dan mempengaruhi area fungsi individu yang ditandai dengan adanya gangguan pemikiran, emosi, prilaku  yang dapat menganggu kerja dan fungsi sosial individu. ( Isaacs,2005 ).

2.        Etiologi
Maramis WF (2009:260) menyebutkan beberapa etilogi skizofrenia antara lain :
a.    Endokrin
Dahulu di kira bahwa skizofrenia mungkin disebabkan oleh gangguan endokrin.Teori ini dikemukakan karena skizofrenia sering timbul pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium.Tetapi hal ini tidak dapat dibuktikan.

b. Metabolisme
Ada orang yang menyangka bahwa skizofrenia disebabkan oleh gangguan metabolisme, karena penderita dengan skizofrenia tampak pucat dan tidak sehat.Ujung extermitas agak sianotis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun.Hipotesis ini tidak dibenarkan oleh bayak sarjana.Blakangan ini teori metabolisme mendapat perhatian lagi karena penelitian dengan memakai obat halusinogenetik, seperti meskalin dan asam lesgalik diethylamide (LSD-25).Obat-obat dapat menimbulkan gejala-gejala yang mirip dengan gejala-gejala skizofrenia, tetapi reversibel.Mungkin skizofrenia disebabkan oleh suatu inborn error of metabolism, tetapi hubungan terakhir belum diketemukan.
c.  Teori Adolfmeyer
Skizofrenia tidak dsebabkan oleh suatu penyakit badaniah, kata Meyer (1906), sebab dari dahulu hingga sekrang para sarjana tidak dapat menemukan kelainan patologis-anatomis atau fisologis yang khas pada susunan saraf.Sebaliknya Meyer mengakui bahwa suatu konstitusi yang inferior atau suatu penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya skizofrenia.Menurutnya skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi.Oleh karena itu, timbul suatu disorganisasi kepribadian dan lama-kelamaan orang itu menjauhkan diri dari kenyataan. Hipotesis Meyer ini kemudian memperoleh banyak penganut di Amerika Serikat dan mereka memakai istilah “reaksi skizofrenik”
d.   Teori Sigmund Freud
Juga termasuk teori psikogenetik. Bila kita memakai formula Freud, maka dalam skizofrenia terdapat:
1.   Kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenetik ataupun somatis.
2.   Superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi, Id yang berkuasa dan terjadi suatu regresi ke fase narsisisme.
3.   Kehilangan kepastian untuk tranferensi sehingga terapi psikoananlitik tidak mungkin.
e.     Eugen Blueler
Dalam tahun 1911 Bleuler menganjurkan supaya lebih baik dipakai istilah “skizofrenia”, karena nama ini dengan cepat sekali menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang terpecah-pecah, adanya keretakan atau dishormoni antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan (schizos = pecah-pecah atau bercabang, phren = jiwa).
3.  Gejal-gejala Skizofrenia
Egeun Bleuler (1857-1938) gejala skizofrenia dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
a.    Gejala-gejala primer yaitu:
1.   Gangguan proses pikir
2.   Gangguan emosi
3.   Gangguan kemauan
4.   Autisme
b.   Gejala-gejala sekunder yaitu:
1.   Waham
2.   Halussinasi
3.   Gejala katatonik atau gangguan psikomotor yang lain.
4.   Tanda dan gejala Skizofrenia
Yosep (2009), membagi tanda dan gejala Skizofrenia menjadi dua bagian, yaitu:
a.    Gejala Positif
Halusinasi selalu terjadi saat ransangan terlalu kuat dan otak tidak mampu menginterprestasikan dan merespons pesan atau ransangan yang datang.Klie skizofrenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya.Auditori hallucinations, gejala yang biasanya timbul, yaitu klien merasakan ada susara dari dalam dirinya.
Penyesatan pikiran (delusi) adalah kepercayaan yang kuat dalam mengiterprestasikan suatu yang kadang berlawanan dengan kenyataan.Beberapa penderita skizofrenia berubah ffmenjadi paranoid.
Kegagalan berpikir mengarah kepada masalah dimana klien skizofrenia tidak mampu memeproses dan mengatur pikirannya.Kebayakan klien tidak mampu memahami hubungan antara kenyataan dan logika.karena klien skizofrenia tidak mampu mengatut pikirannya membuat mereka berbicara secara serampangan dan ketidak mampuan mengendalikan emosi dan perasaan.
b.   Gejala Negatif
Klien skizofrenia kehilangan motivasi dan apatis berarti kehilangan energi dan minat dalam hidup yang membuat klien menjadi orang yang malas. Karena klien skizofrenia hanya memiliki energy yang sedik, mereka tidak bias melakukan hal-hal yang lain seperti tidur dan makan.Perasaan yang tumpul membuat emosi klien skizofrenia tidak memiliki ekspresi baik dari raut muka maupun gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak memiliki emosi apapun. Tapi ini tidak berarti bahwa klien skizofrenia tidak bias merasakan perasaan apapun. Mereka mungkin bias menerima pemberian dan perhatian orang lain,tetapi tidak bisa mengekpresikan perasaan mereka.
Depresi yang tidak mengenal perasaan ingin di tolong dan berharap,selalu menjadi bagian dari hidupklien skizofrenia. Mereka tidak merasa memiliki prilaku yang menyimpang, tidak bisa membina hubungan relasi dengan orang lain, dan tidak mengenal cinta.Perasaan depresi adalah suatu yang sangat menyakitkan. Di samping itu, perubahan otak secara biologis juga member andil dalam depresi.Depresi yang berkelanjutan akan membuat klien akan membuat klien skizofrenia menarik diri dari lingkungannya. Mereka selalu aman bila sendiri. Dalam beberapa kasus, skizofrenia menyerang manusia usia muda antara 15 hingga 30 tahun,tetapi serangan kebanyakan pada usia 40 tahun ke atas. Skizofrenia bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin, ras, maupun tingkat social ekonomi.
5.   Jenis-jenis Skizofrenia
Maramis (2009), membagi jenis skizofrenia menjadi:
a.    Skizofrenia Paranoid, agak berlainan dari jenis-jenis yang lain dalam jalannya penyakit. Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering lama kelamaan menunjukan gejala-gejala skizofrenia komplex, atau gejala-gejala hebfrenik dan katatonik bercampuran.
b.   Skizofrenia Hebefrenik, permulaannya perlahan-lahan atau sebakut atau sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun.Gejala yang mencolok adalah; gangguan proses berpikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality.
c.    Skizofrenia Katatonik, timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun, dan biasanya akut serta sering di dahului stress emosional.
d.   Skizofrenia Simplex, sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan
e.  Skizofrenia Residual, jenis ini adalah kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya satu episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang kearah gejala negative yang lebih menonjol.

B.  Konsep Dasar Halusinasi

1.         Pengertian
a.         Persepsi
Diterimanya rangsangan sampai rangsang itu disadari dan dimengerti. Penginderaan atau sensation adalah proses penerimaan rangsang. Jadi perubahan persepsi adalah ketidakmampuan manusia dalam membedakan rangsang yang timbul dari sumber internal seperti pikiran.
b.        Halusinasi
1)   Menurut Ilmu Kedokteran
Halusinasi adalah penerimaan tanda adanya rangsangan apapun pada pancaindera seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar, dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik.
2)   Menurut Dr. Nursjirwan Jusuf, DSJ.
Halusinasi merupakan suatu proyeksi dari konflik jiwa, dimana pada halusinasi tidak terdapat rangsangan dari luar, melainkan timbul suatu pikiran seolah-olah sebagai hasil pengamatan.
3)   Menurut Tim Keperawatan RSIJP Bogor.
Halusinasi adalah pengamatan sensorik tanpa rangsangan eksternal. Pasien mempunyai kesadaran penuh pada saat halusinasi terjadi.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa halusinasi adalah suatu rangsangan eksternal yang diterima panca indera, dimana bertentangan dengan kenyataan atau realita dan tidak dapat dibuktikan.
2.         Karakteristik Halusinasi
Secara umum dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang mengancam harga diri dan keutuhan keluarga merupakan penyebab terjadinya halusinasi. Karena ancaman tersebut dapat menimbulkan kecemasan. Kecemasan yang berat akan menimbulkan kemauan untuk mengatur persepsi tentang pembedaan antara yang dipikirkan dengan perasaan sendiri. Halusinasi yang sering terjadi pada kasus yang berulang dikarenakan kurangnya pengetahuan di masa lalu akan membawa klien selalu mengkritik atau melakukan perilaku tertentu. Karena klien merasa bingung dengan apa yang dialami atau merasa takut terhadap isi halusinasi. Karena pengalaman halusinasi adalah nyata kadang klien berasumsi bahwa perawat juga mengetahui apa yang ia dengar atau lihat.
3.         Jenis-jenis Halusinasi
Menurut Wilson dan Kneisl, Halusinasi terbagi menjadi 5 tipe yaitu:
a.         Halusinasi Dengar (Audiotrik)
Individu merasa melihat pemandangan, orang, hewan atau sesuatu yang tidak nampak obyeknya yang memberikan rasa nyaman atau ketakutan.
c.         Halusinasi Penciuman (Oifaktori)
Individu sering mengatakan mencium bau-bau seperti bunga, kemenyan, dan bau yang tidak nampak obyeknya.
d.        Halusinasi Kecap (Gustatorik)
Individu merasa ada sesuatu di mulutnya, kasus ini sering dijumpai pada kasus “seizure disorder”.
e.         Halusinasi Raba (Taktil)
Individu yang bersangkutan merasa ada binatang yang merayap pada kulitnya atau ada orang yang memukulnya.
Halusinasi menyebabkan perubahan pada kehidupan nyata. Pasien sulit diajak komunikasi, mengenal diri dan lingkungan serta sulit mengukur afek pada klien.

4.         Proses Terjadinya Halusinasi
Menurut Haber, Halusinasi berkembang melalui 4 fase:
a.         Fase Pertama
Pada fase ini individu mengalami rasa cemas, stress, perasaan terpisah atau terpencil. Pasien mungkin melamun dan memfokuskan pada hal-hal yang menyenangkan untuk mengontrol kesadarannya dan mengenai pikiran, tetapi inteorasi pikirannya meningkat.
b.        Fase Kedua
Kecemasan klien ini meningkat yang dipengaruhi oleh pengalaman yang bersumber pada internal dan eksternal. Pasien berada pada tingkat mendengarkan atau memperhatikan. Klien berusaha membuat jarak antar dirinya dan halusinasinya dengan memproyeksikan pengalaman, sehingga seolah-olah halusinasinya tersebut datang dari orang lain atau tempat lain.
c.         Fase Ketiga
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya atas halusinasinya yang menjadi kesenangan. Keamanan yang bersifat sementara. Manifestasi lebih cenderung mengikuti petunjuk oleh halusinasinya. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. Rentang perhatiannya hanya beberapa menit atau detik. Gejala fisik dari ansietas berat seperti berkeringat, tremor, ketidakmampuan mengikuti petunjuk.
d.        Fase Keempat
Pada fase ini klien merasa tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang tadinya menyenangkan berubah sifatnya menjadi mengancam, memerintah dan memarahi. Klien merasa tidak mampu membentuk hubungan yang berarti dengan orang lain, karena terlalu sibuk dengan halusinasinya. Klien mungkin berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu singkat, beberapa saat atau selamanya. Proses ini akan menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi secepatnya.

5.         Rentang Respon
Respon Adaptif
Rentang respon
Neurobiologik
Respon Mal adaptif

-  Pikiran logis
-  Persepsi akuran
-  Emosi konsisten dengan pengalaman
-  Perilaku cocok
-  Hubungan sosial harmonis

-  Proses pikir terganggu
-  Ilusi
-  Emosi berlebihan/kurang
-  Perilaku tidak biasa
-  Menarik diri

-  Gangguan proses pikir/waham
-  Halusinasi
-  Kerusakan proses emosi perilaku tidak terorganisir
-  Isolasi sosial

(Sumber: Suart & Laraia, 1998)

Klien gangguan orientasi realita mengalami proses pikir, persepsi afek, kegiatan motorik dan sosial. Respon mal adaptif dari keempat perubahan tersebut adalah sebagai berikut:
a.         Perubahan proses pikir
Pada klien gangguan orientasi realita pola dan proses pikir sama dengan anak-anak yang disebut pola pikir primitif. Klien yang terganggu pikirannya suka berperilaku inkoheren.
b.        Perubahan pola persepsi
Persepsi dapat diartikan sebagai reaksi dari respon tubuh terhadap rangsangan dari luar kemudian diikuti oleh pengenalan dan pemahaman tentang informasi orang, benda ataupun lingkungan. Perubahan persepsi dapat terjadi pada tubuh atau panca indera yaitu pendengaran, penglihatan, perabaan, penciuman dan pengecapan. Perubahan persepsi yang sering ditemukan pada klien gangguan orientasi realitas adalah halusinasi dan depersonalisasi.
c.         Perubahan pada afek dan emosi
Afek berkaitan dengan emosi individu, perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu. Perubahan afek pada klien gangguan orientasi realita adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen.
d.        Perubahan motorik
Perubahan motorik pada klien gangguan orientasi realita dapat dimanifestasikan dengan peningkatan dan penurunan kegiatan motorik, impulsif, maneurisme, otomatis, stereotipe.
e.         Perubahan sosial
Perkembangan hubungan sosial yang tidak adekuat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar dan mempertahankan interaksi.

6.         Etiologi
a.         Faktor predisposisi
Terjadinya gangguan orientasi dipengaruhi oleh banyak faktor baik internal maupun eksternal yaitu:
1)      Faktor perkembangan
Dimana hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal yang dapat meningkatkan stress dan anxietas yang dapat berakhir dengan gangguan persepsi sensori.
2)      Faktor psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis, peran ganda atau peran bertentangan dapat menimbulkan anxietas yang berat.
3)    Faktor biologis
Dimana dipengaruhi oleh faktor keturunan.
b.        Faktor presipitasi
1)      Stres sosial budaya
Stres dan kecemasan akan meningkat bila terjadi penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang penting, disingkirkan atau diasingkan.
2)   Faktor biologis
Dopamin, neripin, indolamin, zat halusinogenik diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas.
3)   Faktor psikologis
Kecemasan yang memanjang, disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah.
4)   Faktor perilaku
Perilaku yang berkaitan dengan gangguan orientasi berkait dengan perubahan proses pikir, afek, persepsi motorik dan sosial.
7.         Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang sering digunakan klien gangguan orientasi realita adalah peningkatan regresi proyeksi, kadang-kadang dapat ditemukan represi, sublimasi, kompensasi dan fantasi.
8.         Gejala
Gejala atau karakteristik perilaku halusinasi adalah:
1)      Bicara, senyum dan tertawa sendiri.
2)      Mengatakan mendengar suara, melihat, mengecap, dan merasa sesuatu yang tidak nyata obyeknya.
3)   Merusak diri sendiri, orang lain atau lingkungan.
4)   Tidak dapat membedakan hal-hal yang nyata dan tidak nyata.
5)   Tidak dapat memusatkan perhatian dan konsentrasi.
6)   Pembicaraan kalau kadang tidak masuk akal.
7)   Sikap curiga dan bermusuhan.
8)   Menarik diri dan menghindar dari orang lain.
9)   Sulit membuat keputusan.
10)         Ketakutan.
11)         Tidak mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene: mandi, sikat gigi, ganti pakaian, berhias.
12)         Muka merah tegang.
13)         Tekanan darah meninggi.
14)         Nafas terengah-engah.
15)         Nadi cepat.
16)         Banyak keringat.
9.         Penatalaksanaan
a.         Psikoterapeutik
-       Bina hubungan saling percaya.
-       Bantu dan bimbing klien menentukan cara menyelesaikan masalah (koping) konstruktif.
-       Bimbing klien mengungkapkan perasaannya.

b.        Pendidikan
-       Bimbing klien mengontrol halusinasinya.
-       Jelaskan pada klien dan keluarga manfaat obat terhadap kesehatan serta efek samping yang mungkin terjadi serta cara mengatasinya.
-       Jelaskan kepada keluarga tanda-tanda halusinasinya, cara mengatasinya, serta fasilitas kesehatan yang dapat digunakan.
c.         Kegiatan kehidupan sehari-hari
-       Bimbing klien memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
-       Bimbing klien melaksanakan asuhan mandiri.
-       Bimbing klien melaksanakan aktivitas.
d.        Therapi somatik
-       Pengekangan mekanik.
-       Terapi elektrokonvulsif.
-       Isolasi.
e.         Lingkungan terapeutik
-       Sikap lingkungan fisik yang dapat menguatkan realitas.
                     -     Siapkan lingkungan sosial.

C.      Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Halusinasi

1.         Pengkajian
Pada tahap ini perawat menggali faktor-faktor yang ada di bawah ini, yaitu:
a.         Faktor predisposisi
a.1.         Faktor perkembangan
       Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stres dan kecemasan.
a.2.         Faktor sosio kultural
       Berbagai faktor di masyarakat dapat menyebabkan seseorang merasa disingkirkan dan kesepian terhadap lingkungan tempat klien dibesarkan.
a.3.         Faktor biokimia
       Dengan adanya stres yang berlebihan, tubuh akan menghasilkan zat yang bersifat halusinogenik.
a.4.         Faktor psikologis
       Hubungan interpersonal yang tidak harmonis dan sering diterima oleh anak dapat mengakibatkan stres dan kecemasan dan berakhir dengan gangguan orientasi realitas.
a.5.         Faktor genetik
       Pada kembar mono zigot berpengaruh terhadap perkembangan schizoprenia. Pasien dengan psikotik yang mengalami halusinasi 80% diantaranya adalah halusinasi pendengaran dan penglihatan.
b.        Faktor presipitasi
Mengkaji faktor lingkungan yang mencetus terjadinya halusinasi yaitu partisipasi klien dalam kelompok.
c.         Faktor perilaku
Respon klien terhadap halusinasi yaitu curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, bingung perilaku merusak diri, kurang perhatian, ketidakmampuan, inkoheren, kacau, tidak masuk akal, bicara sendiri, melihat atau mendengar sesuatu tanpa adanya rangsangan yang nyata, perasaan bersalah, delusi, menolak makan, penyesalan yang dalam atau merasa malu untuk mengenalkan pengalaman halusinasinya.
d.        Mekanisme penyesuaian diri
Mekanisme yang biasa digunakan pada klien halusinasi adalah proyeksi yang memberi kemampuan ego untuk mengatasi rangsangan dari luar sehingga dapat mengatasi kecemasan.
Pohon Masalah Dengan Gangguan Sensori Persepsi: 
Gambar. 1

Halusinasi Dengar





     Resiko perilaku kekerasan








Gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran









                                                           isolasi social menarik diri




  Diagnosa Keperawatan

Masalah yang dirumuskan pada umumnya bersumber pada apa yang klien perlihatkan sampai adanya halusinasi. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan halusinasi antara lain:
a.         Risiko tinggi mencederai diri sendiri dan orang lain.
b.        Gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
c.         Isolasi sosial: menarik diri.
d.        Gangguan konsep diri: harga diri rendah.
e.         Defisit perawatan diri : kebersihan diri.
                     
3.         Perencanaan
Dalam perencanaan ini secara garis besar, tujuan perencanaan klien yang mengalami halusinasi adalah:
a.         Klien mampu mengenal halusinasinya.
b.        Klien mampu mengontrol halusinasinya.
c.         Klien mampu mempertahankan strategi koping yang efektif.
d.        Klien mendapatkan dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya.
e.         Klien mampu memanfaatkan obat dengan baik.
Rencana tindakan yang dilakukan pada klien mengacu pada prinsip-prinsip berikut ini:
a.         Melakukan validasi terhadap persepsi klien.
b.        Menghindari realitas dimulai dengan realita diri orang lain dan lingkungan.
c.         Menurunkan kecemasan klien.
d.        Melindungi klien dan orang lain dari bahaya halusinasi.
e.         Meningkatkan sistem pendukung (keluarga, klien lain, yang telah dapat mengontrol halusinasi dan tim kesehatan).

Beberapa tindakan keperawatan yang perlu dilakukan pada klien halusinasi:
a.         Bantu klien mengenal halusinasinya
-       Bina hubungan saling percaya antara perawat klien.
Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya.
-       Lakukan kontak sering dan singkat untuk mengurangi kontak klien dengan halusinasinya.
Rasional : kontak sering dan singkat dapat memutuskan halusinasi.
-       Observasi tingkah laku klien berkait dengan halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang ke kiri/ke kanan/ke depan seolah-olah ada teman bicara.
Rasional : Mengenal prilaku pada saat halusinasi timbul memudahkan perawat dalam melakukan intervensi.
-       Indentifikasi timbulnya halusinasi, waktu, frekuensi, sifat dan isi halusinasi.
Rasional : Dengan mengetahui waktu, isi dan frekwensi munculnya halusinasi mempermudah tindakan keperawatan yang akan dilakukan perawat.
b.        Bantu klien mengontrol halusinasinya
-       Identifikasi bersama klien cara/tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi.
Rasional : upaya untuk memutuskan siklus halusinasi sehingga halusinasi tidak berlanjut.
-       Diskusikan manfaat cara yang digunakan oleh klien dalam mengontrol halusinasinya.
Rasional : Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien.
-       Diskusikan cara baru untuk memutus atau mengontrol timbulnya halusinasi.
Rasional : Memberikan alternatif pilihan bagi klien untuk mengontrol halusinasi.
-       Bantu klien memilih dan melatih cara memutus halusinasi secara bertahap.
Rasional : Motivasi dapat meningkatkan klien untuk mencoba memilih salah satu cara mengendalikan halusinasi dan dapat meningkatkan hargadiri klien.
-       Beri kesempatan pada klien untuk melakukan cara yang telah dilatih.
Rasionalnya : memberi kesempatan pada klien untuk mencoba cara yang telah dipilih.
-       Anjurkan klien untuk mengikuti therapi aktivitas kelompok: orientasi realitas, stimulasi persepsi.
Rasional : Stimulasi persepsi dapat mengurangi perubahan interpretasi realitas klien akibat halusinasi.
c.         Bantu klien mendapatkan dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasi.
-       Anjurkan klien memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi.
Rasional : Untuk mendapatkan bantuan kelurga mengontrol halusinasi.
-       Diskusikan dengan keluarga cara yang dapat dilakukan keluarga untuk memutuskan halusinasi klien.
Rasional : Untuk mengetahui pengetahuan keluarga dan meningkatkan kemampuan pengetahuan tentang halusinasi.
d.        Bantu klien memanfaatkan obat dengan baik
-       Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis obat, frekwensi, dan manfaat obat.
Rasional : Dengan mengetahui frekwensi dan manfaat obat daiharapkan klien melaksanakan program pengobatan.
-       Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya.
Rasional : Menilai kemampuan klien dalam mengelola pengobatannya sendiri.
-       Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat yang dirasakan.
Rasional : Dengan mengetahui efek samping obat klien akan tahu apa yang harus dilakukan setelah minum obat.
-       Diskusikan akibat berhenti obat tanpa konsultasi.
Rasional : Program pengobatan dapat berjalan sesuai rencana.
-       Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip enam benar.
-       Rasional : Dengan mengetahui prinsip pengobatan obat maka kemandirian klien untuk pengobatan dapat ditingkatkan secara bertahap.
4.         Evaluasi
Hasil akhir yang diharapkan :
-          Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
-          Klien dapat mengatasi atau mengurangi halusinasi.
-          Klien dapat mengenali dan mengontrol halusinasi dengar.
-          Klien dapat berhubungan dengan oranglain secara bertahap.
-          Regimen terapeutik dapat dilaksanakan dengan optimal.

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH