iklan

loading...

Sunday, May 15, 2011

Otitis Ekstena

asuhan keperawatan pada pasien otitis eksterna

1.1.1 Pengertian
Otitis eksterna adalah radang telinga akut maupun kronik yang disebabkan oleh bakteri yang sering timbul bersama penyebab lain seperti jamur, alergi, dan virus

1.1.2 Etiologi
Faktor penyebab dari otitis eksterna adalah streptococus aereus dan staphilococcus albus. Adapun faktor predisposisi terjadinya penyakit yaitu:
Udara yanhg hangat dan lembab
PH liang telinga
Trauma ringan
Berenang

1.1.3 Fisiologi
Gelombang suara yang datang melewati saluran telinga membentur membran telinga sehingga timbul getaran. Malleus yang melekat pada permukaan dalam membran tymphani menerima getaran dan meneruskan melalui incus kestapes. Dimana stapes oleh ligamentum anulare bergerak seperti piston setelah menerima getaran yang datang. Organ korti merubah getaran dari impuls syaraf. Dan melalui syaraf pendengaran, impuls ini sampai keotak dan cerebelum pada pusat pendengaran yang menginterpestasikan suara apa ini.





1.1.4 Pathofisiologi

Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran telinga dengan cotton bud (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini dan bisa mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana.3
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembut pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur. 3

1.1.5 Klasifikasi
Otitis eksterna dibedakan atas 2 yaitu:
1) Otitis eksterna sirkum skripta
Adalah radang telinga yang disebabkan oleh streptococcus aereus dan staphilococcus albus.
2) Otitis eksterna difus
Adalah terjadinya sekunder pada OMSK dan OMA

1.1.6 Manifestasi Klinis
1 Rasa nyeri yang hebat.
2 Pendengaran menurun.
3 Liang telinga tampak bengkaka.
4 Terdapat sekret/nanah dan berbau
5 Demam.

1.1.7 Penatalaksanaan
1. Terapi antibiotik dalam bentuk salep seperti neomisin, polimiksin B atau basitrasin.
2. Pembersihan liang telinga dengan penghisap yang biasanya asam menjadi basa.
3. Penilaian terhadap sekret, edema dinding kanalis dan membran tymphani.
4. Diaspirasi secara steril bila menjadi abces.
5. Pemberian antiseptik (asam asetat 2-5% dalam alkohol 2%)
6. Pemilihan obat lokal


1.2 Tinjauan Asuhan Keperawatan
1.2.1 Pengkajian
1 Anamnesa
- Kaji riwayat dari gejala- gejala (misal: gatal, nyeri, bengkak), awitan ? dicetuskan oleh?
- Tanyakan adanya nyeri telinga
- Tanyakan adanya cairan yang mengalir dari telinga
warna, jumlah, konssistensi
kekentalan cairan
- Tanyakan faktor-faktor yang mempeberat
Riwayat kopoken
Riwayat sering mengorek kuping dengan japit
Sering menyiram telinga dengan air
- Kaji faktor-faktor yang berhubungan
Adanya faktor penyebab (misal kurangnya perawatan dan seringnya mengorek telinga dengan japit dan adanya riwayat kopoken)
Faktor-faktor lingkungan (misal: lingkungan yang bising dan ramai)

2 Pemeriksaan Fisik
- Status kesehatan umum :
Keadaan umum, kesadaran dan perawatan diri
- Pemeriksaan fisik data fokus telinga dan hidung:
Nyeri bila disentuh dan dilakukan irigasi telinga tidak tembus dihidung
- Iritasi
- Pemeriksaan adanya urunkel/kotoran
- Memeriksa keluarnya cairan dan telinga

1.2.2 Rencana Asuhan Keperawatan
1) Nyaman nyeri berhubungan dengan adanya pembengkakan padaliang telinga yang ditandai dengan pasien mengatakan nyeri pada telinga, pasien tampak kesakitan saat disentuh, cemas dan adanya pembenkakan pada telinga.
Tujuan : Selama perawatan dirumah, pasien menunujukkan perbaikan nyeri.
Kriteria hasil : - Nyeri hilang terkontrol
- Pasien menunjukkan rileks
Intervensi :
1. Kaji tingkat nyeri .
R : mengetahui tingkat nyeri dan unutuk menentukan tindakan selanjutnya
2.Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya
R : dengan mengetahui sebab dan akibat diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri
3. Berikan tindakan irigasi untuk menghilangkan kotoran yang menumpuk
R : kotoron yang manumpuk dan melekat merupakan faktor terjadi nyeri
4. Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat antupiretik
R : dengan cepet dapat menghilangkan / mengurangi nyeri


2) Perubahan kenyamana berhubungan peningkatan suhu tubuh sekunder infeksi telinga ( otitis externa )yang ditandai dengan pasien mengatakan badan meriang dan panas, suhu > 37,50C, hangat waktu disentuh dan terjadi takikardi.
Tujuan : Suhu tubuh pasien dapat kembali normal 370C

Kriteria hasil :
- pasien tidak merasa meriang
- Suhu tubuh kembali normal S: 370C
- Tidak terjadi komplikasi
Intervensi :
1. Patau suhu pasien
R : suhu 38,90 C- 410 C menunjukan adanya penyebaran infeksi
2. Berikan perawatan di rumah dengan kompes dingin / hangat
R : membantu mengurangi demam
3. Ajurkan memakai selimut penghangat / pendingin di rumah
R : pertahankan suhu tubuh yang tetap dalam lingkungan
4. Anjurkan menghindari fator penyabab
R : faktor penyabab dapat mengakibatkanberkembanganya infeksius
5. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik
R: mengurangi demam dengan aksi sentralnya hanya pada hipotalamus

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH