iklan

loading...

Sunday, February 13, 2011

HERNIA

HERNIA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Di negara berkembang seperti di Indonesia ini banyak sekali kasus hernia, yang salah satunya disebabkan karena pola hidup seseorang. Diantaranya karena pola buang air besar yang kurang teratur, sering mengejan pada saat buang air besar, pola makan yang kurang berserat, serta para pekerja yang dituntut untuk mengangkat benda berat sehingga meningkatkan tekanan pada intraabdomen.

Hernia dapat dijumpai pada semua usia, lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita. Karena pekerjaan yang dilakukan pria lebih berat dari pada wanita. Umumnya penderita dan masyarakat mengatakan bahwa penyakit hernia adalah penyakit turun berok, kelingsir, serta adanya benjolan di daerah selangkangan atau kemaluan dan sebagian besar penderita dan masyarakat tidak segera melakukan pengobatan seperti operasi.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Medical Record Rumah sakit Umum Daerah Karawang, angka penderita yang mengalami penyakit hernia dari bulan Januari sampai dengan Juli 2010 berjumlah 263 orang atau 26.04 % dari 1010 klien yang mengalami gangguan system pencernaan. Dilihat dalam jumlah prosentase angka ini cukup besar, jika dibandingakan dengan prosentase penyakit Thypoid berjumlah 496 orang atau 49.11 % Dengan angka yang cukup besar hernia harus mendapatkan perhatian dan penanganan segera jika tidak, akan menimbulkan gejala ileus, yaitu perut kembung, muntah, dan obstipasi., pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi benjolan organ atau struktur di dalam hernia dan transudasi ke dalam kantung hernia timbulnya benjolan menyebabkan jepitan pada cincin makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah kejaringan terganggu, dampak yang berat yaitu jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia.
Dalam hal ini perawat memiliki peranan yang sangat penting untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satunya dengan melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif yang mencakup upaya meningkatkan pengetahuan klien serta pengobatan yang di berikan, dengan cara pencegahan dan pemulihan pada klien dengan post herniotomy serta memberikan pendidikan kesehatan perawatan post operasi untuk mencegah kambuhnya hernia.














BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar.
1. Definisi Hernia
Hernia merupakan kelemahan atau defek di dinding rongga peritoneum dapat menyebabkan peritoneum menonjol membentuk kantung yang di lapisi oleh serosa dan disebut kantung hernia (Robbins & Cotran : 2010 )

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan
(R. Sjamsuhidayat & Wim de Jong : 2005)

Hernia inguinalis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis internus yang terletak disebelah lateral vasa epigastrika inferior, menyusuri kanalis inguinalis dan keluar ke rongga perut melalui anulus inguinalis eksternus (Arif Mansjoer : 2000)

Dari ketiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa hernia adalah penonjolan isi suatu organ seperti peritoneum, lemak, usus dan kandung kemih melalui bagian yang lemah dari dinding abdomen sehingga menimbulkan kantung berisikan material abnormal dengan penyebab congenital ataupun yang didapat



Jenis2 Hernia
Hernia Inguinalis
Meskipun lebih sering di temukan pada laki-laki, hernia ini juga berpotensi menyerang wanita. Hernia ini akan mengembangkan dan membuka celah di dinding otot perut bagian bawah atau selangkangan, di wilayah Mycopectineal Orifice. Akibatnya isi perut seperti usus, dapat menonjol melalui celah dan menyebabkan rasa sakit. Hernia inguinalis terletak di perut bagia bawah (sisi kanan, kiri atau keduanya), tepat diatas lipatan kaki, berdekatan dengan daerah kemaluan.
Hernia Umbilikalis
Juga dikenal dengan “Paraumbilical hernia”. Hernia jenis ini terjadi di dalam dan sekitar kawasan umbilicus (pusar). Tanda-tandanya adalah rasa sakit pada atau dekat dengan daerah pusar. Walaupun lebih sering muncul pada saat atau sesudah lahiran, hernia ini juga dapat terjadi setiap saat. Pada bayi, hernia ini secara bertahap terjadi pada umur 3 atau 4 tahun.
Hernia Epigastrika
Hernia yang berkembang di daerah pertengahan perut atas, sepanjang garis yang ditarik dari titik tulang dada ke umbilicus. Hernia ini biasanya berukuran kecil dan terlokalisasi. Hernia ini lebih sering menyebabkan rasa sakit dibanding lainnya.
Hernia Insisional atau Ventral
Dapat terjadi di daerah manapun sebelum insisi bedah dan ukurannya bervariasi dari yang kecil, yang sangat besar dan kompleks. Hernia ini terjadi sebagai akibat gangguan di sepanjang atau sekitar area dinding abdomen yang dijahit. Hernia ini hadir sebagai tonjolan di dekat daerah bekas luka sayatan. Hampir semua operasi perut dapat menyebabkan hernia insisional. Hernia di daerah ini mudah sekali kambuh jika tidak ditangani dengan benar. Perbaikan yang biasa dilakukan adalah menggunakan mesh Hernia.
Hernia Femoral
Seperti hernia inguinalis, hernia femoral berkembang di daerah pangkal paha. Bedanya, hernia jenis ini lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan pada laki-laki. Hal ini sangat berkaitan dengan bentuk panggul wanita yang lebih besar disbanding laki-laki. Hernia femoral juga berkembang pada lipatan kaki, tetapi di daerah yang agak rendah dari pada hernia inguinalis. Kenyataannya, sangat sulit membedakan kedua hernia tersebut secara klinis. Seringkali hernia femoral terjadi secara simultan dengan hernia inguinalis. Hal ini sangat rentan menjadi komplikasi sumbatan dan pencekikan. Oleh karena itu, penanganan sesegera mungkin sangat disarankan sebelum komplikasi tersebut terjadi.

JENIS HERNIA
1. Hernia reponible tanda dan gejalanya:
#Pasien merasa tidak enak di tempat penonjolan
#Ada penonjolan di salah satu lokasi abdomen misalnya inguinal, femoralis dan lain-lain. Benjolan timbul saat mengejan BAB, mengangkat beban berat ataupun saat aktivitas berat dan hilang pada waktu istirahat baring.
#Kadang-kadang perut kembung.
#Apabila terjadi perlengketan pada kantung hernia dan isi hernia maka tidak dapat dimasukkan lagi (ireponibel)
2. Hernia inkar serata, tanda dan gejalanya :
#Adanya gambaran obstruksi usus dimana pasien mengalami obstipasi, muntah, tidak flatus, perut kembung dan dehidrasi #Terjadinya ganguan cairan elektrolit dan asam basa.


Hernia Inguinalis Hernia Umbilikalis

2. Etiologi
Factor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hernia inguinalis adalah :
a. Keadaan yang dapat menyebabkan tekanan intraabdominal di anatranya ; kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan pada saat defekasi, dan mengejan pada saat miksi, hipertropi prostat
b. Adanya prosesus vaginalis yang terbuka.
c. Kelemahan otot dinding perut.
d. Anulus internus yang cukup leba
2. Patofisiologi
Hernia inguinalis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis internus yang terletak di sebalah lateral vasa epigastrika inferior, menyusuri kanalis inguinalis dan keluar ke rongga perut malalui anulus inguinalis eksternus.
Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8 kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis tersebut akan menarik peritoneum ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei.
Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanal tersubut. Namun dalam beberapa hal,seringkali kanalis ini tidak menutup karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka. bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka.
Dalam keadaan normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis lateral kongenital.



Gamabr 2.1
Skema Patifisiologi Hernia Ingunalis

Locus minoris resistensie kanalis ingunalis
Tekanan intra abdomen meningkat terjadi desensus testis
Kanal terbuka menarik peritoneum ke
Daerah skrotum
Hernia inguinalis akuisita penonjolan peritoneum
Isi perut tidak masuk melalui
kanal
Testis kiri turun
Testis kanan terbuka


Prosesus tidak mengalami obliterasi
Hernia ingunalis kongenital


(Sumber : Mansjoer Arif. 2000)
4. Klasifikasi
Hernia terbagi menjadi 2 kategori, yaitu hernia menurut letaknya dan hernia menurut sifat atau tingkatanya.
Adapun hernia menurut letaknya adaalah :
a. Hernia Inguinalis Lateralis (indirek)
Hernia ini terjadi melalui anulus inguinalis internus yang terletak di sebelah lateral vasa epigastrika inferior,menyusuri kanalis inguinalis dan keluar kerongga perut melalui anulus inguinalis eksternus. Hernia ini lebih tinggi pada bayi & anak kecil
b. Hernia Inguinalis Medialis (direk)
Hernia ini terjadi melalui dinding inguinal posteromedial dari vasa epigastrika inferior di daerah yang dibatasi segitiga Haselbach.
c. Hernia femoralis
Terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum terjadi pada wanita dibanding pria. Hernia ini mulai sebagai penyumbat dikanalis femoralis yang membesar secara bertahap menarik peritonium dan akibatnya kandung kemih masuk ke dalam kantung.
d. Hernia umbilikalis
Batang usus melewati cincin umbilical. sebagian besar merupakan kelainan yang didapat. Hernia umbilikalis sering terjadi pada wanita dan pada pasien yang memliki keadaan peningkatan tekanan intra abdomen, seperti kehamilan, obesitas, asites, atau distensi abdomen. Tipe hernia ini terjadi pada insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat karena masalah pasca operasi seperti infeksi dan nutrisi yang tidak adekuat.
e. Hernia skrotalis
Merupakan hernia inguinalis lateral yang mencapai skrotum.
Menurut sifat atau tingkatannya :
a. Hernia reponibel.
Pada hernia ini isi hernia dapat keluar masuk. Usus akan keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau di dorong masuk. Pada hernia reponibel ini penderita tidak mengeluh nyeri dan tidak ada gejala obstruksi usus.
b. Hernia ireponibel.
Merupakan kebalikan dari hernia reponibel ( hernia tidak masuk kembali ) biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantung pada peritoneum.
c. Hernia inkaserata.
Pada hernia ini isi perut atau usus yang masuk kedalam kantung hernia tidak dapat kembali disertai dengan gangguan aliran khusus. Gambaran klinis obstruksi usus dengan gambaran keseimbangan cairan elektrolit dan asam basa. Keadaan ini hernia bisa terjepit oleh cincin hernia. Sehingga isi kantung bisa terperangkap dan tidak dapat kembali ke rongga perut, akibatnya terjadi gangguan passase dan hernia ini lebih dimaksudkan hernia irreponibel.

d. Hernia strangulata
Pada hernia ini pembuluh darah yang mempengaruhi usus yang masuk ke dalam kantung hernia terjepit sehingga usus kehilangan system perdarahannya sehingga mengakibatkan nekrosis pada usus. Pada pemeriksaan lokal usus tidak dapat dimasukan kembali di sertai adanya nyeri tekan.

5. Manifestasi klinik
Pada pasien terlihat adanya masa bundar pada anulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia jarang sekali menjadi ireponibilis.
Hernia ini disebut direkta karena langsung menuju anulus inguinalis eksterna sehingga meskipun anulus inguinalis interna di tekan bila pasien berdiri atau mengejan, tetap akan timbul bejolan. Bila hernia ini sampai skrotum, maka hanya akan sampai kebagian atas skrotum, sedangkan testis dan funikulus spermatikus dapat dipisahkan dari masa hernia.
Bila jari di masukan dalam anulus inguinalis eksterna, tidak akan di temukan dinding belakang. Bila pasien di suruh mengejan tidak akan terasa tekanan dan ujung jari dengan mudah meraba ligamentum Cowperi pada ramus superior tulang pubis. Pada pasien kadang-kadang di temukan gejala mudah kencing karena buli-buli ikut membentuk dinding medial hernia.

6. Komplikasi
a. Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat di masukan kembali. Keadan ini disebut hernia inguinalis ireponiblis. pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus. Isi hernia yang tersering menyebabkan keadaan ireponible adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia dan isisnya dapat menjadi besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih sering menyebabkan ireponibilis dari pada usu halus
.
b. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat makin banyaknya usus yang masuk keadaan ini menyebabkan gangguan aliran isi usus diikuti dengan gangguan vaskuler (proses strangulasi). Keadaan ini disebut hernia inguinalis strangulata
pada keadaan strangulata akan timbul gejala ileus, yaitu perut kembung, muntah dan obstipasi. Pada strangulasi nyeri yang timbul akan lebih hebat dan kontinyu, daerah benjolan menjadi merah, dan pasien menjadi gelisah.





a. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada hernia dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu konservatif dan pembedahan.
a) Konservatif
Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset. Tapi untuk hernia inguinalis pamakaian korset tidak dianjurkan karena alat ini dapat melemahkan
otot dinding perut. Pada terapi konservatif dapat pula di berikan obat anti analgetik yaitu mengurangi nyeri.
b) Pembedahan
Prinsip dasar hernia terdiri dari herniotomy ( memotong hernia ) dan menjepit kantung hernia ( herniorafi ). Pada bedah elektif, kanalis dibuka, isi hernia dimasukan, kantong diikat, dan dilakukan bassiny plasty untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Pasien yang telah dilakukan tindakan pembedahan disarankan untuk tidak boleh mengendarai kendaran, aktifitas dibatasi, seperti tidak boleh mengangkat benda berat, mendorong atau menarik benda paling sedikit 6 minggu.





b. Proses penyembuhan luka
Proses fisiologi penyembuhan luka dapat dibagi kedalam 4 fase utama
a) Respon inflamasi akut terhadap cedera
Pada fase ini mencakup hemotasis pelepasan histamine dan mediator lain dari sel – sel yang rusak dan migrasi sel darah putih ( leukosit polimorfokuler dan makrofage ) ke tempat yang rusak tersebut. Hemostasis ini terjadi vasokontriksi sementara dari pembuluh darah yang rusak terjadi pada saat sumbatan trombosit dibentuk dan diperkuat juga oleh serabut fibrin untuk membentuk sebuah bekuan. Respon dari jaringan yang rusak dan sel mast melepaskan histamine dan mediator lain, sehingga menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah sekeliling masih utuh serta meningkatnya penyediaan darah ke daerah tersebut, sehingga menjadi merah dan hangat. Permeabilitas kapiler – kapiler darah meningkat dan cairan yang kaya akan protein mengalir kedalam spasium intertisiel, menyebabakan edema lokal dan mungkin hilangnya fungsi diatas sendi tersebut. Leukosit polimorfokuler ( folimorf ) dan makrofag mengadakan migrasi keluar kapiler dan masuk kedalam daerah yang rusak sebagai reaksi terhadap agens kemostatik yang dipacu oleh adanya cedera. Fase ini terjadi selama kurang lebih 0 – 3 hari. Fase ini merupakan bagian dari esensial dari proses penyembuhan dan tidak ada upaya yang dapat menghentikan proses ini, kecuali jika proses ini terjadi pada complement tertutup dimana struktur – struktur penting mungkin tertekan ( missal luka bakar pada leher ). Meski demikian, jika hal tersebut diperpanjang oleh adanya jaringan yang mengalami devitalisasi secara terus – menerus, adanya benda asing, pengelupasan jaringan yang luas, trauma kekambuhan oleh penggunaan yang tidak bijaksana preparat topical oleh luka. Seperti antiseptic, antibiotic, atau krim asam, sehingga penyembuhan diperlambat dan kekuatan regangan luka menjadi tetap rendah
b) Fase destruktif
Fase ini terjadi pembersihan jaringan yang mati dan yang mengalami devitalisasi oleh leukosit polimorfokuler dan makrofage. Polimorf menelan dan menghancurkan bakteri. Tingkat aktifitas polimorf yang hidupnya singkat saja dan penyembuhan dapat berjalan terus tanpa keberadaan sel tersebut. Meski demikian, penyembuhan berhenti bila makrofag mengalami deaktivasi. Sel – sel tersebut tidak hanya mampu menghancurkan bakteri dan mengeluarkan jaringan yang mengalami devitalisasi serta fibrin yang berlebihan, tetapi juga mampu merangsang pembekuan fibroblast, yang melakukan sintesa struktur protein kolagen yang dapat merangsang angiogenesis ( fase III ). Fase ini terjadi selama ± 1 sampai 6 hari.
c) Fase proliferasi
Fase proliferasi yaitu pada saat pembuluh darah baru, yang diperkuat oleh jaringan ikat, menginfiltrasi luka. Fibroblast meletakan substansi dasar dan serabut – serabut kolagen serta pembuluh darah baru mulai menginfiltrasi luka . Begitu kolagen diletakan, maka peningkatan yang cepat pada kekuatan regangan luka . Kapiler – kapiler dibentuk oleh tunas endothelial, suatu proses disebut angiogenesis . Bekuan fibrin yang dihasilkan pada fase I dikeluarkan begitu kapiler baru menyediakan enzim yang diperlukan . Tanda – tanda inflamasi mulai berkurang Jaringan yang dibentuk dari kapiler baru, yang menopang kolagen dan substansi dasar disebut jaringan granulasi karena penampakannya yang granuler. Warna merah terang. Fase ini terjadi selama kurang lebih 3 sampai 24 hari. Vitamin C yang penting selama sintesis kolagen berhenti. Faktor sistemik lain yang dapat memperlambat penyembuhan pada stadium ini termasuk defisiensi besi, hipoproteinemia, serta hipoksia. Fase proliferasi terus berlangsung secara lebih lambat seiring dengan bertambahnya usia.
d) Fase maturasi
Fase ini mencakup re-epitelisasi, kontrasi luka dan reorganisasi jaringan luka. Dalam setiap cedera yang mengakibatkan hilangnya kulit, sel epitel pada pinggir luka dan dari sisa – sisa polikel rambut, serta glandula sebasea dan glandula sudorifera, membelah dan mulai berimigrasi diatas jaringan granulasi baru. Karena jaringan tersebut hanya dapat bergerak diatas jaringan yang hidup, maka mereka lewat dibawah dermis yang mengering. Luka masih rentan terhadap trauma mekanis ( hanya 50 % kekuatan regangan normal kulit diperoleh kembali dari 3 bulan pertama ). Epitelisasi terjadi sampai 3 kali lebih cepat dilingkungan yang lembab ( dibawah balutan oklusi atau balutan semifermiabel ) dari pada lingkungan yang kering. Kontraksi luka biasanya merupakan suatu fenomena yang sangat membantu, yakni menurunkan daerah permukaan luka dan meninggalkan jaringan parut yang relative lebih kecil, tetapi kontraksi berlanjut dengan buruk pada daerah tertentu, seperti diatas tibia dan dapat menyebabkan distorsi penampilan pada cedera wajah, kadang – kadang jaringan fibrosa pada dermis menjadi sangat hipertrofi, kelemahan dan menonjol, yang pada kasus ekstrim menyebabkan jaringan parut keloid tidak sedap dipandang.

7. Tinjauan Teoritis Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Post Herniotomy.
1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan dan keperawatan
Riwayat kesehatan dan keperawatan digunakan untuk mengumpulkan data tentang kebiasaan – kebiasaan pasien yang mencerminkan kebiasaan sehari – hari.
b. Riwayat sosial
Perawat dapat mengumpulkan data tentang cara hidup pasien, latar belakang pendidikan, sumber – sumber ekonomi, agama, kebudayaan dan etnik pada pasien hernia.

c. Riwayat psikologis
Informasi tentang status psikologis penting untuk mengembangkan rencana asuhan konprehensif. Perawat dapat mengidentifikasi stress maupun sumber – sumber mengatasi stress ( koping ) untuk mengatasi penyakit dan perubahan yang ada.
d. Aktifitas / istirahat
Gejala Riwayat pekerjaan yang perlu dikaji. Jangan mengangkat benda berat, duduk, mengemudi dalam waktu lama.
Tanda Atrofi otot pada bagian yang terkena, gangguan dalam berjalan dan keterbatasan dalam mobilisasi.
e. Eliminasi
Gejala Konstifasi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya inkontinensia / retensi urine.

f. Integritas ego
Gejala Ketakutan dalam timbulnya paralysis, ansietas masalah pekerjaan dan financial keluarga.
Tanda Tanda cemas, depresi, menghindar dari keluarga / orang terdekat.
g. Neurosensori
Gejala Kesemutan, kelemahan dari tangan dan kaki.
Tanda Penurunan refleks tendon dan kelemahan otot, adanya persepsi nyeri.
h. Kenyaman / nyeri
Gejala Nyeri seperti ditusuk pisau, akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, depekasi, nyeri yang tidak ada hentinya secara intermiten, nyeri dapat menjalar, ke kaki, lengan, bokong dan kaku pada leher, keterbatasan mobilisasi.
Tanda dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang terkena, perubahan cara berjalan berbeda seperti biasanya, pinggang terangkat pada bagian tubuh yang terkena, nyeri pada daerah luka operasi.
i. Keamanan
Pada luka operasi akan ditemukan adanya tanda nyeri, kemerahan, bengkak, demam dan penurunan fungsi.
j. Penyuluhan / pembelajaran
Gejala Gaya hidup monoton dan hiperaktif
Rencana pemulangan Memerlukan perawatan luka
Pertimbangan Lama perawawtan 7– 14 hari

2. Diagnosa keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka post operasi.
Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri teratasi.

Kriteria hasil Klien mengatakan nyeri hilang atau berkurang,
Tanda – tanda vital dalam batas normal
Wajah klien rileks.
Rencana tindakan :
1) Observasi tanda – tanda vital.
2) Kaji skala nyeri, lokasi, lamanya faktor yang memperberat karaktersitik.
3) Ajarkan tehnik relaksasi napas dalam, dan distraksi pengalihan seperti mengobrol, mendengarkan musik dan membaca buku.
4) Berikan posisi yang nyaman (semifowler)
5) Kolaborsi pemberian obat analgetik.
b. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya luka post operasi.
Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan resiko tinggi infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil Luka kering, tidak ada pus.
Tidak ada kemerahan.
Tidak ada bengkak.
Kerapatan luka tampak bagus.
Rencana tindakan :
1) Observasi tanda – tanda infeksi ( tumor, rubor, dolor, kalor, fungsiolesa ).
2) Observasi tanda – tanda vital, perhatikan adanya peningkatan suhu tubuh.
3) Lakukan ganti balutan tiap hari.
4) Pertahankan perawatan luka dengan tehnik steril, aseptik dan antiseptik.
5) Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai indikasi
6) Monitor leukosits..
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari terpenuhi.
Kriteria hasil klien dapat melakukan perawatan secara mandiri.
Rencana tindakan :
1) Kaji tingkat pengetahuan klien tentang pentingnya perawatan diri bagi klien.
2) Motivasi klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri sesuai kemampuan.
3) Motivasi keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari klienseperti menggosok gigi, makan, minum.
4) Fasilitasi klien untuk melakukan kebersihan diri.
5) Ajarkan klien untuk melakukan pergerakan secara bertahap

d. Resiko kekambuhan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan hernia pasca operasi.
Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dan keluarga mengerti tentang hal – hal yang harus dihindari untuk mencegah timbulnya hernia.
Kriteria hasil Secara verbal klien mengerti perawatan selanjutnya antara lain dalam hal mencegah terulangnya penyakit henia.
Rencana tindakan :
1) Mengkaji pengetahuan klien tentang penyakit dan hal-hal yang harus di perhatikan agar tidak terjadi kekambuhan.
2) Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuan yang dapat di toleransi.
3) Anjurkan klien untuk makan tinggi serat.
4) Jelaskan tentang keseimbangan istirahat dan aktifits.
5) Anjurkan klien untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat.
6) Memberikan pendidikan kesehatan pada klien tentang cara perawatan luka di rumah.


































II. RENCANA KEPERAWATAN

Tabel 3.2
Post Operasi Herniatomy Atas Indikasi Hernia Inguinalis Lateral Dextra Reponible.
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Rencana Tindakan Rasional
1.


























2.


























3.


































4.















































Ganguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya luka post operasi.





















Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan adanya luka post operasi






















Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik




























Resiko tinggi kekambuahan berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakit dan cara pengobatannya














Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24 jam rasa nyaman terpenuhi dengan kriteria:
- Nyeri berkurang
- Sekala 1-2
- Ekspresi wajah rileks
- TTV dalam batas normal
- TD =120/80 mmHg
- N = 96 x/menit
- RR = 20 x/menit
- S = 36,55oC












Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam infeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil:
- Luka kering
- Tidakada kemerahan
- Tidak ada nanah/pus
- Kerapatan jaringan baik
- Suhu dalam batas normal (36oC-37oC)
- Leukosit dalam batas normal (5000-10000/ul)












Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam, gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dapat teratasi, dengan kriteria hasil:
- Klien tidak lemah
- Kuku tangan dan kaki bersih dan pendek
- Gigi bersih
- Klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan



















Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 1x30 menit, pengetahuan klien dan keluarga dapat bertambah, dengan kriteria hasil:
- klien dan keluarga mampu menjelaskan tentang pengertian hernia
.
- Klien dan kelurga dapat menyebutkan penyebab dan akibat dari hernia
- Klien dan keluarga dapat menjelaskan aktivitas yang dapat mempengaruhi terulangnya penyakit hernia.



1.1 Kaji lokasi dan kualitas nyeri (0-10)

1.2 Ukur TTV dan amati respon nonverbal


1.3 Ajarkan relaksasi nafas dalam dan distraksi (pengalihan: ngobrol, dll)


1.4 Berikan posisi yang nyaman (semifowler)



1.5 Kolaborasi dalam pemberian analgetik.

2.1 Kaji daerah luka terhadap adanya tanda-tanda infeksi.

2.2 Ukur tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu tubuh.

2.3 Ganti balutan dengan memperhatikan tehnik aseptik dan antiseptik/steril



2.4 Kolaborasi dalam Pemberian antibiotik.

2.5 Monitor Leukosit.



3.1 Kaji kemampuan untuk pemenuhan aktivitas klien.


3.2 Ajarkan klienuntuk melakukan pergerakkan secara bertahap.

3.3 Motivasi klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri sesuai kemampuan

3.4 Fasilitas iklien dengan peralatan menggosok gigi (sikat gigi, dan gunting kuku)


3.5 Motivasi keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari klien seperti menggosok gigi, makan, minum.


4.1Mengkaji pengetahuan klien tentang penyakit dan hal – hal yang harus diperhatikan agar tidak terjadi kekambuhan





4.2 Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuan yang dapat ditoleransi


4.3 Anjurkan klien untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat.

4.4 Anjurkan klien untuk makan tinggi serat.

4.5 Berikan pendidikan kesehatan tentang cara mencegah kambuhnya hernia

4.6 Memberikan
Pendidikan kesehatan tentang cara perawatan luka di rumah.



Mengetahui kedalaman intensitas nyeri.


Mengetahui perubahan yang ditimbulkan akibat nyeri terhadap TTV.

Mengurangi nyeri dan meningkatkan rasa nyaman.





Menghindari penekanan pada daerah yang sakit dan dapat meningkatkan kenyamanan

Dapat mengurangi nyeri atau rangsang pada serabut saraf nyeri.

Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan.


Peningkatan suhu tubuh menandakan terjadinya infeksi karena infiltrasi leukosit ke daerah luka.

Melindungi klien dari kontaminasi silang selama pergantian balutan. Balutan basah bertindak sebagai sumbu retrograd menyerap kontaminan eksternal.
Untuk mengurangi infeksi akibat mikroorganisme.


Peningkatan leukosit menunjukan adanya infeksi

Pengkajian di tujukan untuk membantu mengidentifikasi
pemberian tindakan yang tepat dan efektif.

Untuk mencegah terjadinya atrofi otot



Meningkatkan semangat klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari.



Memberikan motivasi pada klien untuk menggosok gigi setiap hari dan meningkatkan kebersihan diri serta rasa nyaman klien.

Meningkatkan
semangat klien untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari.






Mengkaji kebutuhan klien akan informasi mengenai penyakit hernia.








Pengkajian di tujukan untuk membantu mengidentifikasi aktifitas klien yang dapat berdampak pada kekambuhan

Aktivitas yang berlebihan dapat menyebabkab kekambuhan


Menghindari terjadinya konstipasi pada klien.


Memberikan informasi yang adekuat sehingga pengetahuan keluarga bertambah untuk mencegah terjadinya kekambuhan / hernia berulang.

Klien kooperatip dengan pejelasan perawat

No comments:

Post a Comment

Mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kemajuan blog ini. TERIMAKASIH