iklan

loading...

Friday, May 6, 2011

Pengkajian Endokrin Kortek Adrenal

BAB I
PENDAHULUAN


Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mensekresikan produksinya langsung ke dalam darah. Zat-zat kimia yang disekresikan oleh kelenjar endokrin disebut hormon. Hormon mengatur fungsi organ agar bekerja secara terkoordinasi dengan sistem syaraf. Pada pengkajian sistem endokrin, pengkajian harus difokuskan pada proses timbulnya gejala yang berkaitan dengan metabolisme yang meningkat, berlebihan ataupun sebaliknya. Hal ini mencakup laporan dari pasien, keluarga, pemeriksaan yang dilakukan oleh perawat ataupun dari pemeriksaan penunjang mengenai semua perubahan yang terjadi.
Pemeriksaan fisik merupakan penilaian terhadap tubuh untuk menentukan status kesehatan dari pasien. Tekniknya meliputi inspeksi, palpasi (merasakan dengan menggunakan tangan dan atau jari), perkusi (mengetuk dengan jari) auskultasi (mendengarkan) dan mencium. Teknik pemeriksaan itu sebagai sumber data yang dapat menentukan diagnosa dan rencana tindakan. Pengkajian kesehatan yang lengkap meliputi mendapatkan informasi tentang riwayat kesehatan dan gaya hidup yang dapat kita peroleh melalui pasien secara langsung ataupun laporan dari keluarga. Pemeriksaan penunjang dari hasil laboratorium yang berhubungan dan screening test akan sangat membantu untuk melengkapi data yang dibutuhkan.
Pemeriksaan fisik yang komprehensif memungkinkan tenaga kesehatan untuk mendapatkan informasi yang berhubungan sebelum masalah terjadi. Pemeriksaan fisik yang lengkap biasanya dimulai dengan head to toe, bagaimanapun prosedur yang tepat akan bervariasi sesuai dengan kebutuhan orang yang diperiksa dan pemeriksa. Pemeriksaan fisik yang komprehensif memberikan kesempatan bagi tenaga perawat kesehatan profesional untuk memperoleh data dasar tentang kondisi kesehatan individu yang sangat penting untuk menetukan tindakan keperawatan selanjutnya.

BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI KORTEKS ADRENAL


A. Kelenjar Korteks Adrenal
Kelenjar adrenal terletak pada daerah bagain belakang abdomen, diatas ginjal (suprarenalis). Meskipun berdekatan secara anatomi berdekatan dengan ginjal, tetapiberdasarkan fisiologinya, kelenjar adrenal berfungsi menghasilkan beberapa hormone penting bagi tubuh. Secara anatomi kelenjar adrenal dibagi menjadi 2 bagian yaitu korteks adrenal dan (bagian luar) dan medulla adrenal (bagian dalam). Bagian medulla lebih berperan dalam berespon terhadap stress dan berespon dengan cepat melalui system persarafan, sedangkan bagian korteks berespon lebih lambat dan lebih lama dibandingkan dengan bagian medulla. Beberapa hormone yang berbeda dihasilkan oleh bagian yang berbeda dari korteks adrenal. Korteks adrenal secara anatomi terbagi menjadi 3 lapisan (zona), yaitu :
1. Zona glomerulosa (secara mikroskopis terlihat seperti glomerulus ginjal)
Sel pada zona glomerulosa memproduksi mineralokortikoid terutama aldosteron yang berfungsi mengatur keseimbnagan cairan, natrium dan potassium (kalium).
2. Zona fasiculata (bagian tengah dari koteks adrenal)
Sel zona fasiculata memproduksi glukokortikoid terutama kortisol yang berperan dalam metabolism karbohidrat, lemak dan protein serta respon tubuh terhadap terhadap inflamasi.
3. Zona retikularis (zona terdalam)
Zona retikularis mensekresi sejumlah kecil dari seks hormone yaitu androgen baik pada pria maupun wanita.





Gambar 1.
Anatomi korteks adrenal (terbagi menjadi 3 zona)

B. Fisiologi Hormon Glukokortikoid
Hormon-hormon steroid, termasuk glukokortikoid, melintasi membrane sel target dengan mudah kemudian beraksi di dalam nukleus sel target dan menstimulasi pembentukan mRNA serta mengatur kerja enzim yang mengontrol fungsi sel. Hormon glukokortikoid berperan utama dalam metabolism karbohidrat, protein dan lemak yang memobilisasi energy untuk beberapa aktivitas ekstra.Beberpa efek dari hormone ini bertentangan dengan efk hormone insulin yan berperan dalam penimpanan metabolit. Jika insulin merupakan hormon anabolik, maka glukokortikoid merupakan hormon katabolik.
Glukokortikoid juga berperan dalam menstimulasi kerja enzim-enzim dalam reaksi konversi asam amino menjadi glukosa (glukoneogenesis), sehingga menyebabkan penurunan jumlah asam amino, merusak protein otot skelet dan menurunkan sintesis protein baru dalam antibody dan respon inflamasi.
Kortisol yang merupakan kortikosteroid, adalah suatu hormon yang membantu tubuh untuk bereaksi terhadap stress fisik dan emosional, mengatur tekanan darah dan mengatur metabolism nutrient (karbohidrat, protein dan lemak). Kortisol secara normal disekresi dalam suatu pola diurnal (harian), dimana kadar tertinggi terjadi pada pagi hari (jam 8 pagi) dan kadar terendah terjadi pada tengah malam. Pola ini dapat berubah pada orang yang bekerja pada shift malam dan tidur diwaktu berbeda. Selain itu perubahan pola ini juga sering terjadi pad penderita Cushing’s syndrome (kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh peningkatan produksi kortisol oleh kelenjar korteks adrenal).
Produksi kortisol dikontrol melalui mekanisme feedback. Pada saat kadar kortisol rendah, maka hipotalamus sebagai master gland, memproduksi Corticotropin Releasing Hormone (CRH), kemudian CRH akan menstimulasi kelenjr hipofisis anterior mensekresi Adrenocorticotropin Hormone (ACTH), yang kemudian menstimulasi kelenjar korteks adrenal memproduksi dan mengeluarkan kortisol. Hal sebaliknya terjadi jika kadar kortisol meningkat dalam darah, maka produksi CRH dan ACTH berkurang.
Skema berikut ini menjelaskan kerja kortisol dalam mengatur metabolisme nutrient:




C. Fisiologi Hormon Aldosteron
Hormon aldosteron diproduksi oleh kelenjar korteks adrenal zona glomerulosa. Produksi aldosteron di kontrol oleh angiotensin II. Aldosetron berperan dalam mengatur keseimbangan air, natrium dan kaliaum di dalam darah. Pada saat tubuh mengalami kekurangan volume cairan maka Angiotensin II akan menstimulasi peningkatan produksi aldosteron, sedangkan sebaliknya jika terjadi kelebihanvolume cairn, maka akan terjadi feed back negatif, yang mana pembentukan Angiotensin II akan berkurang dan produksi aldosteron diturunkan. Sel target dari hormon ini adalah tubulus renalis. Pada sel target hormon ini menstimulasi peningkatan reabsorpsi air dan natrium di tubulus renalis. Akibat dari aktivitas hrmon ini adalah penurunan produksi urin dan sebaliknya terjadi peningkatan volume cairan intravaskuler.
Skema berikut ini menjelaskan tentang mekanisme kerja hormon aldosteron dalam mempertahankan kesimbangan caiaran tubuh pada kondisi kekurangan cairan :



Kekurangan cairan tubuh



Penurunan curah jantung


Penurunan renal blood flow



Penurunan tekanan arteriola aferen


Menstimulasi sel apparatus juxta
glomerulus ginjal



Produksi renin


Angiotensinogen

Di hati Angiotensin I

di paru-paru
Angiotensin II





Melalui kerja saraf simpatik menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah
Menstimulasi peningkatan produksi hormon aldosteron oleh korteks adrenal



Penigkatan tekanan perifer
Pada sel target tubulus renalis, aldosteron menstimulasi peningkatan reabsorsi air dan natrium
Peningkatan tekanan darah

Peningkatan volume cairan tubuh

Gambar. 3
Mekanisme aldosteron dalam mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit

BAB III
PENGKAJIAN PADA KLIEN DENGAN
GANGGUAN KELENJAR KORTEKS ADRENAL

Pengkajian keperawatan secara umum dibagi dalam 3 kegiatan, yaitu : anamnesa (interview), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Perumusan diagnosa keperawatan yang mendasari pembuatan rencana asuhan keperawatan sangat didukung oleh hasil pengkajian yang akurat dan komprehensif. Sehingga keterampilan dalam melakukan pengkajian keperawatan sangat diperlukan sebagai dasar dalam melakukan asuhan keperawatan. Berikut ini penjelasan tentang pengkajian keperawatan pada klien dengan gangguan system endokrin pada kelenjar korteks adrenal :

A. Observasi
Berikut ini beberapa observasi yang penting dilakukan pada saat melakukan pengkajian:
1. Penampilan umum : kurus kering (esimiasai) pada Addison disease, sedangkan pada Cushing’s Syndrome klien tampak : wajah bulat membesar (moon face), peningkatan lemak di daerah leher dan punggung
2. Adanya tanda-tanda syok dan kelemahan yang ekstrim.
3. Tanda-tanda vital, lakukan pengecekan nadi setiap 4 jam, catat adanya perubahan tekanan darah atau adanya perubahan ortostatik (baik penurunan atau peningkatan tekanan darah). Tekanan darah; adanya hipotensi pada penyakit Addison dan hipertensi pada Cushing’s Syndrome.
4. Dehidrasi atau overhidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit karena jika terapi steroid tidak adekuat maka akan terjadi kehilangan natrium dan retensi kalium, tetapi jika terapi steroid dosisnya terlalu tinggi, maka jumlah natrium akan berlebihan dan air diretensi tetapi ekskresi kalium akan tinggi.
5. Kondisi fisik dan emosional atau psikosis karena pasien dengan gangguan cortex adrenal sangat tidak toleran terhadap stress (Addison crisis).
6. Serak pada tenggorokan dan rasa terbakar pada perkemihan.
7. Timbang berat badan setiap hari, untuk mengukur penambahan atau pengurangan cairan.
8. Kelumpuhan akibat hipokalemia, fatique, kelemahan, osteoporosis.
9. Penurunan tingkat kesadaran.
10. Distribusi lemak, moon face dan dorsocervical fat pad (buffalo hump) pada bagian posterior leher serta daerah supraklavikular, badan yang besar serta ekstremitas yang relatif kurus, truncal obesity.
11. Peningkatan kadar androgen karena menyebabkan virilisme (maskulinisme) pada wanita, penipisan pada rambut, tetapi menyebabkan hirsutisme pada tubuh dan wajah).
12. Status mental termasuk kehilangan memory, kurang konnsentrasi dan cognitive, euporia dan depresi,kadang2 disebut “steroid psicosis”.
13. Integument : seperti adanya striae, kulit mudah, luka, ekomosis (memar), tipis dan rapuh.
14. Kaji adanya perubahan warna kulit pada area leher, wajah, tangan area tubuh yang lain, adakah kulit terlihat terlalu lembab berair atau sangat kering.
15. Kaji apakah klien merasakan terlalu panas atau terlalu dingin.
16. Kaji apakah klien merasakan nervus atau tremor untuk melakukan sesuatu.

B. Interview
Interview dilakukan melalui pendekatan langsung maupun tidak langsung kepada klien atau kedua-duanya. Tujuan pengumpulan data melalui interview adalah untuk mengumpulkan data serta untuk mengetahui keterkaitannya. Adapun data yang perlu dikaji melalui interview pada pengkajian sistem endokrin lanjut adalah sebagai berikut:
1. Biodata
Perlu dikaji identitas, usia, jenis kelamin, riwayat kesehatan yang lalu juga sangat penting untuk menentukan dasar pengkajian dari setiap masalah endokrin. Efek dari masalah endokrin akut ataupun kronis juga bervariasai tergantung dari usia penderita. Beberapa masalah endokrin juga berhubungan dengan gangguan seksual.

2. Keluhan Utama:
Penyakit Addison :
Kelemahan otot, anoreksia, mudah lelah, emasiasai, pigmentasi pada kulit, dehidrasi kronis dan berat. Apakah klien merasakan sangat haus. Adakah keluhan cemas, kebingungan dan kegelisahan. Pada krisis Addison dapat ditemukan sianosis, panas, tanda-tanda klasik syok. Sakit kepala, mual , nyeri abdomen, dan diare. Terpajan udara yang dingin, infeksi yang akut atau penurunan asupan garam, stres pembedahan atau dehidrasi akibat persiapan berbagai pemeriksaan diagnostik, aktivitas jasmani yang berlebihan dapat menyebabkan krisis hipersensitif yang dapat menyebabkan kolaps sirkulasi.
Penyakit Cushing Sindrom
Obesitas tipe sentral “punuk kerbau”, wajah seperti bulan “moon face”. Keluhan nyeri punggung, fraktur kompresi vetebre. Virilisasai pada wanita (timbulnya ciri-ciri maskulin dan hilangnya ciri-ciri feminim). Hilangnya libodo pada laki-laki dan wanita. Haid yang berhenti pada wanita.

3. Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Tingkat energi dan istirahat tidur
Perawat dapat menanyakan kepada klien tentang bagaimana kemampuan melakukan Activity Day Living (ADL). Waktu tidur yang lebih lama akibat perubahan sekresi diurnal kortisol, keletihan dan kelemahan yang menyeluruh tanpa beraktivitas sebelumnya. Apakah klien terbangun malam hari dengan banyak berkeringat. Apakah klien mengalami mimpi buruk.
2) Pola eliminasi
Perawat dapat menanyakan frekuensi dan jumlah urin, apakah sering kencing dimalam hari (nokturia). Warna dari urine ditanyakan untuk menunjukkan adanya masalah pada keseimbangan cairan.
3) Status nutrisi-metabolik
Perawat dapat menanyakan adanya keluhan mual, muntah, nyeri pada abdomen. Peningkatan dan penurunan intake cairan dan makanan, klien tampak kehausan dan menginginkan peningkatan penambahan garam dapat dilaporkan oleh klien. Berapa tinggi badan dan berat badan ideal klien. Adakah riwayat perubahan berat badan. Apakah klien melaporkan kenaikan berat badan yang signifikan, kesembuhan luka yang lambat dan gejala memar. Peliputan otot atau osteoporosis yang disebabkan oleh katabolisme protein yang berlebihan. Apakah distribusi rambut diseluruh tubuh normal.
4) Fungsi seksual dan reproduksi
Perawat dapat menanyakan pada klien wanita siklus menstruasi, adanya peningkatan aliran darah, lamanya, frekuensi dalan setiap bulan adanya peningkatan rasa nyeri. Keluhan penurunan libido, impoten dan infertilitas. Pada klien laki-laki tanyakan adanya perubahan kemampuan terjadinya ereksi daan melakukan hubungan koitus.
5) Kognitif dan konseptual
Bagaimana dengan status memori, apakah klien mencatat setiap perubahan. Pernahkah klien mengalami blurring atau double vision yang merupakan gangguan penglihatan akibat penekanan kiasma optikum oleh tumor yang tumbuh pada Cushing Sindrome, bila pernah kapan terakhir mengalaminya. Tanyakan kepada keluarga tentang awitan sakitnya atau peningkatan stres yang mungkin memicu krisis akut tersebut. Apakah klien merasa nyaman yakin dengan tindakan medis akan mengatasi masalahnya.

b. Riwayat Kesehatan Dahulu
1) Apakah klien mempunyai riwayat penyakit infeksi pada kelenjar adrenal.
2) Apakah klien pernah melakukan operasi pengangkatan kelenjar andrenal.
3) Apakah klien mempunyai riwayat penyakit Tuberkulosis (TB) atau histoplasmosis yang menyebabakan proses autoimun pada kerusakan kelenjar adrenal.
4) Apakah klien mengkonsumsi hormon adrenokortikol yang dapat menekan respon normal tubuh terhadap stres, bila mengkonsumsi sudah berapa lama, adakah penghentian obat secara mendadak.
5) Apakah klien mengkonsumsi hormon kortikosteroid yang berlebihan.
6) Apakah klien pernah mempunyai riwayat karsinoma bronkogenik.

c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat keluarga yang mungkin ditemukan adalah adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan, obesitas dan infertilitas.

4. Riwayat Psikososial
Perawat dapat mengidentifikasi adanya sebab-sebab stresor dan apa yang dilakukannya, kemampuan koping mekanisme, support sistem dan kepercayaan klien yang berhubungan dengan kesehatan. Pada Cushing sindrom akan mempengaruhi konsep diri pada klien diantaranya gambaran diri dan persepsi diri. Karakteristik tubuh yang berubah, impoten, dan fungsi seksual yang berubah. Perubahan terjadi pada aktivitas mental dan emosional kadang dijumpai psikosis, distres serta depresi akan meningkat bersamaan dengan parahnya perubahan fisik yang menyertai syndrom ini. Adakah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan klien, adalah klien mencatat perubahan mengenai penampilan dalam 5 tahun terakhir. Adakah klien merasakan sebenarnya mampu melakukan sesuatu tapi ternyata tidak dapat, jika demikian apa penyebabnya. Apakah dampak yang dirasakan dari gangguan endokrin yang dirasakan klien. Adanya support sosial bimbingan konseling untuk regimen pengobatan yang lama dan kemampuan finalsial.

5. Review of System
a. Managemen Keperawatan Penyakit Addison
Pengkajian riwayat kesehatan dan pemeriksaan berfokus pada adanya gejala klinik ketidakseimbangan cairan dan tingkat stress pasien. Untuk mendeteksi ketidakcukupan volume cairan, perawat melakukan monitor tekanan darah dan rata-rata nadi dari posisi berbaring ke berdiri. Perawat mengkaji warna dan turgor kulit. Kemudian perlu dikaji lebih lanjut adanya perubahan berat badan, kelemahan otot, serta investigasi penyakit-penyakit atau stress yang berdampak krisis akut.
b. Pengkajian Pasien Dengan Cushing Syndrom
Riwayat penyakit dan pengkajian berfokus pada efek terhadap tubuh akibat kelebihan konsentrasi hormon korteks adrenal dan ketidak mampuan hormon korteks adrenal merespon perubahan tingkat cortisol dan aldosteron. Riwayat meliputi informasi tentang tingkat aktivitas pasien dan kemampuan melakukan aktivitas rutin dan perawatan diri. Pengkajian pada kulit diobservasi dan diperiksa adanya trauma, infeksi dan kerusakan, lecet dan edema. Adanya perubahan fisik dicatat. Perawat menkaji fungsi mental, meliputi mood, respon terhadap pertanyaan, kesadaran terhadap lingkungan dan tingkat depresi. Peran keluarga penting untuk memperoleh informasi tersebut.

C. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik secara menyeluruh dapat dilakukan secara head to toe atau secara spesifik menemukan tanda dan gejala akibat penyakit pada korteks adrenal. Pemeriksaan fisik klien yang dicurigai mengalami gangguan pada korteks adrenal secara spesifik dilakukan berdasarkan gejala-gejala yang sering ditemukan akibat kelebihan (Cussing Syndrome) atau kekurangan (Addison Desease) produksi hormon yang disekresi oleh kelenjar korteks adrenal.
Berikut ini metode pemeriksaan fisik pada klien dengan gangguan pada korteks adrenal :
1. Inspeksi
a. Penyakit Addison
• Pigmentaasi pada kulit
• Buku-kuku jari, lutut, siku, membran mukosa
• Warna kulit; pucat, sianosis
• RR cepat
• Suhu tubuh diatas normal
• Tanda-tanda dehidrasi
• Bibir tampak kering
• Kelemahan umum
• Pasien tampak haus
• Membran mukosa kering
b. Cushing Sindrom
• Kifosis
• Buffalo hump
• Moon face
• Kulit wajah berminyak dan tumbuh jerawat.
• Virilitas pada wanita
• Hirsutisme (tumbuhnya bulu wajah yang berlebihan)

2. Palpasi
a. Penyakit Addison
• Nadi cepat dan lemah
• Nyeri abdomen
• Turgor kulit


b. Cushing Sindrom
• Kulit tipis, rapuh dan mudah luka
• Atropi payudara
• Klitoris yang membesar

3. Perkusi
a. Penyakit Addison
-
b. Cushing Sindrom
-

4. Auskultasi
a. Penyakit Addison
• Tekanan darah rendah
b. Cushing Sindrom
• Suara yang dalam














D. Pemeriksaan Diagnostik Fungsi Kortek Adrenal

No Jenis Tes Tujuan Catatan Keperawatan Interpretasi
1 Cortisol level with dexamethasone suppression test Mengevaluasi fungsi kortek adrenal 1. Berikan deksametasone sebelum plebotomi untuk menekan formasi diurnal dari adrenocorticotropic hormone (ACTH)
2. Berikan 1 mg deksametasone pada jam 11 malam untuk menekan formasi ACTH sampai saat dilakukan plebotomi pada jam 8 siang dan paling lambat jam 8 malam ↑: tumor pituitary,cushing sindrom atau penyakit hyperplasia kortek adrenal (benigna/maligna)

↓: penyakit Addison
2 Cortisol plasma levels Mengevaluasi fungsi kortek adrenal 1. Plasma cortisol levels mempunyai efek diuretic: level meningkat pada malam hari disbanding siang hari
2. Puasa sebelum plebotomi
3. 2 jam sebelum dilakukan tes,pasien dianjurkan untuk tidur (posisi supine) karena aktivitas dapat meningkatkan level cortisol
4. Dapat meningkatkan level estrogens
5. Aldactone (spironolactone) dapat menyebabkan positif palsu
↑: Kehamilan, aktivitas fisik terbaru,kegemukan, Cushing sindrom atau penyakit Cushing

↓: penyakit Addison
3 17-Hydroxysteroids (Porter-Silber reaction) Mengukur metabolisme glukokorticoid dan aldosterone 1. Kumpulan urine slama 24 jam dibekukan
2. Banyak obat dapat mengakibatkan hasil yang invalid ↑: penyakit atau sindrom Cushing, ACTH administration, nonadrenal ACTH- producing tumor
↓: penyakit Addison atau Supresi steroid eksogen
4 Test Cosyntropin Untuk mendiagnosa insufisiensi adrenal dengan stimulasi ACTH Berikan ACTH (IV) 45 menit kemudian observasi level serum kortisol ↑: Normal
↓: disfungsi dari poros hipotalamik-pituitari, insufisienasi adrenal sekunder
5 Computed tomography (CT) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) dari adrenal Identifikasi dan lokasi kelenjar adrenal Tidak ada persiapan khusus kecuali edukasi pada klien Kecil,Kelenjar atropi: Autoimune adrenal insufficiency

Pembesaran kelenjar bilateral : adanya hemoragi, neoplasma
6 Rapid ACTH Stimulation Identifikasi dan lokasi kelenjar adrenal Berikan cosyntropin IV  observasi kortisol plasma dan level aldosteron setelah 30 menit ↓ kortisol dan aldosteron:, insufisienasi adrenal primer
7 17- ketosteroids Mengukur metabolisme steroid dari kortek adrenal dan testis ( tidak termasuk testosterone) 1. Urine 24 jam  disimpan dalam kondisi dingin  mungkin memerlukan bahan pengawet
2. Penggunaan bermaca2 obat dapat mengakibatkan hasil invalid ↑: Tumor pada kortek adrenal atau testis, Cushing sindrom
↓: penurunan fungsi adrenal atau dapat terjadi pada pasien yang telah diangkat testis atau ovariumnya.
8 Aldosterone Mengukur produksi mineralcorticoid 1. Klien berbaring 2 jam sebelum plebotomi
2. Peningkatan aldosterone dapat meningkatkan cairan ekstraseluler
3. Kontrasepsi oral,pembatasan sodium dan potassium dapat meningkatkan level ↑: Hiperaldosteron primer atau sekunder, disfungsi hati yang berat
↓: Penyakit Addison.
9 Urinary cortisol level Mengukur kortisol - ↑: hiperfungsi adrenal, cushing sindrom
↓: hipofungsi adrenal ringan.
10 Renin level Mengukur rennin (enzim yang diproduksi oleh apparatus juxtaglomerulus untuk merespon adanya penurunan aliran darah ke ginjal) 1. Klien dalam posisi tidur (supinasi)
2. Hasil akan lebih tinggi dimalam hari
3. Catat kandungan natrium dalam diet (makanan) pada slip laboratorium
4. pengobatan dibawah ini dapat mengganggu hasil: diuretik,estrogens,kontrasepsi oral dan antihipertensi ↑: hipertensi,posisi tegak lurus saat plebotomi
↓: diet tinggi natrium.
11 Plasma ACTH atau Serum corticotropin Mengetes fungsi pituitari anterior sebagai penyebab dari penyakit Addison ataupun Sindrom Cushing 1. sampel diambil saat puasa
2. Stres dapat meningkatkan hasil ↑: Cushing sindrom yang disebabkan karena hiperplasi adrenal bilateral atau ectopic ACTH-producing tumors,Penyakit Addison yang disebabkan karena kegagalan kelenjar adrenal,penekanan adrenal karena penggunaan steroid dalam jangka panjang
↓: Insufisiensi adrenal sekunder yang disebabkan karena hipopituitari.
12 Captopril test Mengetahui keluaran akibatb adanya stenosis arteri 1. Inti dari pengobatan captopril scan renal dilakukan untuk mengevalusi GFR
2. Captopril dibberikan PO
3. GFR di reevaluasi setelah pemberian captopril ↓GFR: renal arteri stenosis tidak ada perubahan

↑GFR meningkat setelah captopril: negative renal stenosis
13 Corticotropin-releasing hormone (CRH) stimulation Mengukur CRH dari hypothalamus menuju pituitary untuk kepentingan stimulasi pelepasan ACTH dan kortisol 1. Berikan CRH IV
2. Ukur plasma ACTH dan cortisol basal setelah 15,30 dan 60 menit ↑ACTH dan cortisol indikasi insuffisiensi adrenal primer
↓ACTH dan kortisol indikasi adanya disfungsi dari hipotalami dan pituitari, insufisiensi adrenal sekunder
14 Vanillymandelic acid Mengukur sekresi urin dari metabolisme cathecholamine dan hal ini akan membantu dalam mendiagnosa pheochromocytoma 1. Simpan urin 24 jam dalam Ph kurang dari 3 dengan asam hidroclorid sebagai pengawet.simpan dalam lemari es.
2. Anjurkan pasien untuk tidak mengkonsumsi obat 3 hari sebelumnya Nilai normal: <6.8 mg/24jam
Pheochromocytoma diindikasikan apabila bernilai 10-250 mg/24 jam



DAFTAR PUSTAKA

Donna and Marilyn (2003). Medical Surgical Nursing a Nursing Process Approach. WB. Saunders .

Joyce and Jane (2005). Medical Surgical Nursing Clinical Management for Positive Outcoms. 7th edition. Elsevier Saunders. Missouri

Lewis, et.all (2007). Medical Surgical Nursing Assessment and Management of Clinical Problems. 7th edition. Mosby Elsevier. Philadepia.

Montague, S.E., Watson, R (1996). Physiology for Nursing Practice, 2th edition, Bailliere Tindall, London, 170-75

Smeltzer and Hinkle (2008). Brunner & Suddarth’s. Textbook of Medical Surgical Nursin. 11th edition. Lippincott: Philadelpia.

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH