iklan

loading...

Monday, April 18, 2011

Asuhan Keperawatan Pada Kanker

Penamaan Kanker
Dinamakan bedasarkan jaringan asalnya. Sarcoma berasal dari jaringan mesodermal yang terdiri dari jaringan ikat, tulang, kartilage, lemak, otot dan pembulh darah. Osteosarcoma menunjukan kanker tulang. Carcinoma menunjukan tumor yang berasal dari jaringan epitel seperti membran mukosa dan kelenjar (termasuk didalamnya kanker payudara, ovarium, dan paru) Kanker sumsum tulang disebut dengan myeloma. Sementara kanker darah atau hemopoietik dikenal sebagai balstoma dan tumor dapat meliputi kanker lympe, eritrosit, dan sel mieloid. Leukemias menjelaskan tentang kanker yang berasal dari sel darah putih yang dapat di golongkan menjadi myeloid, lymphatik atau monositik

Metastase
Kemampuan sel tumor untuk pindah ke tempat lain dan membentuk tumor sekunder. Banyak pasien yang meninggal karena metastase kanker ke organ vital daripada karena tumor primernya.

Tumor metastase melalui:

1. Pembuluh limphe
2. Pembuluh darah
3. Jaringan menempel
4. Rongga dalam tubuh dari organ ke organ misalnya dari lambung ke ovarium

Nyeri pada kanker disebabkan kanker mempengaruhi ujung syaraf

Pengobatan utama:

1. Pembedahan
2. Radiotherapy
3. Chemotherapy

Pembedahan

1. Jika tumor masih kecil atau ada alasan lain yang memungkinkan operasi.
2. Biasanya disertai dengan chemotherapy atau radiotherapy.

Radiotherapy

1. Menggunakan X-ray atau radiopharmaceuticals (radionuclides)
2. Pada X-ray therapy, radiasi diberikan secara lokal untuk menghindari kerusakan jaringan sehat lainnya.



kemoterapi
Chemotherapy digunakan untuk menghancurkan sel secara selektif. Nitrogen mustards obat yang pertama digunakan. Keuntungan dapat diberikan secara intravena dan dapat menyebar sehingga sel kanker jadi hancur. Kerugian cytotoxic seperti:

1. Depresi sumsum tulang
2. Lesi saluran pencernaan
3. Kehilangan rambut
4. Mual
5. Resistensi

Peran Prawat

1. Memberi dukungan klien  prosedur diagnostik
2. Mengenali kebutuhan psiko-sosial dan spiritual
3. Memenuhi kebutuhan cairan & nutrisi klien
4. Memberi bantuan bagi klien yang mendapat pengobatan anti kanker / terhadap keganasan
5. Membantu klien fase penyembuhan / rehabilitasi
6. Membantu klien untuk tindak lanjut pengobatan


Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Infeksi

1. Kaji resiko yang dapat terjadi akibat depresi sistem imun:
2. Jenis, dosis, cara pemberian kemoterapi
3. Stressor yang sedang dialami klien dan kemampuan koping yang dimiliki
4. Kebiasaan kebersihan diri
5. Pola tidur
6. Pola makan
7. Pola eliminasi
8. Riwayat & pemeriksaan fisik
9. Tanda-tanda infeksi: demam, adanya nyeri menelan, nyeri saat eliminasi, adanya exudat
10. Tanda perdarahan: pusing, adanya perdarahan
11. Tanda anemia: pucat, lemah, sesak nafas saat aktifitas
12. Fungsi pernafasan & suara nafas
13. Laboratorium: DPL


Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Infeksi (lanjutan)

1. Lakukan tindakan khusus jika angka neutrofil <500/mm3
2. Lindungi klien dari terpaparnya bakteri
3. Tempatkan klien di ruang isolasi
4. Pasang papan pengumuman di pintu masuk ruang isolasi klien yang menginformasikan: pengunjung harus cuci tangan sebelum masuk, pengunjung yang FLU dilarang masuk dan DILARANG membawa buah, bunga atau sayuran segar ke ruangan klien
5. Pasang papan pengumuman yang menginformasikan TIDAK BOLEH menginjeksi per-IM dan mengukur suhu per-rektum
6. Rencanakan program kebersihan mulut, mandi sehari sekali, dan kebersihan area perineum dalam kegiatan perawatan klien
7. Kaji tempat penusukan infus, ganti balutan dengan teknik aseptik 2 hari sekali atau apabila ada tanda-tanda plebitis
8. Hindari tindakan invasif (jika memungkinkan)
9. Cuci tangan sebelum merawat klien, tidak menempatkan petugas kesehatan yang FLU (atau infeksi lain) atau yang merawat klien yang terinfeksi di ruang isolasi
10. Lakukan tindakan khusus jika angka neutrofil <500/mm3
11. Kaji terus menerus adanya infeksi pada klien
12. Monitor tanda vital terutama pada peningkatan temperatur
13. Monitor angka lab neutrofil
14. Kaji tanda infeksi seperti kemerahan, adanya peradangan di area tertentu (mukosa mulut, tempat bekas penusukan suntik/infus, dll)
15. Monitor perubahan warna urin, sputum & feses
16. Diskusikan tanda & gejala infeksi yang terjadi ke dokter yang bertanggung jawab, kolaborasi perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan kultur, pemberian antipiretik & antibiotik


Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Cedera: Perdarahan

1. Lakukan tindakan khusus jika trombosit <>
2. Cegah klien dari trauma dan resiko perdarahan
3. Pasang tanda DILARANG injeksi per IM dan pemberian obat aspirin
4. Minimalkan penusukan vena atau tekan bekas penusukan minimal 5 menit
5. Ajarkan cara sikat gigi dengan sikat gigi lembut, hindari penggunaan dental floss
6. Pasang pembatas tempat tidur
7. Cegah konstipasi dengan pemberian cairan minimal 3 L/hari


Monitor terjadinya perdarahan

1. Kaji tanda infeksi dini: petekie, ekimosis, epistaksis, darah di feses, urin, dan muntahan
2. Perubahan tekanan darah ortostatik >10 mmHg atau nadi >100/mnt
3. Monitor hematokrit & trombosit
4. Lapor dokter jika ada tanda perdarahan


Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko gangguan Perfusi Jaringan

1. Kaji tanda dan gejala anemia
2. Hematokrit: 31-37% (anemia ringan), 25-30% (anemia sedang), <25%>
3. Tanda anemia ringan: pucat, lemah, sesak ringan, palpitasi, berkeringat dingin; anemia sedang: meningkat tingkat keparahan tanda dari anemia ringan; tanda anemia berat: sakit kepala, pusing, nyeri dada, sesak saat istirahat, dan takikardi)
4. Anjurkan klien untuk merubah posisi secara bertahap, dari tidur ke duduk, dari duduk ke berdiri.
5. Anjurkan latihan nafas dalam selama perubahan posisi.
6. Kaji respon pemberian transfusi, menjadi lebih baik atau tetap.
7. Kaji pula perubahan hematokrit setelah transfusi
8. Kaji adanya ketidak mampuan melakukan aktifitas, dan kebutuhan klien akan Oksigen
9. Kolaborasikan ke gizi & anjurkan klien untuk mendapatkan diet tinggi Fe (zat besi)
10. Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Ketidakmampuan melakukan aktifitas akibat anemia
11. Anjurkan klien untuk meningkatkan frekuensi & kualitas istirahat & buatkan daftar aktifitas-istirahat
12. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi diet tinggi zat besi seperti hati, telur, daging, wortel dan kismis


Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Keseimbangan Cairan

1. Anjurkan klien untuk minum 3L/hari
2. Monitor intake-output tiap 4 jam
3. Kaji frekuensi, konsistensi & volume diare/muntah
4. Kaji turgor kulit, kelembaban mukosa
5. Beri obat antidiare/antimuntah sesuai program
6. Rawat area kulit perineum dengan salep betametasone atau Zinc
7. Beri cairan rehidrasi (cairan fisiologis) per-infus sesuai program

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Integritas Mukosa Mulut

1. Kaji & catat kondisi mukosa mulut (lidah, bibir, dinding & langit-langit mulut) & kaji adanya stomatitis tiap shift. Ajarkan pada klien cara mendeteksi dini adanya stomatitis
2. Kaji kenyamanan & kemampuan untuk makan & minum
3. Kaji status nutrisi klien
4. Anjurkan & ajarkan klien membersihkan mulut (kumur-kumur) tiap 2 jam
5. Gunakan cairan fisiologis, atau campuran cairan fisiologis dan BicNat (1 sdt dicampur 800 cc air) tiap 4 jam atau,
6. Gunakan larutan H2O2 dg perbandingan 1 : 4, atau
7. Obat kumur Listerine®
8. Anjurkan & ajarkan sikat gigi dan menggunakan dental floss, & tidak dilakukan jika leukosit <1500/mm3>
9. Anjurkan & jelaskan klien untuk melepas gigi palsu saat kumur-kumur & saat sedang iritasi mukosa
10. Anjurkan & ajarkan klien untuk melembabkan mulut dengan cara banyak minum dan menggunakan pelembab bibir
11. Hindarkan makanan yang merangsang (pedas, panas & asam) & jelaskan pada klien


Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Rasa Nyaman akibat Stomatitis

1. Berikan (kolaborasi) obat kumur yang mengandung xylocain 2% 10-15 cc per kumur dilakukan tiap 3 jam
2. Kolaborasikan perlunya pemberian analgesic sedang-kuat per parenteral (mis. Morphin)

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan komunikasi verbal akibat nyeri di mulut

1. Kaji kemampuan komunikasi klien
2. Kaji adanya sekret yang kental yang sulit untuk dikeluarkan, anjurkan minum hangat
3. Sediakan alat komunikasi yang lain seperti papan tulis atau buku jika klien tidak dapat berkomunikasi verbal
4. Responsif terhadap bel panggilan dari klien

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Integritas Kulit Perineum akibat diare

1. Kaji area kulit perineum
2. Anjurkan untuk membersihkan menggunakan sabun lembut saat membilas sesudah bab
3. Oleskan anastetik topikal K/P
4. Gunakan pampers untuk menjaga keringnya area perineum
5. Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Terjadi Nefrotoksik akibat Kemoterapi
6. Hidrasi dengan cairan fisiologis 100-150cc/jam atau sampai cairan urin bening
7. Diuresis dengan furosemid sesuai dg program
8. Ukur pH urin (pH > 7)
9. Cegah dehidrasi dan muntah yang masif
10. Hidrasi pasca kemoterapi minimal 3L/hari
11. Monitor hasil lab ureum, creatinin

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Gangguan Citra Diri akibat Alopesia

* Kaji resiko terjadi alopesia, obat kemoterapi yang digunakan
* Jelaskan penyebab dari alopesia dan dampak yang terjadi, yaitu alopesia terjadi sejenak, dapat tumbuh rambut yang baru
* Anjurkan klien menceritakan perasaannya
* Anjurakan klien mencukur rambutnya yang panjang
* Anjurkan klien mencoba memakai kerudung, wig, topi atau selendang
* Ikutkan klien pada kegiatan pasien alopesia di RS
* Ajarkan cara perawatan kulit kepala dengan menggunakan sampoo baby, “sun cream”, dll
* Jika terjadi kerontokan alis & bulu mata, gunakan kacamata hitam & topi jika bepergian

Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Disfungsi Seksual akibat Kemoterapi

1. Bina rasa saling percaya
2. Kaji pengetahuan klien tentang efek penyakit dan pengobatannya pa da fungsi seksual
3. Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk mendiskusikan masalah klien
4. Mendiskusikan strategi menghadapi disfungsi seksual
5. Alternatif pengekspresian seksual
6. Alternatif posisi yang meminimalkan nyeri
7. Melakukan aktifitas seksual saat kondisi tubuh fit
8. Membantu mengetahui perasaan seksual dirinya dan pasangannya
9. Penjelasan dampak kemoterapi pada fungsi seksual
10. Mendiskusikan alternatif pola dalam keluarga
11. Mengajak orangtua klien untuk merawat anaknya
12. Menganjurkan klien yang sulit punya anak untuk adopsi


Terapi Komplementer/Herbal dalam Intervensi Keperawatan Klien Kanker, Sebuah Tantangan

1. Kesempatan dalam mengembangkan kewenangan keperawatan
2. Digunakan pada stadium dini atau alternatif terapi medis
3. Umumnya belum melalui penelitian klinis pada pasien
4. Selalu berkolaborasi dengan dokter jika terjadi sesuatu kondisi diluar kemampuan perawat
5. Jika menjalani pengobatan dengan kemoterapi, ramuan diminum setelah dua minggu sejak kemoterapi dilakukan.
6. Bila dokter memberi obat, ramuan sebaiknya diminum dua jam sebelum atau setelah mengonsumsi obat dari dokter.
7. Jenis terapi komplementer/herbal sangat banyak, namun diuraikan hanya sebagian


Terapi Bawang Sabrang

1. Bawang sabrang (Eleutherine mericana Merr) kandungan: polifenol dan tanin
2. Cara: Anjurkan klien memakan umbi bawang sabrang tiga kali sehari, masing-masing dua umbi dengan cara dikunyah
3. Terapi tambahan: rebusan keladi tikus, kencur, mahkota dewa, pegagan, temu mangga, temuwalak, kumis kucing, sambiloto


Terapi Sambiloto

1. Nama: sambiloto adalah Andrographidis herba (herba sambiloto)
2. Kandungan kimianya andrografin, androfolit (zat pahit), dan panikulin
3. Khasiat: antibiotik, sangat membantu dalam menyembuhkan luka akibat kanker dan antitumor serta menghancurkan inti sel kanker
4. Sambiloto bisa dikeringkan dan disimpan. Pengeringan dan penyimpanan sebaiknya dilakukan sesudah tumbuhan itu berbunga.
5. Bahan: 30 gram daun sambiloto kering 30 gram meniran kering 30 gram akar alang alang kering
6. Cara Membuat:

o Semuanya dicuci bersih, lalu dipotong kecil-kecil.
o Rebus dalam 2,5 gelas air dalam keadaan ditutup hingga mendidih.
o Setelah itu baru diangkat, tetapi tutup jangan dibuka.
o Setelah dingin, disaring.
o Diminum 2 kali sehari 1 gelas hingga gejala penyakit yang dirasakan hilang.

Terapi Temulawak

1. Rimpang temulawak mengandung curcumin dan monodesmetoksi curcumin.
2. Kandungan curcumin dalam rimpang temulawak berkhasiat sebagai antioksidan, antinflamasi, dan antitumor.
3. Temulawak juga berkhasiat menghilangkan rasa nyeri dan sakit karena kanker.
4. Ekstrak temulawak sangat dianjurkan untuk dikonsumsi guna mencegah penyakit hati, termasuk hepatitis B yang menjadi salah satu faktor risiko timbulnya kanker hati.
5. Bahan: 10 gram rimpang temulawak 10 gram kunyit 10 gram daun sambiloto kering 10 gram rimpang temu mangga 10 gram ciplukan kering (seluruh bagian tanaman) 10 gram meniran (seluruh bagian tanaman)
6. Cara Membuat:

o Setelah dicuci bersih, rimpang temulawak, kunyit, temu putih, dan temu mangga diparut halus.
o Parutan tersebut dicampur dengan ciplukan, meniran, dan daun sambiloto, lalu direbus dengan 2 gelas air putih sampai tersisa sekitar 1,5 gelas.
o Setelah disaring, ramuan diminum 3 kali sehari masing-masing 1/2 gelas. Untuk mengurangi rasa pahit, tambahkan 1 sendok makan madu.

Terapi Lidah Buaya

1. Tumbuhan lidah buaya (Aloe vera Linn atau Aloe barbadensis)
2. Lidah buaya bersifat dingin dan berkhasiat sebagai penurun kadar gula, pengontrol tekanan darah, antibiotik, dan analgesik (pereda sakit). Zat aloin dalam lidah buaya berfungsi sebagai pencahar.
3. Pemakaian lidah buaya lebih ditekankan sebagai immunotherapy dengan menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan kanker dan ditunjang oleh khasiatnya sebagai antinflamasi (antiradang).
4. Fungsi anti radang ini berkaitan dengan senyawa polisakarida yang terkandung dalam gel daunnya. Sementara itu, daun lidah buaya memiliki khasiat sebagai antikanker dan antitumor.
5. Ramuan lidah buaya Bahan: Satu buah pelepah lidah buaya yang sudah tua berukuran sedang, dibuang durinya, tapi jangan buang kulitnya.
6. Cara Membuat:

* Potong-potong dan rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas.
* Air rebusan lidah buaya diminum 3 kali sehari.
* Setiap kali hendak minum, Anda harus membuat rebusan baru

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH