BARANGKALI ANDA MEMBUTUHKAN :

JIKA MERASA KURANG LENGKAP SILAHKAN CARI

Jumat, 06 Mei 2011

APLIKASI TEORI KEPERAWATAN “PHILOSOPHY AND SCIENCE OF CARING” DARI JEAN WATSON DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ilmu dan praktik keperawatan adalah dua hal yang sangat perlu dikembangkan oleh perawat untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang professional. Perawat yang berada pada tingkat praktisi, peneliti atau pendidik atau pada posisi lain diharapkan untuk dapat mengembangkan usaha penerapan teori keperawatan yang sudah ada dalam ke dalam praktik keperawatan yang baik dan benar. Teori keperawatan yang telah ada sebenarnya dapat membantu mengarahkan praktik keperawatan menuju asuhan keperawatan yang lebih baik. Namun saat ini masih kurang usaha penerapan teori keperawatan tersebut. Akibatnya praktik keperawatan saat ini hanya lebih mengarah pada praktik yang berdasarkan order dari medis atau praktik yang berdasarkan rutinitas semata.
Berbagai teori telah banyak dihasilkan oleh pakar keperawatan dan telah banyak dipublikasikan dalam bentuk buku-buku. Usaha yang perlu dilakukan perawat dalam berbagai posisi saat ini adalah mempelajari lebih mendalam dan memahami teori yang menurut mereka lebih mudah atau dapat diterapkan dalam praktik keperawatan. untuk membantu memberikan gamabaran dalam usaha pengembangan teori ke dalam praktik keperawatan, pada makalah ini penulis akan berusaha memaparkan salah satu teori keperawatan, yaitu teori dari Jean Watson tentang “Philosophy and Science of Caring” dan penerapan teori tersebut dalam kasus di rumah sakit.

B. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk :
1. Memberikan gambaran tentang teori Philosophy and Science of Caring dari Jean Watson.
2. Memberikan contoh penerapan teori Philosophy and Science of Caring dari Jean Watson dalam praktik keperawatan di rumah sakit.
3. Mendorong perawat untuk mengembangkan penerapan teori keperawatan dalam praktik keperawatan.
















BAB II
ISI

A. TEORI JEAN WATSON
Margaret Jean Harman Watson dilahirkan di Southern West Virginia. Setelah menamatkan pendidikan menengah atas di West Virginia, Watson melanjutkan pendidikan ke Lewiss – Galle School of Nursing di Roanoke, Virginia. Selanjutnya Watson melanjutkan pendidikan B.S. di Universitas Colorado dan mengambil S2 di bidang keperawatan psikiatrik mental di tempat yang sama. Selanjutnya Watson menamatkan pendidikan S3 di bidang Psikologi pendidikan di universitas yang sama. Watson telah melakukan praktik keperawatan pribadi, konsultan klinik, peneliti, anggota fakultas dan administrator pendidikan. Watson juga sebagai penulis berbagai artikel dan buku. Riset yang dilakukannya berada dalam area Human caring and loss.
Publikasi-publikasi yang telah dihasilkan oleh Watson merefleksikan evolusi dari teorinya tentang caring. Tulisan-tulisannya diarahkan menuju mendidik siswa keperawatan dan memberi mereka dasar ontologi dan epistomologi untuk praksis mereka dan petunjuk penelitian. Dasar teori Watson dipublikasikan awalnya pada tahun 1979 dengan judul Nursing : The Philosophy and Science of Caring. Pada publikasinya yang kedua, tahun 1985 yang dirilis ulang tahun 1988, Watson menerangkan tentang Nursing: Human Science and Human Care. Pertentangan dalam keperawatan antara teori dan praktik sudah lama dikenal. Untuk mengurangi dikotomi ini. Watson mengusulkan Philosophy and Science of Caring. Watson mengarahkan caring sebagai inti dalam praktik keperawatan.

Menurut Watson, caring adalah moral ideal yang lebih dari perilaku yang berorientasi tugas dan meliputi aspek – aspek diluar tindakan caring yang aktual sebagai hubungan transpersonal antara perawat dan klien. Tujuannya adalah untuk melestarikan kemuliaan manusia dan kemanusiaan dalam sistem pelayanan kesehata n. Watson percaya keperawatan professional dikembangkan melalui kombinasi kajian ilmu dan kemanusiaan yang dan memuncak pada proses human care antara perawat dan klien yang yang mengutamakan waktu dan ruang serta memiliki dimensi spiritual. Berdasarkan pandangan Watson, tujuan keperawatan adalah untuk memfasilitasi tujuan individu yaitu derajat yang lebih tinggi dari harmoni dalam pikiran, tubuh dan jiiwa yang menciptakan pengetahuan pribadi, arahan sendiri, penyembuhan sendiri dan proses perawatan diri ketika keragaman meningkat.
Watson menjembatani perbedaan antara teori dan praktik melalui pengembangan Center for Human Caring dan program ND di universitas Colorado. Kedua hal ini memberi kesempatan untuk mengintegrasikan seni, kemanusiaan, dan sosial serta ilmu perilaku ke dalam human care dan proses penyembuhan. Watson mengakui hasil kerja Leininger dan Gadow sebagai latar belakang dalam bekerja. Dalam kerja selanjutnya, Watson menggunakan hasil kerja Maslow, Heidegger, Erickson, Seyle dan Lazarus. Dalam mengembangkan kerangka kerjanya, Watson menggambarkan dengan tajam ilmu pengerahuan dan kemanusiaan, menyediakan orientasi fenomenologi, eksistensial dan spiritual (Tomey&Alligood, 1998).
Watson menambahkan penekanannya pada kualitas interpersonal dan transpersonal yang kongruen, empati dan kehangatan pada pandangan Carl Rogers dan penulis psikologi transpersonal lain. Rogers percaya bahwa dengan memahami klien akan dapat menerima dirinya dan menuju hasil yang positif. Therapist dapat membantu melalui mengklarifikasi dan menyatakan perasaan tentang apa yang menurut klien kurang jelas. Untuk mencapai tujuan ini, therapist harus dapat memahami maksud, perasaan dan sikap klien. Perhatian yang hangat dapat memfasilitasi pemahaman. Konsep lain dari teori Rogers adalah bahwa hubungan terapeutik antara klien dan perawat lebih penting dalam mencapai tujuan daripada menyatukan metode tradisional.
Watson percaya latar belakang seni liberal yang kuat juga penting untuk proses asuhan yang holistik bagi klien. Watson percaya kajian tentang kemanusiaan dapat mengembangkan pikiran dan meningkatkan kemampuan berpikir dan pertumbuhan personal (Tomey&Alligood, 1998). Watson membandingkan status keperawatan saat itu dengan mitos Danaides, yang mengisi panci yang rusak dengan air hanya untuk melihat aliran air di tempat yang rusak. Sampai keperawatan menghubungkan teori dan praktik melalui kombinasi kajian ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, dia percaya kerusakan yang sama dapat diterangkan dalam dasar ilmiah dari ilmu keperawatan. Sebelas faktor kuratif dari Yalom menstimulasi Watson untuk berpikir tentang psikodinamik dan komponen manusia yang dapat diterapkan dalam keperawatan dan caring, dan hasilnya sepuluh karatif faktor. Hasil kerja Watson dinamakan uraian, model konseptual, kerangka kerja dan teori. Pada bab ini penggunaan istilah teori dan kerangka kerja dapat saling menggantikan.
Watson mendasarkan teorinya untuk praktik keperawatan dalam sepuluh faktor karatif. Masing – masing memilki komponen dinamika fenomena dinamik yang relatif terhadap individu dalam hubungan yang didorong oleh keperawatan. Tiga faktor interdependen pertama menyediakan dasar filosofi untuk ilmu caring. Sepuluh faktor karatif itu adalah :
1. Pembentukan nilai – nilai sistem humanistik – altruistik. Nilai – nilai humanistik – altruistik dipelajari sejak awal dalam hidup tapi dapat dipengaruhi oleh perawat pendidik. Faktor ini dapat dijelaskan sebagai kepuasan melalui pemberian dan perluasan rasa diri. Sistem nilai ini dimediasi oleh pengalaman hidup, belajar, dan terpapar dengan kemanusiaan. Watson menduga bahwa caring didasarkan pada nilai humanistik dan perilaku altruistik yang dapat dikembangkan melalui latihan melihat pandangan diri seseorang, keyakinan, interaksi dengan berbagai budaya, dan pengalaman tumbuh seseorang. Semuanya penting untuk kedewasaan perawat sendiri, yang akan meningkatkan perilaku altruistik kepada yang lain.
2. Pemantapan harapan kepercayaan. Faktor ini bersama nilai humanistik – altruistik memfasilitasi peningkatan asuhan keperawatan yang holistik dan kesehatan positif dalam populasi klien. Ini juga menjelaskan tentang peran perawat dalam pengembangan hubungan perawat – klien yang efektif dan dalam peningkatan kesejahteraan dengan membantu klien mengadopsi perilaku mencari kesehatan.
3. Penanaman sensitifitas terhadap diri sesorang dan terhadap orang lain. Pengakuan terhadap perasaan mengarahkan ke aktualisasi diri melalui penerimaan diri untuk klien dan perawat. Jika perawat mengakui sensitifitas dan perasaannya, mereka menjadi lebih sejati, autentik dan sensitif terhadap orang lain.
4. Pengembangan hubungan percaya-membantu. Perkembangan hubungan percaya - membantu antara perawat dan klien penting untuk caring transpersonal. Hubungan saling percaya dapat meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif. Ini melibatkan kongruen, empati, kehangatan yang tidak posesif, dan komunikasi efektif. Kongruen melibatkan kenyataan, jujur, sejati dan autentik. Empati adalah kemampuan menunjukkan dan sehingga memahami persepsi dan perasaan orang lain dan mengkomunikasikan semua pemahamannya. Kehangatan yang tidak posesif ditunjukkan dengan volume bicara yang sedang, rileks, mimik terbuka, ekspresi wajah yang kongruen dengan komunikasi. Komunikasi efektif adalah komponen kognitif, afektif, dan respon perilaku.
5. Peningkatan dan penerimaan ekspresi perasaan positif dan negatif. Berbagi perasaan adalah pengalaman mengambil risiko untuk klien dan perawat. Perawat harus mempersiapkan diri untuk perasaan positif dan negatif. Perawat harus mengakui bahwa pemahaman intelektual dan emosional terhadap situasi berbeda – beda.
6. Penggunaan secara sistematik metode penyelesaian masalah ilmiah dalam pengambilan keputusan. Penggunaan proses keperawatan membawa penyelesaian masalah secara ilmiah ke dalam asuhan keperawatan, menghapus kesan tradisional bahwa perawat sebagai pembantu dokter. Proses keperawatan sama untuk proses riset yang sistematik dan terorganisir. Tanpa menggunakan metode penyelesaian masalah secara sistematik, praktik yang efektif adalah kecelakaan jika baik dan bahaya jika buruk. Metode penyelesaian masalah yang ilmiah hanya satu-satunya cara yang mengijinkan untuk mengontrol dan memprediksi serta melakukan koreksi diri sendiri.
7. Peningkatan belajar – mengajar interpersonal. Faktor ini adalah konsep penting untuk keperawatan yang memisahkan caring dan curing. Hal ini mengijinkan klien diinformasikan dan memindahkan tanggung jawab untuk kesejahteraan seseorang dan kesehatan klien. Perawat memfasilitasi proses ini dengan teknik belajar – mengajar yang didesain untuk membantu klien memberi perawatan diri sendiri, menentukan kebutuhan personal, dan memberi kesempatan untuk pertumbuhan personal mereka.
8. Menyediakan dukungan, perlindungan, dan atau korektif mental, fisik, sosiokultural, dan lingkungan spiritual. Perawat harus mengakui pengaruh lingkungan internal dan eksternal pada kesehatan penyakit individual. Konsep relevan dengan lingkungan internal meliputi kesehatan mental dan spiritual, dan keyakinan sosiokultural individu. Tambahan individual variabel epidemiologi meliputi kenyamanan, privasi, keamanan, dan kebersihan serta lingkungan yang estetik.
9. Membantu dengan pemuasan kebutuhan manusia. Perawat mengakui kebutuhan biofisik, psikofisik, psikososial, dan intrapersonal dirinya dan klien. Klien harus memuaskan kebutuhan yang lebih rendah sebelum berusaha memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Adapun urutan derajat kebutuhan menurut Watson yaitu:
- Kebutuhan derajat lebih rendah (kebutuhan biofisik) →kebutuhan bertahan hidup
1. kebutuhan makan dan minum
2. kebutuhan eliminasi
3. kebutuhan ventilasi
- Kebutuhan derajat lebih rendah (kebutuhan psikofisik)→kebutuhan fungsional hidup
1. kebutuhan aktifitas – inaktifitas
2. kebutuhan seksualitas
- Kebutuhan derajat lebih tinggi (kebutuhan psikososial) →kebutuhan integratif
1. kebutuhan pencapaian
2. kebutuhan afiliasi
- Kebutuhan derajat lebih tinggi (kebutuhan intrapersonal-interpersonal)→kebutuhan mencari pertumbuhan
1.kebutuhan aktualisasi diri.
Sebagai contoh holistic care dalam kasus bulimia dan anoreksia adalah (George, 1995):
Hirarki Watson Aplikasi pada bulimia&anoreksia
- Kebutuhan lebih tinggi - hambatan aktualisasi diri
(interpersonal) - rasa sempurna yang tidak realistik tak tercapai
- Kebutuhan lebih tinggi - hambatan rasa pencapaian sekunder citra diri
(psikososial) - keterlibatan diri dalam batasan aktifitas afiliatif
- mungkin mengganggu hubungan seksual
- kebutuhan lebih rendah - menghapus/lapar diri mengurangi nutrisi sel
(psikofisik) - mengarah pada penurunan aktifitas
- gangguan citra tubuh mengganggu seksualitas
- kebutuhan lebih rendah - pembatasan makan dam minum
(biofisik)

10. Mendukung untuk kekuatan eksistensial – fenomenologikal. Fenomenologi menjelaskan data dari situasi segera yang membantu orang memahami fenomena dalam pertanyaan. Psikologi eksistensial adalah ilmu eksistensi manusia yang menggunakan analisis fenomenologikal. Watson mempertimbangkan faktor ini sulit untuk dipahami. Hal ini meliputi pengalaman berpikir menjemukan menuju pemahaman yang lebih baik tentang diri mereka sendiri dan orang lain.
Watson percaya perawat memiliki tanggung jawab di luar sepuluh faktor karatif dan memfasilitasi perkembangan klien dalam area promosi kesehatan melalui tindakan preventif. Tujuan ini dicapai dengan mengajarkan klien perubahan personal untuk meningkatkan kesehatan, memberi dukungan situasional, mengajarkan metode penyelesaian masalah, dan mengenal kemampuan koping dan adaptasi terhadap kehilangan. Menurut Watson, Asumsi utama ilmu caring dalam keperawatan adalah :
1. Caring hanya dapat didemonstrasikan secara efektif dan dipraktikkan secara interpersonal.
2. Caring berisi faktor karatif yang hasil dari kepuasan kebutuhan manusia yang pasti.
3. Caring yang efektif meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan individu atau keluarga.
4. Caring berespon terhadap menerima seseorang tidak hanya dia sekarang tapi juga untuk menjadi apa dia.
5. Lingkungan caring menawarkan pertumbuhan potensial ketika membiarkan orang memilih tindakan terbaik untuk dirinya pada waktu yang diberikan.
6. Caring lebih “heatlhtogenic” daripada curing. Praktik caring mengintegrasikan pengetahuan biofisik dengan pengetahuan perilaku manusia untuk membuat atau meningkatkan kesehatan dan memberi bantuan kepada siapa saja yang sakit. Ilmu caring pelengkap ilmu curing.
7. praktik caring adalah pusat dalam keperawatan.
Gaut mengidentifikasi tiga kondisi yang penting untuk caring yaitu :
1. Kesadaran dan pengetahuan tentang kebutuhan seseorang untuk perawatan.
2. Perhatian untuk bertindak dan tindakan berdasarkan pengetahuan.
3. Perubahan yang positif sebagai hasil dari caring, diputuskan hanya berdasarkan kesejahteraan orang lain.
Watson menambahkan hasil kerja Gaut dengan dua kondisi tambahan yaitu dasar komitmen nilai – nilai dan moral untuk merawat, dan keinginan untuk merawat (Tomey&Alligood, 1998).
Dalam bukunya yang kedua Watson menuliskan bahwa pendidikan keperawatan dan sistem pemberian pelayanan kesehatan harus berdasarkan nilai – nilai kemanusiaan perhatian terhadap kesejahteraan orang lain. Untuk mendefinisikan lebih jauh tentang tanggung jawab sosial dan etik keperawatan dan menerangkan konsep human care, Watson mengajukan sebelas asumsi yang berhubungan dengan nilai – nilai human care, yaitu :
1. Peduli dan cinta berisi energi fisik utama dan universal.
2. Peduli dan cinta, sering tidak terlihat, adalah sudut pandang kemnausiaan kita, makanan yang memenuhi kebutuhan kemanusiaan kita.
3. Kemampuan meneruskan ideal caring dan ideologi dalam praktik akan mempengaruhi perkembangan masyarakat dan menentukan kontribusi keperawatan terhadap masyarakat.
4. Caring terhadap diri kita sendiri adalah syarat untuk caring terhadap orang lain.
5. Secara historis, keperawatan memiliki human care dan sikap caring memandang manusia dalam hal sehat – sakit.
6. Caring adalah pusat penyatuan fokus pada praktik keperawatan – inti dalam keperawatan.
7. Caring pada tingkat manusia makin menurun dalam sistem pelayanan kesehatan.
8. Dasar caring dalam keperawatan ditinggikan oleh perkembangan tekonologi dan paksaan institusional.
9. Isu penting dalam keperawatan saat ini dan masa depan adalah pelestarian dan pencapaian human care.
10. Hanya melalui hubungan interpersonal human care dapat didemonstrasikan dan dipraktikkan.
11. Kontribusi keperawatan secara sosial, moral, dan keilmuan terhadap kemanusiaan dan masyarakat ada dalam komitmen untuk ideal human care dalam teori, praktik dan riset.
Berdasarkan Watson, keperawatan tertarik dalam pemahaman kesehatan, penyakit, dan pengalaman manusia. Dalam teorinya, Watson mencoba mendefinisikan hasil aktifitas ilmiah dengan memperhatikan aspek hidup kemanusiaan. Watson berusaha membuat keperawatan suatu interrelasi dari kualitas hidup, meliputi kematian dan sepanjang hidup.
Watson percaya keperawatan berhubungan dengan promosi kesehatan dan restorasi dan pencegahan penyakit. Kesehatan lebih dari sekedar tidak adanya penyakit, adalah konsep yang dihindari karena ini subjektif alamiah. Kesehatan mengarah pada kesatuan dan harmonis dalam pikiran, tubuh dan jiwa dan berhubungan dengan derajat kongruen antara diri sendiri yang diamati dan diri sendiri yang dialami. Menurut Watson, istilah menggambarkan faktor – faktor yang perawat gunakan untuk memberikan perawatan ke klien. Watson menyatakan bahwa dengan berespon terhadap orang lain sebagai individu yang unik, orang yang caring akan memperhatikan perasaan orang lain dan menerima keunikan orang lain.
Dengan menggunakan sepuluh faktor karatif perawat dapat memberikan perawatan untuk berbagai klien. Masing-masing faktor karatif menggambarkan proses caring bagaimana klien mencapai atau mempertahankan kesehatan atau kematian dengan tenang. Di sisi lain, Watson menjelaskan curing sebagai istilah medis untuk mengatasi penyakit. Dalam teorinya, Watson menjelaskan dasar premis ilmu keperawatan, yaitu :
1. Caring (dan keperawatan) berada dalam setiap masyarakat. Setiap masyarakat memiliki orang yang peduli terhadap orang lain. Sikap caring dipindahkan melalui budaya profesi sebagai jalan yang unik dari koping lingkungannya. Kesempatan bagi perawat untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan mengikat dalam tingkat analisis masalah yang lebih tinggi dan perhatian dengan pendidikannya dan praktik dilakukan keperawatan dengan mengkombinasikan orintasi kemanusiaan dengan ilmu yang relevan.
2. Sering terjadi pemisahan antara teori dan praktik atau antara aspek ilmiah dan artistik dalam caring, terpisah karena pemisahan antara nilai keilmuan dan nilai kemanusiaan.
Dalam memperluas hasil kerja sebelumnya, Watson menambahkan komponen untuk konteks teori ilmu perkembangan manusia, yaitu :
1. Filosofi kebebasan manusia, pilihan dan tanggung jawab.
2. Biologi dan psikologi holisme (orang yang tidak dapat dikurangi hubungannya dengan yang lain atau alam).
3. Epistomologi yang mengijinkan tidak hanya untuk empiris tapi juga untuk kemajuan estetik, nilai etik, intuisi dan penemuan proses.
4. Ontologi ruang dan waktu.
5. Konteks kejadian antar manusia, proses, dan hubungan.
6. Pandangan dunia keilmuan yang terbuka.
Watson melanjutkan kerjanya dengan lebih fokus pada proses human care, aspek transpersonal dalam caring. Dasar premis yang disampaikan Watson adalah refleksi dari aspek interpersonal-transpersonal–spiritual dalam kerjanya. Semua aspek ini menunjukkan integrasi nilai dan keyakinannya tentang hidup manusia dan memberi dasar untuk pengembangan lebih lanjut dari teorinya. Aspek-aspek ini yaitu (Tomey&Alligood, 1998) :
1. Pikiran manusia dan emosinya adalah jendela jiwa.
2. Tubuh manusia dibatasi waktu dan ruang, tapi pikiran dan jiwa tidak dibatasi secara fisik.
3. Akses ke tubuh, pikiran, dan jiwa manusia mungkin selama manusia dilihat dan dirawat secara menyeluruh.
4. Semangat, daya tilik diri, atau jiwa dari orang ada di dalam dan untuk dirinya.
5. Orang saling memerlukan dalam caring, jalan untuk mencintai.
6. Totalitas pengalaman pada berbagai kejadian menyusun lapang fenomena.
Kerangka kerja ditampilkan dalam bentuk logis yang berisi ide yang luas dan menuju berbagai situasi dalam rentang sehat-sakit. Watosn mendefinikan caring berbeda dengan curing yang memisahkan keperawatan dengan kedokteran. Konsep ini membantu mengelompokkan batang tubuh ilmu keperawatan sebagai ilmu yang terpisah. Perkembangan teori tahun 1979 mengarah pada menjelaskan manusia dari perawat dan manusia dari klien. Penekanan lain pada eksistensial-fenomenologikal dan faktor spiritual.
Teori Watson mendasari dukungan terhadap teori disiplin lain seperti Rogers, Erikson dan Maslow. Watson yakin dalam mendukung pendidikan keperawatan yang melibatkan pengetahuan yang holistik dari berbagai disiplin dan menggabungkan kemanusiaan, ilmu dan seni. Watson percaya peningkatan kebutuhan sistem pelayanan kesehatan dan kebutuhan klien akan menuntut perawat untuk memiliki pendidikan yang luas dan liberal. Ideal, isi, teori dari pendidikan liberal harus terintegrasi dalam pendidikan keperawatan. Watson mempersatukan dimensi paradigma postmodern dengan memindahkan seluruh teorinya tentang caring transpersonal. Teoritikal modern berhubungan dengan konsep seperti mempertahankan keadaan yang tetap, adaptasi, interaksi linier, dan praktik keperawatan berdasarkan masalah. Pendekatan postmodern memindahkan keluar poin ini. Watson percaya keperawatan harus ditantang ke arah konstruk-dan ko-konstruk kuno dan pengatahuan baru menuju tanggung jawab kemanusiaan yang lebih jauh menjelaskan keperawatan untuk era yang baru.
Dalam praktik, institusi yang mencari pendekatan yang holistik dalam asuhan keperawatan mengitegrasikan berbagai aspek komitmen teori Watson terhadap caring. Contohnya jurnal keperawatan yang berhubungan dengan pemberian asuhan keperawatan berisi peningkatan jumlah artikel yang merujuk pada Watson dan penggabungan pentingnya caring sebagai domain penting dalam keperawatan (Tomey&Alligood, 1998). Teori divalidasi dalam berbagai setting dan populasi. Setting klinik meliputi unit perawatan kritis, NICU, dan unit perawatan lansia dan anak-anak. Populasi meliputi wanita yang tidak menikah, wanita yang bayi di ICU, dan wanita yang berisiko secara sosial, klien pasca MCI, klien onkologi, orang dengan AIDS, dan lansia. Hubungan caring dengan administrasi keperawatan juga terus dikaji. Tingkat perawatan individu, lama dirawat, dan peningkatan kompleksitas teknologi diidentifikasi sebagai hal yang mungkin mempengaruhi dalam implementasi teori caring.
Dalam hal pendidikan, Watson aktif dalam menyusun kurikulum di universitas Colorado. Kerangka kerjanya diajarkan dalam berbagai kurikulum keperawatan. Kritik yang timbul antara lain penggunaan istilah yang tidak didefinisikan, ketidaklengkapan perawatan terhadap subjek dalam menjelaskan sepuluh faktor karatif, dan hambatan perhatian terhadap aspek patofisiologi dalam keperawatan (Tomey&Alligood, 1998). Watson menjelaskan semua aspek ini dalam pengantar buku keduanya, dimana Watson menjelaskan perhatiannya untuk menjelaskan inti dari keperawatan – semua aspek yang berhubungan dengan hubungan perawat-klien yang menghasilkan hasil terapetik – lebih dari keteraturan dalam keperawatan - prosedur, tugas dan teknik yang digunakan berbagai setting praktik. Dengan fokus ini, praktik keperawatan tidak dibatasi pada berbagai kekhususan dalam keperawatan. Watson berharap hasil kerjanya akan membantu perawat mengembangkan dasar-dasar nilai moral dan filosofis yang bermakna. Kajian kerangka kerja Watson mengarahkan pembaca melalui pengalaman berpikir dalam menekankan ketrampilan komunikasi, penggunaan pertumbuhan diri sendiri, perhatian pada perawat dan klien, dan proses human caring dalam kesehatan dan penyembuhan manusia.
Dalam hal penelitian, Watson berusaha meneliti kerangka kerja dan sampai pada data empiris yang mudah untuk teknik penelitian. Abstrak kerangka kerja ini sulit untuk dipelajari secara kongkrit. Watson percaya sering terjadi jarak antara kualitas esensial dengan subjek yang dipelajari dalam keperawatan dan metode riset yang digunakan. Watson berharap riset keperawatan akan dapat menyatu dan menggali estetik, metafisik, empiris, dan metodologi kontekstual. Riset dan praktik harus fokus pada hasil subjektif dan objektif klien dan dalam menentukan apakah caring adalah inti dari keperawatan. Pengembangan perilaku dan prediktor perubahan penting pengembangan lebih jauh dari kerja ini.

B. TEORI WATSON DAN PARADIGMA KEPERAWATAN
Berikut ini pandangan Watson terhadap empat konsep sentral dalam paradigma keperawatan. pandangan ini mempengaruhi Watson dalam mengembangkan teorinya. Adapun pandangan Watson tersebut adalah :
1. MANUSIA
Meskipun tulisan awal Watson mengarah pada hasil kerjanya sebagai filisofi dan ilmu caring, pada buku selanjutnya Watson dengan jelas menyatakan hasil kerjanya menggambarkan teori keperawatan (George, 1995). Pada konteks ini, Watson mengadopsi pandangan tentang manusia sebagai orang bernilai dalam dan dirinya sendiri untuk dirawat, dihormati, diasuh, dipahami dan dibantu. Secara umum pandangan filosofis manusia adalah diri yang teritegrasi penuh. Manusia dipandang lebih besar dari dan berbeda dari jumlah bagian-bagiannya.
Watson percaya bahwa manusia lebih baik dipandang dalam kerangka konflik perkembangan dan perhatian yang sistematik pada konflik perkembangan individu dan keluarganya penting untuk pelayanan kesehatan. Semua konflik berdasarkan model Erikson krisis psikososial titik balik yang mencakup keseluruhan siklus hidup manusia. Sering terjadi semua konflik dapat menghapus reaksi stress yang memerlukan respon koping. Perawat harus memahami manusia ketika mereka sakit, sehat atau sedang stress.
2. KESEHATAN
Meskipun WHO telah menyatakan bahwa sehat adalah keadaan positif fisik, mental, sosial, Watson percaya bahwa faktor lain perlu dilibatkan. Watson menambahkan tiga elemen yaitu (George, 1995):
1. Level yang tinggi dari seluruh fisik, mental, dan fungsi sosial.
2. Tingkat pertahahan adaptif umum dari fungsi harian.
3. Tidak adanya penyakit (atau adanya usaha yang mengarah supaya tidak ada).
Watson menjelaskan bahwa secara tradisional dinamakan perawatan kesehatan adalah mitos. Dinamakan perawatan kesehatan, diagnosa penyakit, perawatan penyakit, dan resep obat adalah perawatan medis. Perawatan kesehatan yang sebenarnya berfokus pada gaya hidup, kondisi sosial, dan lingkungan. Watson menambahkan bahwa sehat mengarah pada kesatuan dan harmoni dalam pikiran, badan dan jiwa. Sehat juga dihubungkan dengan derajat kesamaan antara penerimaan diri dan pengalaman diri (George, 1995).
Satu faktor utama yang mempengaruhi kesehatan adalah stress atau aktifitas yang berhubungan dengan stress yang berhubungan dengan gaya hidup, kondisi sosial dan lingkungan. Sakit pada sisi lain bukan hanya penyakit, tapi juga ketidakharmonisan antara badan, jiwa dan semangat yang mengarah ke stress. Watson percaya individu sebaiknya menjelaskan kondisi kesehatan atau penyakit, sejak dia menujukkan pandangan sehat sebagai keadaan subjektif dalam pikiran orang.

3. LINGKUNGAN/MASYARAKAT
Salah satu variabel yang mempengaruhi masyarakat dunia saat ini adalah lingkungan sosial. Masyarakat memberi nilai-nilai yang menentukan bagaimana seseorang sebaiknya berperilaku dan apa tujuan yang ingin dituju seseorang. Semua nilai ini dipengaruhi oleh perubahan dalam arena sosial, budaya, spiritual yang bekerja mempengaruhi persepsi orang dan dapat mengarah ke stress. Orang juga memiliki kebutuhan instrinsik untuk memiliki, menjadi anggota kelompok dan masyarakat secara menyeluruh. Lebih jauh lagi, masing-masing orang memiliki kebutuhan untuk cinta, mencintai dan dicintai. Stress atau penyakit dapat memisahkan orang dari semua yang memenuhi kebutuhan afiliatif atau afeksional. Hal ini dalam praktik caring bahwa keperawatan dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Watson menjelaskan bahwa caring dan keperawatan ada dalam setiap masyarakat. Setiap masyarakat memiliki beberapa orang yang peduli dengan orang lain. Sikap caring tidak diturunkan dari generasi ke generasi melalui gen. Ini diturunkan melalui budaya profesi sebagai jalan yang unik dari koping dengan lingkungannya (George, 1998).

4. KEPERAWATAN
Menurut Wason keperawatan adalah berhubungan dengan promosi kesehatan, mencegah penyakit, caring dengan yang sakit, dan memulihkan kesehatan (George, 1998). Keperawatan berfokus pada promosi kesehatan sama seperti perawatan penyakit. Watson lebih jauh menjelaskan keperawatan sebagai ilmu manusia tentang orang dan pengalaman sehat-sakit yang dimediasi oleh professional, ilmiah, estetik dan transaksi perawatan manusia yang etis. Keperawatan dalam konteks ini didasarkan pada kemanusiaan sama seperti ilmu alam.
Hubungan antara perawat dan klien berisi beberapa faktor unik yang didasarkan pada harapan saling menguntungkan. Klien mengharapkan perawat mengikuti apapun kemauan klien untuk perawatan tapi juga berharap perawat peduli dan manusiawi. Perawat memiliki nilai caring tapi juga sering bersedia juga berkorban yang bernilai untuk menyelesaikan tugas usia teknologikal. Berjuang dalam praktik keperawatan akan mendorong kajian kemanusiaan dan pengetahuan yang manusiawi, praktisi caring harus percaya akan kemuliaan dan usaha klien. Keperawatan harus mendorong nilai-nilai yang dipegang sebagai suatu profesi dan berisi semua nilai sebagai dasar membangun prioritas perawatan klien (George, 1995).

C. TEORI WATSON DAN PROSES KEPERAWATAN
Watson mengatakan proses keperawatan sama dengan langkah-langkah proses penelitian ilmiah. Rasonalnya semua proses itu identik dengan usaha untuk memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan penelitian. Juga untuk menemukan menemukan solusi terbaik. Watson mengerjakan dua proses yang dipadukan sebagai berikut (yang digaris miring menujukkan proses riset digabungkan dengan proses keperawatan) :
Pengkajian
• Pengkajian meliputi observasi, identifikasi, dan review masalah: penggunaan pengetahuan yang dapat diterapkan dari literatur.
• Meliputi pengetahuan konseptual untuk formulasi dan konseptualisasi kerangka kerja untuk melihat dan mengkaji masalah.
• Juga meliputi formulasi hipotesis tentang hubungan dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah.
• Pengkajian juga meliputi mendefinikan variabel yang akan diuji dalam pemecahan masalah.
Perencanaan
• Rencana membantu menentukan bagaimana variabel akan diuji atau diukur.
• Meliputi pendekatan konseptual atau desain untuk pemecahan masalah yang merujuk pada asuhan keperawatan.
• Juga meliputi menentukan data apa yang akan dikumpulkan dan siapa dan bagaimana data dikumpulkan.
Intervensi
• Intervensi adalah tindakan langsung dan implementasi dari rencana.
• Meliputi kumpulan data.
Evaluasi
• Evaluasi adalah metode dan proses untuk menganalisa data dan sama seperti pengujian efek intervensi berdasarkan data.
• Meliputi interpretasi hasil, derajat hasil positif yang terjadi, dan apakah hasil dapat digeneralisasikan di luar situasi tersebut.
Diluar hal diatas, menurut Watson, evaluasi mungkin juga membuat hipotesis tambahan atau kemungkinan yang mengarah pada generasi teori keperawatan berdasarkan masalah yang dipelajari dan solusi-solusinya.

D. ANALISA DAN KONKLUSI
Kekuatan hasil kerja Watson terletak pada tidak hanya membantu memberi kualitas perawatan yang klien seharusnya terima dan tapi juga memberi perawatan yang memuaskan jiwa untuk beberapa perawat masuk profesi. Karena ilmu keperawatan bergerak dari biofisik melalui intrapersonal, masing-masing perawat menjadi ko-partisipan aktif yang dalam perjuangan klien untuk menjadi aktualisasi diri.
Batasan mungkin menjadi isu yang sama. Hospitalisasi, lama dirawat, kemajuan teknologi, membuat perawatan yang berkualitas dianggap tidak mungkin diberikan di rumah sakit. Struktur birokraktik tidak dikenal untuk perhatian mereka terhadap sesuatu diluar rasio untung-rugi. Reward dari dalam hanya untuk sebuah kerja yang teratur, bukan untuk inti keperawatan yang dilakukan, sering menempatkan praktisi dalam posisi yang tidak dapat dipertahankan. Perawat yang berada pada posisi struktural birokratik berfokus pada penyelesaian tugas, apakah struktur di rumah sakit, departemen kesehatan, perkumpulan perawat, atau tempat lain adalah subjek keterbatasan teori Watson. Meskipun Watson mengakui kebutuhan biofisik dalam keperawatan, namun area ini mendapat perhatian yang sedikit dalam tulisannya. Sepuluh faktor karatif terutama hanya merencanakan kebutuhan psikososial (George, 1995).

E. PENERAPAN TEORI WATSON DALAM KASUS DI RUMAH SAKIT
Berikut ini akan diberikan sebuah contoh kasus. Pada kasus ini akan diterapkan proses keperawatan berdasarkan teori Watson. Proses keperawatan pada kasus ini didasarkan pada aplikasi teori Watson dalam George (1995). Empat derajat kebutuhan digunakan dalam tahap pengkajian dan sepuluh faktor karatif digunakan dalam tahap perencanaan dan implementasi. Diagosa keperawatan yang diangkat dan dibahas pada aplikasi dalam kasus ini hanya satu saja dengan maksud sebagai proritas penyelesaian. Diagnosa keperawatan lain dapat saja dirumuskan dan diselesaikan dengan menggunakan metode yang sama dengan diagnosa keperawatan yang dibahas dibawah ini. Adapun kasus tersebut adalah :
Ny. S, 70 tahun dilarikan ke sebuah rumah sakit pemerintah oleh para tetangganya karena sesak nafas dan batuk-batuk berdahak saat sedang mencuci pakaian di depan rumahnya. Ny. S tampak kurus, kulit kering, badan lemah dan muka pucat. Para pengantar mengatakan selama ini Ny. S tinggal sendiri di rumah dan tidak punya keluarga lagi. Ny. S termasuk kurang mampu. Ny. S sehari-hari bekerja sebagai pengumpul botol-botol yang akan dijual kepada pabrik pengolah plastik. Ny. S tinggal di rumah sempit dan kurang ventilasi. Dari hasil pemeriksaan saat masuk rumah sakit didapatkan data tekanan darah 80/60 mmmHg, nadi 100 kali/menit, suhu 37 derajat Celcius, pernafasan 25 kali/menit, dan sklera tampak pucat. Hasil pemeriksaan laboratorium darah didapatkan Hb 10 gr/dl, Ht 33%, leukosit 10000 ul dan trombosit 140.000 ul, dan albumin diperiksa dengan hasil 3 gr/dl. Dari hasil rontgen dada menunjukkan adanya TB paru.

Proses keperawatan menurut teori Watson untuk kasus Ny. S adalah :
Proses Keperawatan Aplikasi Teori
Pengkajian
Kebutuhan derajat lebih rendah
(Biofisik) Bagaimana Ny. S melihat dirinya?Apakah tinggi badan, berat badan, hasil pemeriksaan fisik Ny. S normal?Apakah Ny. S cukup makan dan minum untuk mempertahankan kondisi tubuh yang normal?Apakah pola eliminasi dan pernafasan Ny. S normal?

Kebutuhan derajat lebih rendah
(Psikofisik) Apakah citra tubuh Ny. S positif?Apakah dia berpartisipasi dalam aktifitas yang biasa pada seusianya?apakah evaluasi hasil nilai lab dalam batas normal?Bagaimana kehidupan
seksualitasnya?
Kebutuhan derajat lebih tinggi
(Psikososial) Apakah hubungan Ny. S dengan sesama
memuaskan?Apakah kondisi kurang mampu
membuatnya terhambat?Apakah lingkungannya
memfasilitasi pertumbuhan dirinya?Apakah dia
merasa dicintai dan mencintai?

Kebutuhan derajat lebih tinggi
(Intrapersonal) Bagaimana perasaan Ny. S tentang dirinya?Apakah Ny. S menyukai dunianya? Apakah Ny. S merasa mencapai tujuannya?

Diagnosa Keperawatan Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan
dengan sekret yang tebal dan kental, usaha
batuk efektif lemah.


Perencanaan dan Implementasi
Penggunaaan faktor karatif Membangun lingkungan caring melalui
Pemahaman empatik. Membangun hubungan
saling melalui mendorong ekspresi perasaan
tentang kondisi tubuhnya.gunakan kehangatan,
empati, keserasian dalam membangun komunikasi terbuka. Tingkatkan pengajaran interpersonal dengan melibatkan klien dalam perencanaan tindakan. Ajarkan klien bagaimana menghadapi konflik atau masalah. Fasilitasi hubungan dengan masyarakat dengan meningkatkan otonomi. Bantu mengekspesikan pandangan. kehidupan seksualitasnya. Dorong klien mengkaji interaksi sosialnya dan
mengembangkan kepuasan diri. Penekanan pada
kepuasan diri lebih dari sekedar kesempurnaan
diri. Kaji fungsi respirasi, seperti suara nafas,
rate, irama, kedalaman dan penggunaan otot
pernafasan. Catat kemampuan batuk efektif,
karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
Tempatkan klien pada posisi semi fowler. Kaji
klien dengan latihan batuk dan nafas dalam.
Keluarkan sekret dari mulut dan trakea. Suction
jika perlu. Pertahankan intake cairan 2500
ml/hari jika tidak ada kontraindikasi.
Kolaborasi: beri udara/oksigen yang
dilembabkan. Beri obat-obatan sesuai indikasi.
seperti mukolitik, bronkodilator. Siapkan atau.
Bantu dengan intubasi darurat.

Evaluasi Apakah hubungan saling percaya telah tercapai? Apakah Ny. S telah menunjukkan tanda-tanda normal dalam area yang dikaji, biofisik, psikofisik, psikososial, intrapersonal?
Apakah Ny. S telah belajar usaha untuk dapat menjalani hidup dengan sukses? Kriteria evaluasi, jalan nafas paten, sekret dikeluarkan tanpa bantuan, menunjukkan perilaku mempertahankan jalan nafas yang bersih, berpartisipasi dalam perawatan sesuai kemampuan, mengidentifikasi komplikasi dan melakukan tindakan yang tepat.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu kelemahan teori Watson menurut George (1995) adalah lebih menekankan pada kebutuhan psiksosial. Sebenarnya perawat juga perlu memahami kebutuhan psiksosial klien, karena selama ini lebih perawat lebih banyak berfokus hanya kepada kebutuhan biofisik klien. Meskipun demikian dalam teori Watson juga terdapat pengkajian kebutuhan biofisik dan penyelesaian masalah dalam hal pemuasan kebutuhan semua aspek termasuk biofisik. Namun untuk lebih saling menguatkan, salah satu cara untuk menutupi kelemahan teori Watson ini dalam penerapan teori ini di dalam praktik adalah dengan mengkombinasikan atau memodifikasi teori ini dengan konsep atau teori lain yang lebih menekankan pada kebutuhan biofisik dan kebutuhan lain sehingga dapat saling mengisi dan melengkapi. Setiap ahli teori memiliki penekanan tersendiri dalam teori yang disampaikannya sesuai dengan latar belakang kelimuan dan pengalamannya.. Penjelasan lebih rinci dalam penerapan teori Watson untuk kasus diatas akan dijelaskan dalam bab selanjutnya.






BAB III
PEMBAHASAN

A. ANALISIS PENERAPAN TEORI
Teori Watson lebih menekankan caring dalam praktik keperawatan. Watson percaya caring adalah inti dari praktik keperawatan. Selain itu Watson juga menekankan bahwa praktik perawat yang professional adalah praktik yang menggabungkan ilmu, seni, nilai kemanusiaan dan human care. Pada penerapan teori Watson pada kasus diatas semua faktor ini berusaha untuk digabungkan dan diselaraskan dalam bentuk proses keperawatan yang holistik.
Pada pengkajian terdapat empat derajat kebutuhan yang digunakan dalam teori Watson. Pada kasus diatas, untuk kebutuhan derajat lebih rendah berupa kebutuhan biofisik yang perlu dikaji dari klien adalah yang berhubungan dengan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan yang berkaitan dengan makan, minum, eliminasi dan ventilasi. Untuk itu perlu dikaji bagaimana klien memandang kondisi badannya, berapa berat badan, tinggi badan, apakah seimbang keduanya. Perawat perlu melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh pada tubuh klien ,meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi pada berbagai sistem tubuh. Pemeriksaan fisik head to toe perlu dituntaskan. Selain itu perawat perlu mengkaji pola makan dan minum klien, apakah asupan makan klien cukup gizi, apakah asupan cairan klien cukup dan sesuai untuk berat badan dan usianya. Perlu juga diketahui pola eliminasi dan respirasi klien, keluhan-keluhan terhadap sistem-sistem tubuh klien perlu diketahui perawat. Perawat juga perlu mendapat informasi yang cukup tentang kondisi di rumah dan lingkungan yang terkait dan mempengaruhi fungsi fisiologis atau biofisik dari semua unsur tubuh klien.
Perawat memerlukan ilmu yang memadai untuk menilai apakah hasil pemeriksaan yang telah dilakukannya terhadap klien menunjukkan hasil normal atau tidak. Disinilah pentingnya perawat memiliki ilmu keperawatan yang tinggi dan analisis yang tajam. Perawat harus memahami bahwa hubungan perawat-klien yang saling percaya dan membantu perlu dikembangkan sejak kontak awal dengan klien. Perawat harus menujukkan sikap caring sedini mungkin kepada klien. pada kasus diatas klien adalah lansia, sehingga perawat perlu memahami konsep dasar tentang lansia dan kondisinya supaya dapat melakukan pengkajan dengan lancar dan tepat.
Pengkajian selanjutnya berupa pengkajian kebutuhan derajat lebih rendah berupa kebutuhan psikofisik. Kebutuhan ini menggambarkan kebutuhan fungsional dari diri klien meliputi kebutuhan aktifitas-inaktifitas dan kebutuhan seksualitas. Pengkajian yang perlu dilakukan pada bagian ini meliputi pandangan klien terhadap citra dirinya, apakah klien berpartisipasi dalam aktifitas sesuai dengan usianya dan apakah hasil laboratorium menunjukkan hasil yang normal atau tidak. Bagaimana pandangan dan kondisi kehidupan seksualitas klien. Juga perlu dikaji keterbatasan klien dalam melakukan aktifitas sesuai usianya, apa yang telah dan dapat dilakukannya dan apa yang belum atau tidak dapat dilakukannya.
Pada pengkajian kebutuhan derajat lebih tinggi yaitu kebutuhan psikososial, yang perlu dikaji perawat berdasarkan teori Watson adalah yang terkait dengan kebutuhan fungsional. Perawat yang bertugas merawat klien diatas perlu mengkaji apakah hubungan klien dengan rekan seusianya memuaskan, apakah sesak nafas yang dialami menghambat hidupnya. Selain itu apakah lingkungan sekitarnya memfasilitasi dirinya untuk menjalani hidup dan mencapai tujuan serta dapat bergabung dengan lingkungan itu. Perlu juga dikaji apakah klien merasa dapat mencintai dan dicintai.
Pada pengkajian kebutuhan derajat yang tertinggi menurut Watson yaitu kebutuhan aktualisasi diri perawat perlu mengkaji bagaimana perasaan klien terhadap dirinya, apakah klien menyukai dunia yang dijalaninya, dan apakah klien telah merasa mencapai tujuan dirinya. Pada intinya pengkajian bagian ini ingin melihat sejauh mana klien memandang dirinya telah atau belum mencapai aktualisasi diri dalam hidupnya. Pada kasus diatas klien termasuk usia lansia yang mungkin memiliki pandangan aktualisasi diri yang berbeda dengan klien yang lebih muda. Sekali lagi, diperlukan pengetahuan perawat yang memadai dalam memandang dan menghadapi berbagai keragaman klien sebagai makhluk yang unik.
Menurut Watson, setelah dilakukan pengkajian kemudian dibuat perencanaan dan dilakukan implementasi dari rencana yang telah dibuat. Hasil pengkajian dianalisa untuk kemudian dibuat perencanaan yang tepat sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dari hasil pengkajian menyeluruh terhadap klien pada kasus diatas yaitu Ny. S dapat dirumuskan salah satu diagnosa keperawatan yaitu bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret yang tebal dan kental, usaha, batuk efektif lemah. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, kemudian disusun rencana asuhan keperawatan. Pada kasus ini, rencana asuhan keperawatan dikombinasikan antara rencana tindakan berdasarkan teori Watson yang lebih menekankan pada aspek psikologis dan rencana tindakan yang lebih menekankan pada biofisik yang diambil dari buku rencana asuhan keperawatan Doenges dkk (1993). Untuk dapat menerapkan teori Watson dengan efektif dan tepat, sepuluh faktor karatif dan asumsi Watson terhadap caring perlu menjadi landasan yang kuat dalam impelementasi rencana asuhan keperawatan tersebut. Rincian rencana keperawatan seperti yang telah dijabarkan pada proses keperawatan pada kasus tersebut.
Setelah rencana tindakan diimplementasikan kemudian dilakukan evaluasi terhadap hasil implementasi yang dilakukan perawat tersebut. Untuk mengevaluasi ditetapkan kriteria evalusi dan hal-hal apa saja yang akan dievalusi. Hasil evalusi selanjutnya akan dijadikan masukan untuk membuat perencanaan berikutnya. Dari hasil evaluasi ini bisa saja timbul rencana baru atau melanjutkan rencana sebelumnya. Ini tergantung hasil evaluasi yang dilakukan perawat.
Hal penting yang perlu dipahamai dalam menerapkan teori Watson dalam praktik keperawatan di rumah sakit atau sarana pelayanan kesehatan lain adalah perlunya kerjasama dari berbagai unsur dalam insitusi tersebut. Misalnya dalam membuat formulir pengkajian, perencanaan dan implementasi dan evaluasi harus disesuaikan dengan yang dipaparkan dalam teori Watson. Untuk itu perlu diskusi dan persamaan persepsi tentang cara mengaplikasikan teori ini. Selain itu, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, sebaiknya penerapan teori ini juga dikombinasikan atau dimodifikasi dengan teori lain sehingga akan menghasilkan bentuk aplikasi teori dalam praktik keperawatan yang lebih komprehensif dan saling mengisi dan melengkapi kekurangan dari teori yang digunakan.
Perlu diketahui bahwa setiap ahli keperawatan yang menghasilkan teori keperawatan, memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman serta kecenderungan yang berbeda-beda sehingga teori yang dihasilkan juga akan cenderung pada latar belakang para ahli itu masing-masing. Seperti teori Watson ini lebih menekankan pada aspek psikologis karena Watson memiliki latar belakang pendidikan yang lebih kuat pada bidang keperawatan psikologis-mental sehingga jika teorinya lebih menekankan pada aspek psikologis keperawatan. Oleh karena itu perawat harus membiasakan diri untuk berdiskusi bersama rekan sejawat dan bila perlu melibatkan para pakar untuk menentukan teori apa yang baik dan sesuai untuk diterapkan, sesuai dengan kondisi dan situasi institusi pelayanan tempat perawat tersebut bekerja.


















BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pada dasarnya semua teori keperawatan yang telah diciptakan oleh para pakar keperawatan adalah hasil yang baik karena telah melalui tahap-tahap metode ilmiah yang sistematis. Teori yang mereka hasilkan juga telah melaui suatu proses panjang untuk dapat diakui oleh komunitas keperawatan di seluruh dunia sebagai bagian dari teori keperawatan. Hal yang perlu dilakukan oleh komunitas perawat terutama perawat di Indonesia adalah terus berusaha menerapkan teori yang telah ada dalam praktik keperawatan. Praktik keperawatan yang baik dan professional hanya praktik yang didasarkan pada nilai-nilai perawat professional yang salah satunya tercermin dalam teori keperawatan. Untuk itu salah satu cara meningkatkan kualitas pelayanan atau asuhan keperawatan adalah dengan menerapkan praktik keperawatan yang berdasarkan teori keperawatan, bukan praktik yang berdasarkan perintah atau order dokter, atau praktik keperawatan yang hanya berdasarkan rutinitas semata. Inilah yang dinamakan Evidence based practice, yang menjadi salah satu kunci berhasilnya perkembangan keperawatan di luar negeri.
Jean Watson telah memberikan salah satu pilihan bagi perawat di Indonesia untuk mulai menerapkan praktik keperawatan yang berdasarkan teori dengan menciptkan teori yang telah diakui komunitas perawat di dunia, yaitu “Philosophy and Science of Caring”. Sekarang semua kembali kepada diri perawat sendiri, apakah sudah siap dan mulai berpikir untuk menerapkan teori yang telah ada di instistusinya. Kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk menjadikan praktik keperawatan yang professional dan berkualitas dapat diwujudkan.
B. SARAN
1. Perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan bagi perawat untuk meningkatkan pengetahuan perawat tentang teori keperawatan yang telah ada sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan perawat.
2. Perlu dukungan dan bantuan dalam berbagai bentuk dari organisasi profesi, institusi pendidikan tinggi keperawatan dan birokrasi agar praktik keperawatan yang berdasarkan teori dapat diwujudkan.
3. Perlu adanya wadah atau forum diskusi bagi perawat di masing-masing institusi pelayanan atau komunitas perawat terdekat untuk bertukar pikiran tentang cara dan bagaimana praktik keperawatan yang berdasarkan teori atau evidence based practice dapat diwujudkan.













DAFTAR PUSTAKA

Doenges, E., Marilynn. et al. (1993). Nursing Care Plans. Guidelines for Planning
and Documenting Patient Care. (3th ed). Philadelphia : F.A. Davis Company.
Fawcett, J. (2005). Contemporary Nursing Knowledge : Analysis and Evaluation of
Nursing Models and Theories. (2nd ed). Philadelphia : F.A Davis Company.
George, Julia B. (1995). Nursing Theories. The Base for Professional Nursing
Practice. (4th ed). Connecticut : Appleton & Lange.
Kozier.B, Erb.G, Blais.K. ( 1997 ). Professional Nursing Practice Concepts and
Perspective. (3th ed). California : Addison Wesley Longman,Inc.
Leddy Susan.K.L. ( 1998 ). Conceptual Bases ofProfessional Nursing. ( 4th ed).
Philadelphia : Lippincot – Raven Publisher.
Tomey, Ann Marriner & Alligood, Martha R. (1998). Nursing Theorists and Their
Work. (4th ed). St Louis : Mosby-Year book Inc.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH

kemanGi

kemanGi
teRhalNg

Sahabat Blog