BARANGKALI ANDA MEMBUTUHKAN :

JIKA MERASA KURANG LENGKAP SILAHKAN CARI

Senin, 28 Maret 2011

HIV / AIDS

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah nama yang diberikan pada kondisi terakhir dari infeksi HIV (Human Immunodefiency Virus), kondisi dimana sistem kekebalan tubuh sangat lemah dan banyak mikroorganisme yang mendapat kesempatan untuk menginfeksi seseorang. Infeksi ini dikenal dengan ”infeksi oportunistik”. Pada tahun 2006, di seluruh dunia terdapat sekitar empat puluh juta orang yang hidup dengan HIV, yang setiap harinya jumlah tersebut terus mengalami peningkatan di berbagai wilayah dan dua puluh juta orang yang sudah meninggal dunia. Sedangkan di Indonesia, diperkirakan memiliki 90.000 - 130.000 orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (Tim Pembawa Pesan Kesehatan, 2009). Sampai saat ini, belum ditemukan vaksin atau obat untuk menyembuhkan penderita HIV atau AIDS sehingga bagi orang yang terkena AIDS tinggal menunggu kematian. Untuk itu, diperlukan metode perawatan terhadap penderita HIV dengan mengurangi produksi viral dan meningkatkan daya tahan tubuh yang diharapkan bisa memberikan harapan baru yaitu menunda berkembang menjadi AIDS. Metode perawatan yang sudah umum adalah Terapi antiretroviral sangat aktif (HAART). Terapi ini mengkombinasikan paling sedikit dua atau tiga jenis obat antiretroviral. Kombinasi yang umum digunakan terdiri dari dua nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) ditambah dengan protease inhibitor atau non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) (Bajaria, 2003). HAART tidak menyembuhkan tetapi hanya memperlambat berkembangnya virus HIV dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga mengurangi resiko untuk terjadi infeksi oportunistik. Terapi ini memiliki kelemahan yaitu membutuhkan waktu yang lama dan efek samping dari obat. Oleh karena itu perlu adanya kontrol yang optimal dari terapi ini.

B. Tujuan

Penulisan makalah ini dilakukan untuk memenuhi tujuan-tujuan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kita semua dalam menambah ilmu pengetahuan dan wawasan. Secara terperinci tujuan dari penelitian dan penulisan makalah ini adalah :

1. Mengetahui penyebab AIDS serta bahaya yang ditimbulkan.

2. Mengetahui cara pencegahan HIV / AIDS.

3. Mengetahui dan mengaplikasi asuhan keperawatan dengan HIV / AIDS

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep dasar penyakit

1. Pengertian

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.

a. Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan

b. Immune : Sistem kekebalan tubuh

c. Deficiency : Kekurangan

d. Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit

Kerusakan progresif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA ( orang dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.

a. AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir )

b. AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare )

c. AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center for Disease Control and Prevention )

2. Etiologi

AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV. Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T.

3. Patofisiologi

Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.

Virus HIV dengan suatu enzim, reverse transkriptase, yang akan melakukan pemograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA. DNA ini akan disatukan kedalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen. Enzim inilah yang membuat sel T4 helper tidak dapat mengenali virus HIV sebagai antigen. Sehingga keberadaan virus HIV didalam tubuh tidak dihancurkan oleh sel T4 helper. Kebalikannya, virus HIV yang menghancurkan sel T4 helper. Fungsi dari sel T4 helper adalah mengenali antigen yang asing, mengaktifkan limfosit B yang memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksit, memproduksi limfokin, dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi sel T4 helper terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan penyakit yang serius.

Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.

Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.

4. Klasifikasi

Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS.

a. Kategoro klinis A

Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C.

1) Infeksi HIV yang simtomatik

2) Limpadenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized limphadeno

3) Infeksi HIV primer akut dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.

b. Kategori klinis B

Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :

1) Angiomatosis Baksilaris

2) Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap terapi

3) Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )

4) Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan.

5) Leukoplakial yang berambut

6) Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu dermaton saraf.

7) Idiopatik Trombositopenik Purpura

8) Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii

c. Kategori klinis C

Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :

1) Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus

2) Kanker serviks inpasif

3) Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata

4) Kriptokokosis ekstrapulmoner

5) Kriptosporidosis internal kronis

6) Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe )

7) Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )

8) Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)

9) Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )

10) Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )

11) Isoproasis intestinal yang kronis

12) Sarkoma Kaposi

13) Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak

14) Kompleks mycobacterium avium ( Mekansasi yang diseminata / ekstrapulmoner

15) M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )

16) Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner

17) Pneumonia Pneumocystic Cranii

18) Pneumonia Rekuren

19) Leukoenselophaty multifokal progresiva

20) Septikemia salmonella yang rekuren

21) Toksoplamosis otak

22) Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV)

5. Tanda dan gejala

Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 – 2 minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral. Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal.

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.

a. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif.

b. Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.

6. Komplikasi

a. Oral Lesi

Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat.

b. Neurologik

1) kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.

2) Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.

3) Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.

4) Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)

c. Gastrointestinal

1) Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.

2) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.

3) Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.

d. Respirasi

Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.

e. Dermatologik

Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.

f. Sensorik

· Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan

· Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.

7. Penatalaksanaan

Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :

a. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi.

b. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi.

c. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.

d. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.

e. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.

Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka pengendaliannya yaitu :

a. Pengendalian Infeksi Opurtunistik

Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik,nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.

b. Terapi AZT (Azidotimidin)

Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3

c. Terapi Antiviral Baru

Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :

1) Didanosine

2) Ribavirin

3) Diedoxycytidine

4) Recombinant CD 4 dapat larut

5) Vaksin dan Rekonstruksi Virus

Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.

1) Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.

2) Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

B. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Riwayat Penyakit

Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :

1) Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )

Terapiradiasi, defisiensinutrisi, penuaan, aplasia, timik, limpoma, kortikosteroid, globulin anti limfosit, disfungsi timik congenital.

2) Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)

Limfositik, leukemia, kronis, mieloma, hipogamaglobulemia congenital, protein – liosing enteropati (peradangan usus)

b. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Subjektif)

1) Aktifitas / Istirahat

Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.

Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan )

2) Sirkulasi

Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.

Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.

3) Integritas dan Ego

Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari diagnosa, putus asa,dan sebagainya.

Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.

4) Eliminasi

Gejala : Diare intermitten, terus – menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi

Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan karakteristik urine.

5) Makanan / Cairan

Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia

Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema

6) Hygiene

Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS

Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.

7) Neurosensori

Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.

Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.

8) Nyeri / Kenyamanan

Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.

Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang.

9) Pernafasan

Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.

Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.

10) Keamanan

Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam.

Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.

11) Seksualitas

Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya libido,penggunaan pil pencegah kehamilan.
Tanda : Kehamilan,herpes genetalia

12) Interaksi Sosial

Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma AIDS

Tanda : Perubahan interaksi

13) Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi,penyalahgunaan obat-obatan IV,merokok,alkoholik.

c. Pemeriksaan Diagnostik

1) Tes Laboratorium

Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

· Serologis

· Tes antibody serum

· Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa

· Tes blot western

Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)

· Sel T limfosit: Penurunan jumlah total

· Sel T4 helper: Indikator system imun (jumlah <200>

· T8 ( sel supresor sitopatik )

Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.

· P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) )

Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi

· Kadar Ig

Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal

· Reaksi rantai polimerase :Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.

· Tes PHS :Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif

· pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur, bakteri, viral.

· Neurologis :EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf) Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru

2. Diagnosa keperawatan

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebih

2. Resiko terhadap infeksi b.d imunodefisiensi

3. Rencana asuhan keperawatan

Dx : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebih

Tujuan : mempertahankan hidrasi cairan yang dibuktikan oleh normalnya kadar elektrolit

Kriteria hasil : Terpenuhinya kebutuhan cairan secara adekuat dan Defekasi kembali normal, maksimal 2x sehari

Intervensi

Rasional

Mandiri

a. Kaji turgor kulit,membran mukosa, dan rasa haus

b. Pantau masukan oral dan memasukkan cairan sedikitnya 2500 ml/hari

c. Hilangkan makanan yang potensial menyebabkan diare, yakni yang pedas/ makanan berkadar lemak tinggi, kacang, kubis, susu.

d. Berikan makanan yang membuat pasien berselera.

Kolaborasi

a. Berikan obat-obatan sesuai indikasi : antiemetikum, antidiare atau antispasmodik.

b. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium.

c. Berikan cairan/elektrolit melalui selang makanan atau IV.

a. Indikator tidak langsung dari status cairan.

b. Mempertahankan keseimbangan cairan, mengurangi rasa haus, melembabkan mukosa.

c. Mungkin dapat mengurangi diare.

d. Meningkatkan asupan nutrisi secara adekuat.

a. Mengurangi insiden muntah, menurunkan jumlah keenceran feses mengurangi kejang usus dan peristaltik.

b. Mewaspadai adanya gangguan elektrolit dan menentukan kebutuhan elektrolit.

c. Diperlukan untuk mendukung volume sirkulasi, terutama jika pemasukan oral tidak adekuat.

Dx : Resiko infeksi b.d imunodefisiensi

Tujuan : Mengurangi resiko terjadinya infeksi dan Mempertahankan daya tahan tubuh

Kriteria hasil: Infeksi berkurang dan Daya tahan tubuh meningkat

Intervensi

Rasional

Mandiri

a. Pantau adanya infeksi : demam, mengigil, diaforesis, batuk, nafas pendek, nyeri oral atau nyeri menelan.

b. Ajarkan pasien atau pemberi perawatan tentang perlunya melaporkan kemungkinan infeksi.

c. Pantau jumlah sel darah putih dan diferensial

d. Pantau tanda-tanda vital termasuk suhu.

e. Awasi pembuangan jarum suntik dan mata pisau secara ketat dengan menggunakan wadah tersendiri.

Kolaborasi

a. Beriakan antibiotik atau agen antimikroba, misal : trimetroprim (bactrim atau septra), nistasin, pentamidin atau retrovir.

a. Deteksi dini terhadap infeksi penting untuk melakukan tindakan segera. Infeksi lama dan berulang memperberat kelemahan pasien.

b. Berikan deteksi dini terhadap infeksi.

c. Peningkatan SDP dikaitkan dengan infeksi

d. Memberikan informasi data dasar, peningkatan suhu secara berulang-ulang dari demam yang terjadi untuk menunjukkan bahwa tubuh bereaksi pada proses infeksi ang baru dimana obat tidak lagi dapat secara efektif mengontrol infeksi yang tidak dapat disembuhkan.

e. Mencegah inokulasi yang tak disengaja dari pemberi perawatan.

a. Menghambat proses infeksi. Beberapa obat-obatan ditargetkan untuk organisme tertentu, obat-obatan lainya ditargetkan untuk meningkatkan fungsi imun

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Generasi muda adalah generasi yang baru saja menginjakkan kakinya di dunia dewasa. Pada umumnya mereka masih mencari jati diri sebagai manusia yang ingin dianggap dewasa. Sehingga setiap langkah yang diambil pada umumnya cenderung mencoba – coba karena sifat keingintahuan manusia terhadap hal – hal yang dianggap baru. Jika ternyata langkah yang mereka ambil salah tentunya akan berakibat sangat fatal. Hal-hal tersebut adalah masa-masa rawan yang merupakan langkah awal yang sangat harus diwaspadai oleh generasi muda. Generasi muda juga sangat mudah terbujuk oleh hasutan orang-orang di sekitarnya. Selain itu generasi muda adalah masa di mana persahabatan adalah segalanya, dan melakukan sesuatu bersama, jadi apabila salah satu dari mereka ada yang memakai narkoba maka teman lainnya akan penasaran dan akhirnya mereka mencoba juga. Dimana narkoba sangatlah dekat kaitanya dengan miras, rokok, dan seks bebas yang menyebabkan HIV/AIDS .Pada umumnya pengguna narkoba dengan jarum suntik adalah jenis ketergantungan yang paling banyak digunakan oleh kaum muda dan cara ini pulalah yang paling rentan terhadap penularan virus HIV/AIDS, sehingga banyak tunas – tunas bangsa yang layu sebelum berkembang dan akhirnya memudarkan harapan untuk menjadi penerus bangsa.

B. Saran

Seperti yang telah penulis uraikan pada bab sebelumnya bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang berbahaya karena virus tersebut menyerang sistim kekebalan tubuh kita dalam melawan segala penyakit. Untuk menghindari hal tersebut dapat penulis sarankan hal – hal sebagai berikut :

1. Bagi yang belum terinfeksi virus HIV/AIDS sebaiknya :

a. Belajar agar dapat mengendalikan diri

b. Memiliki prinsip hidup yang kuat untuk berkata “TIDAK” terhadap segala jenis yang

mengarah kepada narkoba dan psikotropika lainnya

c. Membentengi diri dengan agama

d. Menjaga keharmonisan keluarga karena pergaulan bebas sering kali menjadi pelarian

bagi anak – anak yang depresi.

2. Bagi penderita HIV/AIDS sebaiknya :

a. Memberdayakan diri terhadap HIV/AIDS

b. Mencoba untuk hidup lebih lama

c. Mau berbaur dengan orang disekitarnya/lingkungan

d. Tabah dan terus berdoa untuk memohon kesembuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH

kemanGi

kemanGi
teRhalNg

Sahabat Blog