iklan

loading...

Thursday, May 19, 2011

ASKEP KONJUNGTIVITIS

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Struktur dan Fungsi Mata

Mata memiliki struktur sebagai berikut:

Sklera (bagian putih mata)

Merupakan lapisan luar mata yang berwarna putih dan relatif kuat.
Konjungtiva

Selaput tipis yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian luar sklera.
Kornea

Struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus dari iris, pupil dan bilik anterior serta membantu memfokuskan cahaya.
Pupil

Daerah hitam di tengah-tengah iris.
Iris

Jaringan berwarna yang berbentuk cincin, menggantung di belakang kornea dan di depan lensa; berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dengan cara merubah ukuran pupil.
Lensa

Struktur cembung ganda yang tergantung diantara humor aqueus dan vitreus; berfungsi membantu memfokuskan cahaya ke retina.
Retina

Lapisan jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang bola mata; berfungsi mengirimkan pesan visuil melalui saraf optikus ke otak.
Saraf optikus

Kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visuil dari retina ke otak.






Humor aqueus

Cairan jernih dan encer yang mengalir diantara lensa dan kornea (mengisi segmen anterior mata), serta merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea; dihasilkan oleh prosesus siliaris.
Humor vitreus

Gel transparan yang terdapat di belakang lensa dan di depan retina (mengisi segmen posterior mata).

Mata dapat terkena berbagai kondisi. beberapa diantaranya bersifat primer sedang yang lain, sekunder akibat kelainan pada sistem organ tubuh lain. Kebanyakan kondisi tersebut dapat dicegah bila terdeteksi awal, dapat dikontrol dan penglihatan dapat dipertahankan (Brunner dan Suddarth, 2001)

Infeksi adalah invasi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh, terutama yan menyebabkan cedera selular lokal akibat kompetisi metabolisme, toksin, replikasi intraselular/respon antigen antibodi (dr. Difa Danis, kamus istilah kedokteran , 2002).

Inflamasi dan infeksi dapat terjadi pada beberapa struktur mata dan terhitung lebih dari setengah kelainan mata. Kelainan-kelainan yang umum terjadi pada mata oarng dewasa meliputi sebagai berikut :

Radang/inflamasi pada kelopak mata, konjungtiva, kornea, koroid badan ciriary dan iris
Katarak, kekeruhan lensa
Glaukoma, peningkatan tekanan dalam bola mata (IOP)
Retina robek/lepas

Tetapi sebagian orang mengira penyakit radang mata/mata merah hanya penyakit biasa cukup diberi tetes mata biasa sudah cukup. Padahal bila penyakit radang mata tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi seperti Glaukoma, katarak maupun ablasi retina.







TUJUAN
Tujuan Umum

Untuk menambah wawasan pembaca tentang penyakit infeksi/peradangan pada mata yang terdiri dari konjungstivitis, keratitis, dan uveitis.
Tujuan Khusus
Mengetahui definisi konjungtivitis, keratitis, dan uveitis
Mengatur tentang infeksi mata
Mengerti tentang tanda dan gejala infeksi mata
Mengetahui macam – macam infeksi mata
Mengetahui komplikasi infeksi mata
Mengetahui cara pencegahan dan penatalaksanaan infeksi mata


























































BAB II

TINJAUAN TEORI

KONSEP MEDIK
Konjungtivitis
Defenisi

Konjungtivitis (mata merah) adalah inflamasi pada konjungtiva oleh virus, bakteri, clamydia, alergi, trauma (sengatan matahari) (Barbara C Long, 1996).

Konjungtivitas adalah inflamasi peradangan konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat, mata tampak merah sehingga sering disebut penyakit mata merah (Brunner dan suddarth, 2001).
Etiologi
Bisa bersifat infeksius (bakteri, klamidia, virus, jamur, parasit)
Imunologis (alergi)
Iritatif ( bahan kimia, suhu listrik, radiasi, misalnya akibat sinar ultraviolet )
Manifestasi Klinik

Tanda dan gejala konjungtivitis bisa meliputi
Hiperemia (kemerahan)
Cairan
Edema
Pengeluaran air mata
Gatal pada kornea
Rasa terbakar/rasa tercakar
Seperti terasa ada benda asing
Penatalaksanaan / Pengobatan

Penatalaksanaan, konjungtivitis biasanya hilang sendiri. Tapi, bergantung pada penyebabnya, terapi dapat meliputi antibiotik sistemik atau topikal, bahan antiinflamasi, irigasi mata, pembersih kelopak mata, atau kompres hangat.

Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, untuk mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah. Asuhan khusus harus dilakukan oleh personal asuhan kesehatan untuk mengindari penyebaran konjungtivitis antar pasien.
Komplikasi
Komplikasi pada konjungstivitis kataral teronik merupakan segala penyulit dari blefaritis seperti ekstropin, trikiasis
Komplikasi pada konjungstivitis purulenta adalah seringnya berupa ulkus kornea
Komplikasi pada konjungstivitis membranasea dan pseudomembranasea adalah bila sembuh akan meninggalkan jaringan parut yang tebal di kornea dapat mengganggu penglihatan orang menjadi buta
Komplikasi konjungstivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat mengganggu pengelihatan
Keratitis
Defenisi

Keratitis adalah inflamasi pada kornea oleh bakteri, virus, hespes simplek, alergi, kekurangan vit. A (Barbara C Lonf 1996)

Keratitis adalah peradangan pada kornea, keratitis disebabkan oleh mikrobial dan pemajanan.

Keratitis Mikrobial adalah infeksi pada kornea yang disebabkan oleh berbagai organisme bakteri, virus, jamur/parasit. serta abrasi yang sangat bisa menjadi pintu masuk bakteri.
Keratitis Pemajanan adalah infeksi pada kornea yang terjadi akibat kornea tidak dilembabkan secara memadai dan dilindungi oleh kelopak mata. Kekeringan mata dapat terjadi dan kemudian diikuti ulserasi dan infeksi sekunder (Brunner dan Suddarth, 2001)

Etiologi

Penyebab dari keratitis yaitu ;
Organisme bakteri
Virus
Jamur atau parasit (Brunner dan Suddarth, 2001)
Manifestasi Klinik

Manifestasi klinis dari keratitis meliputi :
Inflamasi bola mata yang jelas
Terasa benda asing di mata
Cairan mokopurulen dengan kelopak mata saling melekat saat bangun
Ulserasi epitel
Hipopion (terkumpulnya nanah dalam kamera anterior)
Dapat terjadi perforasi kornea
Ekstrusi iris dan endoftalmitis
Fotofobia
Mata berair
Kehilangan penglihatan bila tidak terkontrol (Brunner dan Suddarth, 2001)
Penatalaksanaan / Pengobatan

Keratitis Mikrobial

Pasien dengan infeksi kornea berat dirawat untuk pemberian berseri (kadang sampai tiap 30 menit sekali) tetes anti mikroba dan
Pemeriksaan berkala oleh ahli optalmologi
Cuci tangan secara seksama
Harus memakai sarung tangan setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata
Kelopak mata harus dijaga kebersihannya dan perlu diberi kompres dingin
Diperlukan aseaminofen untuk mengontrol nyeri. Dan diresepkan sikloplegik dan midriatik untuk mengurangi nyeri dan inflamasi

Keraktitis Pemajanan

Memplester kelopak mata atau membalut dengan ringan mata yang telah diberi pelumas. Pada yang mengalami penurunan perlindungan sensori terhadap kornea
Dapat dipasang lensa kontak lunak tipe-balutan. Lensa kontak lunak tipe-balutan dipasang sesuai ukuran. Hal ini untuk mempertahankan permukaan kornea, mempercepat penyembuhan efek epitel dan memberikan rasa nyaman.
Perisai kolagen bisa dipergunakan untuk perlindungan kornea jangka pendek (Brunne dan Suddarth, 2001)

Komplikasi

Komplikasi keratitis, yaitu ;
Hipopion
Perforasi kornea

Uveitis
Defenisi

Uveitis adalah peradangan pada uvea yang terdiri dari 3 struktur yaitu iris, badan siliar, karoid.

Uveitis adalah inflamasi salah satu struktur traktus uvea (iris, badan siliar dan karoid). karena uvea mengandung banyak pembuluh darah yang memberikan nutrisi pada mata maka jika terjadi peradangan pada lapisan ini dapat mengakibatkan gangguan penglihatan (Brunner dan Suddarth, 2001)



Etiologi
Alergen
Bakteri
Jamur
Virus
Bahan kimia
Trauma
Penyakit sistemik seperti sarkoidosis, kolitis, ulserativa, spondilitis, ankilosis, sindroma reiter, pars planitis, toksoplasmosis, infeksi sitomegalovirus, nekrosis retina akut, toksokariasis, histoplamosis, tuberkulosis, sifilis, sindroma behcel, oflamia simpatetik, sindroma vogt-hoyanagi-harada, sarkoma/limfoma
Manifestasi Klinik

Manifestasi klinis dari uveitis meliputi :

Anterior :

nyeri mata
fotofobia
lakrimasi penglihatan kabur
pupil kecil

Posterior :

Penurunan penglihatan
Tidak nyaman yang ringan pada mata
Gejala awal pada uveitis mungkin tidak terlalu berat. Penglihatan menjadi kabur/penderita melihat bintik–bintik hitam yang nelayang–layang. pada iritis biasanya timbul nyeri hebat, kemerahan pada sklera (bagian putih mata) dan fotofobia

Penatalaksanaan / Pengobatan

Penatalaksanaan pada uveitis, yaitu ;
Pada uveitis anterior kronis (iritis), obat mata dilatar harus diberikan segera untuk mencegah pembentukan jaringan parut dan adesi ke lensa. Kortikosteroid lakal dipergunakan untuk mengurangi peradangan dan kaca mata hitam
Pada uveitis intermediat (pars planis, siklitis kronis), diberikan steroid topikal atau injeksi untuk kasus yang berat
Pada uveitis posterior (peradangan yang mengenai khoroid/retina) biasanya berhubungan dengan berbagai macam penyakit sistemik seperti AIDS. Kortikosteroid sistemik diindikasikan untuk mengurangi peradangan bersama dengan terapi terhadap keadaan sistemik yang mendasarinya. (Brunner dan Suddarth, 2001)
Komplikasi

Komplikasi uveitis, meliputi ;
Katarak
Retinitis proliferans
Ablasi retina
Glaukoma sekunder, yang dapat terjadi pada stadium dini dan juga pada stadium lanjut (dr. Nana Wijana, 1993)

PATOFISIOLOGI

Sebagian besar inflamasi mata disebabkan oleh mikroorganisme, irigasi mekanis, atau sensitivitas terhadap suatu zat. untungnya inflamasi tersebut tidak meninggalkan bekas yang permanen. inflamasi kornea yang berat atau ulkus kornea dapat menyebabkan kerusakan kornea yang menyebabkan gangguan penglihatan. Komplikasi dari uveitis dapat menimbulkan perekatan, glaukoma sekunder dan hilang penglihatan.

Sebagian besar inflamasi mata adalah tembel dan konjungstivitis. Tembel adalah infeksi folikel bulu mata atau kelenjar pinggir kelopak mata yang relatif ringan. Organisme orang yang sering menginfeksi adalah stafilokokus. Infeksi ini cenderung berkumpul karena organisma infeksi menyebar dari folikel rambut yang satu ke yang lainnya. Kebersihan yang kurang dan gangguan kosmetik yang berlebihan dapat merugikan faktor pendukung. Orang–orang seharusnya diajarkan untuk tidak memencet tembel karena infeksi dapat menyebar dan menyebabkan selulitis pada kelopak mata.

Konjungtivitis merupakan bagian besar dari penyakit mata dan ada yang akut dan ada yang kronik. Konjungtivitis bakteri akut biasanya ditularkan oleh kontak langsung. Orang yang menyentuh matanya dengan jari akan mengkontaminasi benda–benda seperti : handuk atau lap. Organisme penyebabnya biasanya stafilokokus dan adenovirus.

Konjungstivitis sederhana biasanya tidak lama. Infeksi oleh Chlamydia trachomatis menyebabkan trachoma, suatu bentuk konjungstivitis yang jarang di Amerika Serikat. tetapi bisa menyebabkan kebutaan terutama bagi orang-orang yang hidup didaerah kering dan pendapatannya rendah, negara-negara di mediterranean yang panas dan timur jauh.

Trachoma timbul mengikuti konjungstivitis akut, kelopak mata menjadi berparut dan terbentuk granulasi-granulasi di permukaan dalam kelopak dan menyebar ke kornea yang pada akhirnya menimbulkan hilangnya penglihatan. Pemeliharaan kebersihan penting untuk mencegah dan mengatasi trachoma. Kornea yang parut memerlukan transplantasi kornea mata. Konjungstivitis alergi biasanya disertai demam, kronis dan berulang-ulang. (Barbara C .Long, 1996)

Konjungtiva berhubungan dengan dunia luar kemungkinan konjungtiva terinfeksi dengan mikro organisme sangat besar. Pertahanan konjungtiva terutama oleh karena adanya tear film, pada permukaan konjungtiva yang berfungsi melarutkan kotoran dan bahan-bahan yang toksik kemudian mengalirkan melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi inferior. Tear film mengandung beta lysine, lysozyne, Ig A, Ig G yang berfungsi menghambat pertumbuhan kuman. Apabila ada kuman pathogen yang dapat menembus pertahanan tersebut sehingga terjadi infeksi konjungtiva yang disebut konjungtivitis.
KONSEP KEPERAWATAN
Pengkajian

Pengkajian ketajaman mata
Pengkajian rasa nyeri
Kesimetrisan kelopak mata
Reaksi mata terhadap cahaya/gerakan mata
Warna mata
Kemampuan membuka dan menutup mata
Pengkajian lapang pandang
Menginspeksi struktur luar mata dan inspeksi kelenjar untuk mengetahui adanya pembengkakan 4 inflamasi ( Brunner dan Suddarth, 2001)

Analisa Data

Data fokus

Gatal-gatal
Nyeri (ringan sampai berat)
Lakrimasi (mata selalu berair)
Fotofobia (sensitif terhadap cahaya) atau blepharospasme (kejang kelopak mata)

Diagnosa Keperawatan
Nyeri pada mata berhubungan dengan edema mata, sekresi, fotofobia, peningkatan TIO atau inflamasi
Gangguan penglihatan berhubungan dengan kerusakan kornea
Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tidak sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan, peradangan
Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya
Gangguan konsep diri (body image menurun) berhubungan dengan adanya perubahan pada kelopak mata (bengkak / edema).
Resiko tinggi cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan
Fokus Intervensi
Dx Keperawatan ; Nyeri pada mata berhubungan dengan edema mata, fotofobia dan inflamasi

Tujuan yang diharapkan ;

Keadaan nyeri pasien berkurang

Intervensi

Beri kompres basah hangat

Rasionalisasi : Mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan, dan membersihkan mata
Kompres basah dengan NaCL dingin

Rasionalisasi : mencegah dan mengurangi edema dan gatal-gatal yang berat
Beri irigasi

Rasionalisasi : untuk mengeluarkan sekret, benda asing/kotoran dan zat-zat kimia dari mata (Barbara C .Long, 1996)
Dorong penggunaaan kaca mata hitam pada cahaya kuat

Rasionalisasi : cahaya yang kuat meyebabkan rasa tak nyaman
Beri obat untuk megontrol nyeri sesuai resep

Rasionalisasi : pemakaian obat sesuai resep akan mengurangi nyeri
(Brunner dan Suddarth, 1996)

Dx Keperawatan ; Gangguan penglihatan berhubungan dengan kerusakan kornea

Tujuan yang diharapkan

Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu.

Intervensi

Tentukan ketajaman, catat apakah satu atau kedua mata terlibat

Rasionalisasi : kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif, bila bilateral, tiap mata dapat berlanjut pada laju yang berbeda tetapi, biasanya hanya satu mata diperbaiki per prosedur.
Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain diareanya

Rasionalisasi : Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan menurunkan cemas dan disorientasi pascaoperatif (Marilynn E. Doenges, 2000)

Dx Keperawatan ; Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tak sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan

Tujuan yang diharapkan

Infeksi tidak menyebar ke mata sebelahnya ( Barbara C .Long, 1996)

Intervensi

Monitor pemberian antibiotik dan kaji efek sampingnya

Rasionalisasi : mencegah komplikasi
Lakukan tehnik steril

Rasionalisasi : mencegah infeksi silang
Lakukan penkes tentang pencegahan dan penularan penyakit

Rasionalisasi : memberikan pengetahuan dasar bagaimana cara memproteksi diri (Tarwoto dan Warunnah, 2003)

Dx Keperawatan ; Gangguan citra tubuh berhubungan dengan hilangnya penglihatan

Tujuan yang diharapkan

Menyatakan dan menunjukkan penerimaan atas penampilan tentang penilaian diri

Intervensi

Berikan pemahaman tentang kehilangan untuk individu dan orang dekat, sehubungan dengan terlihatnya kehilangan, kehilangan fungsi, dan emosi yang terpendam

Rasionalisasi : Dengan kehilangan bagian atau fungsi tubuh bisa menyebabkan individu melakukan penolakan, syok, marah, dan tertekan
Dorong individu tersebut dalam merespon terhadap kekurangannya itu tidak dengan penolakan, syok, marah,dan tertekan

Rasionalisasi : Supaya pasien dapat menerima kekurangannya dengan lebih ikhlas
Sadari pengaruh reaksi-reaksi dari orang lain atas kekurangannya itu dan dorong membagi perasaan dengan orang lain.

Rasionalisasi : Bila reaksi keluarga bagus dapat meningkatkan rasa percaya diri individu dan dapat membagi perasaan kepada orang lain.
Ajarkan individu memantau kemajuannya sendiri

Rasionalisasi : Mengetahui seberapa jauh kemampuan individu

dengan kekurangan yang dimiliki (Lynda Jual Carpenito,




DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidarta. 2002. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta ; CV. Sagung Seto

Ilyas, Sidarta. 2003. Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta ; Balai Penerbit FKUI

Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta ; Penerbit Media Aesculapius

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH